51动漫

51动漫 Official Website

Perbedaan Karakteristik Gigi Orang Jawa dan Tionghoa-Indonesia

Perbedaan Karakteristik Gigi Orang Jawa dan Tionghoa-Indonesia

Baik faktor lingkungan maupun genetik berkontribusi dalam membentuk variasi morfologi gigi pada spesies manusia, dimana perbedaan tertentu dapat terlihat dalam satu populasi atau antar populasi. Oleh karena itu, sangat mungkin untuk menentukan hubungan kekeluargaan dan perubahan suatu populasi tertentu dibandingkan dengan populasi lain melalui penelitian lanjutan mengenai perbedaan karakteristik gigi.

Antropologi dental merupakan subdisiplin dalam bio-antropologi yang meneliti data gigi, baik yang berasal dari individu yang masih hidup maupun sudah mati. Gigi dianggap sebagai sumber informasi yang dapat diandalkan karena stabilitasnya. Ciri-ciri gigi manusia lebih cenderung disebabkan oleh faktor keturunan dan genetik dibandingkan lingkungan. Oleh karena itu, gigi ini mungkin memberi kita wawasan tentang genetika populasi dan hubungan kekerabatan antarpopulasi.

Para pendatang Tionghoa awalnya datang ke Surabaya untuk mencari peruntungan. Akhirnya mereka menetap secara permanen dan menikah dengan penduduk setempat. Hingga saat ini, suku Tionghoa hidup berdampingan dengan suku lain dan merupakan bagian integral dari budaya Surabaya. Akulturasi budaya Tionghoa dan budaya lokal terlihat di berbagai tempat, khususnya di kawasan Pecinan.

Perkawinan campur antara orang Jawa dan Tionghoa kadang terjadi. Bersama-sama, mereka mengembangkan budaya baru yang dimodifikasi yang biasa disebut sebagai budaya Tionghoa Peranakan. Dari segi linguistik misalnya, orang Tionghoa-Jawa kerap bergantian menggunakan bahasa Hokkien, Jawa, dan Indonesia dalam percakapan sehari-hari. Meskipun mereka tidak fasih berbahasa Hokkien, banyak frasa berbahasa Mandarin yang digunakan. Secara biologis, orang Tionghoa-Jawa juga memiliki keunikan dalam hal ekspresi fenotipiknya, yang menunjukkan campuran ciri-ciri Tionghoa dan Jawa攜ang paling terlihat pada ciri-ciri kraniofasialnya.

Meningkatnya akses terhadap migrasi dan mobilisasi memotivasi penelitian ini untuk dilakukan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi dan membandingkan ciri-ciri gigi nonmetrik antara populasi Jawa dan Tionghoa-Indonesia di Surabaya, Indonesia. Ciri-ciri yang dibahas dalam penelitian ini ada 13, di antaranya adalah dental traits winging, shoveling, dan double shoveling pada gigi seri.

Hubungan filogenetik antara penduduk asli Taiwan berkaitan erat dengan sebaran geografis mereka, tetapi tidak dengan klasifikasi bahasa mereka. Hasil ini dapat dipahami sebagai bukti adanya perbedaan pola sebaran genetik dan budaya akibat ekspansi Austronesia pada masa prasejarah. Temuan ini membuat penasaran karena populasi kuno Taiwan dan Jawa berada pada klasifikasi bahasa yang sama, namun secara genetik jauh lebih kompleks. Penelitian sebelumnya juga menyebutkan bahwa populasi Jawa memiliki mtDNA yang mirip dengan populasi Taiwan, namun kromosom Y mereka tidak begitu dekat hubungannya. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa hanya jenis kelamin dan suku tertentu yang ikut serta dalam ekspansi Austronesia ke Jawa.

Penelitian ini membuktikan teori Turner tentang variasi gigi Mongoloid pada populasi Asia Timur, di mana populasi Asia Timur lebih cenderung memiliki variasi sifat yang serupa攜ang kemudian disebut sebagai Sinodonty. Dibandingkan dengan penelitian Yamazaki & Matsuno, ini semakin memperkuat bahwa beberapa kelompok minoritas memiliki asal usul yang berbeda karena berbagai faktor, seperti isolasi dan migrasi. Faktor-faktor ini tercermin pada tingkat ekspresi gigi-geliginya.

Hasil penelitian ini menawarkan wawasan yang lebih khusus mengenai biogeografi masyarakat di Indonesia. Temuan dalam penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi yang lebih khusus ketika ahli odontologi forensik atau bioarkeolog memeriksa gigi seri dalam melakukan estimasi asal-usul (ancestry) jenazah. Penelitian sebelumnya telah menyoroti peran antropolog dental dalam mengungkap serangkaian variasi morfologi gigi yang unik dalam kasus odontologi dan bioarkeologi forensik. Namun, penelitian mengenai masalah ini masih sedikit ditemukan di Indonesia. Besar harapan bahwa penelitian kami akan menjadi motivasi untuk menstimulasi penelitian lebih lanjut mengenai peran antropologi dental dalam konteks odontologi dan bioarkeologi forensik.

Sampel Tionghoa yang 渕urni di Indonesia sulit ditemukan karena komunitas Tionghoa telah mengintegrasikan diri ke dalam komunitas lokal. Dari 13 ciri gigi nonmetrik yang dianalisis dalam penelitian ini, hanya 3 yang menunjukkan perbedaan yang signifikan antara kedua populasi. Simpulannya, temuan penelitian ini menunjukkan bahwa dental traits pada populasi Tionghoa-Indonesia tidak berbeda secara signifikan dari populasi Jawa. Masuk akal jika dikatakan bahwa orang Tionghoa-Indonesia mempunyai aliran gen (gene flow) dari orang Jawa karena derajat shovelling gigi mereka lebih rendah dibandingkan orang Asia Timur Laut dan Asia Timur. Dengan kata lain, aliran gen kemungkinan yang menyebabkan sampel Tionghoa-Indonesia mengekspresikan sifat khas Sinodont mereka pada tingkat yang lebih rendah daripada nenek moyang mereka di Asia Timur atau Asia Timur Laut.

Penulis: Rachmad Avianto, Sayf M. Alaydrus, Myrtati D. Artaria, dan Yao-Fong Chen

Link artikel:

Baca juga: Efek Asam Lipoteikoat pada Jaringan Pulpa Gigi

AKSES CEPAT