Selama beberapa dekade, sistem pertanian diseluruh dunia tidak dapat dipisahkan dari pestisida kimia yang digunakan masif baik di negara maju maupun negara berkembang. Secara global, lebih dari 3,5 juta ton pestisida telah digunakan selama periode tahun 2022. Beban lingkungan terhadap paparan bahan kimia yang berlebihan akan merusak kesuburan dan produktivitas tanah. FAO melaporkan bahwa 69% tanah pertanian di Indonesia rusak dengan kategori parah akibat penggunaan pestisida dan pupuk. Berbagai ekosistem dan habitat terdampak selama proses pengolahan lahan, pemupukan, perawatan hingga panen. Di sisi lain, sektor pertanian juga melibatkan perorangan dan komunitas yang setiap saat terpapar bahan pertanian. Data pada tahun 2020 menunjukkan bahwa sektor pertanian menyerap 22,5 % angkatan kerja atau setara 35 juta baik sebagai buruh tani, penyemprot, pengolah lahan maupun pemilik.
Logam berat yang telah berhasil diidentifikasi dalam pestisida dan pupuk kimia serta beberapa bahan pertanian lain antara lain arsen (As), kadmium (Cd), tembaga (Cu), timbal (Pb), dan merkuri (Hg). Logam berat ini terbukti menurunkan kualitas tanah dan air serta mengganggu kesehatan manusia. Tanah dan air sangat mudah dalam menyerap berbagai polutan baik organik maupun logam berat yang terakumulasi dalam jangka waktu lama akan menurunkan kualitas lingkungan. Polutan di lingkungan akan melalui proses bioakumulasi sehingga terjadi perpindahan nanopartikel logam berat dari tumbuhan ke manusia. Dalam jangka waktu tertentu, logam berat yang menumpuk dalam tubuh akan mengganggu sistem kesehatan tubuh. Dengan meningkatkan paparan logam berat maka risiko kesehatan juga akan meningkat secara signifikan.
Penelitian yang dilakukan ini menggunakan dua kelompok populasi yang berbeda. Hal ini dilakukan agar mendapatkan hasil yang lebih akurat. Kelompok pertama adalah masyarakat yang berprofesi sebagai penyemprot aktif pestisida, sedangkan kelompok kedua adalah pembanding yang berasal dari masyarakat umum yang tidak pernah menggunakan pestisida. Secara total sampel yang behasil dikumpulkan adalah 100 orang responden. Biomarker yang diukur dalam tubuh responden adalah Pb, Cd dan Cr6+ dengan menggunakan spesimen urin. SNI yang digunakan untuk deteksi logam berat tersebut adalah 06.6989.45:2005 dan 06.6989.16:2004 serta 6989.71:2009. Metode yang digunakan adalah Atomic Absorption Spectroscopy. Variabel lain yang diteliti meliputi dosis, jenis pestisida, penggunaan pupuk kimia, kondisi lingkungan, alat pelindung diri, posisi tubuh, lama kerja, umur, masa kerja, frekuensi penyemprotan, dan jumlah campuran pestisida. Untuk keluhan kesehatan subjektif yang diteliti adalah sakit kepala dan mual muntah keracunan.
Penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata kadar Pb, Cd dan Cr6+ pada kelompok penyemprot pestisida sangat tinggi dan berbeda signifikan dari pada kelompok pembanding dengan kadar Pb 0.084220 mg/kg dibanding 0.009324 mg/kg, kemudian Cd 0.010414 mg/kg dibanding 0.003521 mg/kg, dan Cr6+ 0.010482 mg/kg dibanding 0.005362 mg/kg. Dari seluruh faktor risiko yang diuji secara statistik menunjukkan bahwa usia, lama kerja dalam 1 hari serta jumlah campuran pestisida yang digunakan, terbukti secara signifikan mempengaruhi kadar logam berat yang terdeteksi dalam urin responden. Oleh karena itu kami menyarankan agar para penyemprot pestisida lebih memperhatikan tata cara keamanan menggunakan pestisida dan menggunakan alat pelindung diri yang sesuai.
PENULIS : ADITYA SUKMA PAWITRA, S.KM., M.KL
LINK ARTIKEL :
Publish : Vol 17 No 1 (2025)
Jurnal Kesehatan Lingkungan (Journal of Environmental Health) “ Scopus Q4





