51动漫

51动漫 Official Website

Syok Kardiogenik pada Infark Miokardium dengan Miokarditis: Peran Parameter Ekokardiografi Lanjutan

Dalam konteks gawat darurat, dapat dipertimbangkan kemungkinan sindrom koroner akut ketika ada bukti kerusakan miokardium yang disertai dengan nyeri dada tipikal. Jika penyakit arteri koroner subepikardial sudah dikesampingkan, sangat penting untuk mengeksplorasi faktor-faktor alternatif yang berkontribusi pada infark miokardium dengan arteri koroner nonobstruktif (MINOCA). Adanya miokarditis dengan presentasi klinis menyerupai infark dapat dianggap sebagai diagnosis banding potensial untuk MINOCA. Miokarditis sebelumnya telah diidentifikasi pada 34.5% pasien yang awalnya didiagnosis keliru dengan MINOCA.

Gejala serangan jantung pada individu muda dengan gambaran angiogram koroner non-obstruktif dapat dicurigai sebagai miokarditis. Pengenalan dini miokarditis yang dicurigai secara klinis memerlukan setidaknya satu dari presentasi klinis berikut dan setidaknya satu kriteria diagnostik; sedangkan pasien yang tidak menunjukkan gejala memerlukan setidaknya dua kriteria diagnostik. Presentasi klinis miokarditis meliputi nyeri dada, gagal jantung yang baru muncul atau memburuk, palpitasi, sinus takikardi tanpa penyebab yang jelas, sesak, dan syok kardiogenik yang tidak dapat dijelaskan.

Kriteria diagnostik terkait miokarditis, meliputi (1) Fitur EKG/Holter: blok atrioventrikular yang baru muncul, perubahan segmen ST/ gelombang T yang baru muncul, aritmia supraventrikel atau ventrikel, blok cabang bundel yang baru muncul; (2) Troponin T atau troponin I yang meningkat; (3) Abnormalitas fungsional dan struktural pada pencitraan jantung: kelainan fungsi ventrikel kiri dan/atau ventrikel kanan, ditunjukkan oleh kelainan gerakan dinding regional, disfungsi sistolik atau diastolik global; dan (4) Gambaran jaringan khas miokarditis pada pemeriksaan resonansi magnetik jantung (CMR).

Biopsi endomiokardium (EMB) tetap menjadi standar emas untuk mendiagnosis miokarditis, tetapi prosedur invasif ini dapat meningkatkan komplikasi pada perawatan fase akut. CMR masih menjadi modalitas non-invasif yang paling akurat, tetapi ketersediaannya masih terbatas. Ekokardiografi dua dimensi (2D) konvensional dapat memainkan peran penting dalam mengidentifikasi miokarditis. Namun, perannya terbatas dalam mengevaluasi kinerja ventrikel kiri pada miokarditis dengan fraksi ejeksi normal.

Parameter ekokardiografi lanjutan, Speckle tracking echocardiography (STE), dapat mengevaluasi fungsi global dan regional ventrikel kiri. Parameter global longitudinal strain (GLS) ventrikel kiri dapat menjadi parameter sensitif untuk mendeteksi kelainan miokardial pada miokarditis akut dengan fraksi ejeksi normal atau subnormal. Parameter STE awal saat masuk rumah sakit dapat membantu dalam memetakan risiko; oleh karena itu, pasien dengan risiko tinggi miokarditis dapat diberikan perawatan kardioprotektif yang lebih agresif.

Miokarditis secara dominan melibatkan daerah subepikardial dan intramiokardial. Fungsi ventrikel kiri akan tetap terjaga selama keterlibatan miokardium terbatas, yang sulit dikenali oleh parameter ekokardiografi dasar. Adanya abnormalitas GLS pada segmen lateral memiliki sensitivitas dan spesifisitas tinggi dalam mendiagnosis miokarditis.

Secara ringkas, parameter ekokardiografi lanjutan, khususnya parameter GLS, dapat membantu dalam diagnosis dini, pengendalian terapi miokarditis, dan memprediksi luaran klinis pada miokarditis. Parameter GLS merupakan alat alternatif yang menjanjikan pada fase perawatan akut atau ketika alat pemeriksaan standar tidak tersedia.

Penulis: Mochamad Yusuf Alsagaff

Artikel:

Alsagaff, M. Y., Dwipa, P., Devi, K., Budianto, C. P. & Susilo, H. Cardiogenic shock presenting in myocardial infarction with myocarditis case report: The role of advanced echocardiography parameter. (2023) doi:

AKSES CEPAT