Perdarahan pascapersalinan (Postpartum hemorrhage/PPH) merupakan penyumbang utama morbiditas dan mortalitas ibu, serta dapat menimbulkan konsekuensi jangka panjang terhadap kesehatan kardiovaskular. Setiap tahun, sekitar 14 juta wanita mengalami PPH dan kondisi ini menyumbang lebih dari 20% dari seluruh kematian ibu secara global.
Selain risiko langsung, bukti yang muncul menunjukkan bahwa PPH juga dapat memiliki dampak jangka panjang terhadap kesehatan wanita, khususnya sistem kardiovaskular.
Mekanisme tersebut dapat disebabkan kehilangan darah parah saat persalinan menimbulkan gangguan stabilitas hemodinamik (kemampuan sistem kardiovaskular untuk mempertahankan aliran darah yang stabil dan memberikan oksigen yang cukup ke jaringan) dan dapat memicu efek sistemik.
Tinjauan sistematis dan meta-analisis ini bertujuan untuk mengevaluasi hubungan antara PPH dan risiko terjadinya penyakit kardiovaskular (CVD) pada wanita. Studi ini mencakup sepuluh studi yang dipublikasikan hingga tahun 2024, berdasarkan data penelitian yang dikumpulkan dalam rentang waktu dari 1986 hingga 2018. Studi-studi ini melibatkan populasi dari berbagai negara, termasuk Korea Selatan, Inggris, Swedia, Kanada, Prancis, dan Amerika Serikat, dengan periode tindak lanjut antara tiga hingga 31 tahun. Data dari lebih dari 9,7 juta partisipan digabungkan menggunakan model random-effects untuk mengakomodasi heterogenitas antarstudi. Luaran utama mencakup penyakit kardiovaskular dan kejadian tromboemboli. Analisis subkelompok dilakukan secara terpisah untuk luaran kardiovaskular dan tromboemboli. Analisis sensitivitas dilakukan untuk menilai konsistensi dan ketahanan estimasi gabungan.
Hasil penelitian yang dipublikasikan di The Journal of Maternal-Fetal & Neonatal Medicine ini menunjukkan bahwa wanita dengan riwayat PPH memiliki peningkatan risiko 1,76 kali lipat untuk mengalami penyakit kardiovaskular dan 2,10 kali lipat untuk mengalami tromboemboli. Risiko ini terutama lebih tinggi pada mereka yang memerlukan transfusi. Risiko kardiovaskular paling sering terjadi pada tahun pertama pascapersalinan dan dapat bertahan hingga 15 tahun, terutama pada wanita dengan gangguan hipertensi dalam kehamilan.
Salah satu keterbatasan makalah ini adalah tidak dilakukannya analisis subkelompok formal berdasarkan wilayah geografis (misalnya, negara berpenghasilan tinggi dengan negara berpenghasilan rendah dan menengah). Hal ini karena studi yang disertakan tidak secara konsisten melaporkan luaran yang dikategorikan berdasarkan tingkat pendapatan negara atau konteks layanan kesehatan. Namun, para penulis menyadari bahwa kesenjangan dalam akses layanan kesehatan, kualitas perawatan obstetri darurat, dan ketersediaan tindak lanjut kardiovaskular pascapersalinan dapat memengaruhi luaran jangka panjang dan sebagian dapat menjelaskan heterogenitas antarstudi.
PPH berhubungan dengan peningkatan signifikan risiko jangka panjang baik untuk penyakit kardiovaskular maupun tromboemboli. Hubungan antara perdarahan setelah melahirkan dan risiko terhadap kesehatan kardiovaskular bersifat kompleks dan multifaktorial. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami mekanisme yang mendasari dan mengembangkan strategi pencegahan serta pengobatan terhadap komplikasi yang berpotensi mengancam jiwa ini, yang dapat terjadi beberapa tahun setelah melahirkan. Temuan ini juga menekankan pentingnya skrining risiko kardiovaskular pascapersalinan dan intervensi pencegahan pada wanita dengan riwayat PPH berat. Sehingga penelitian mendatang sebaiknya menggunakan metodologi yang terstandarisasi dan berfokus pada wilayah dengan beban tinggi, khususnya di negara berpendapatan rendah dan menengah.
Di tengah meningkatnya angka kelahiran dengan operasi caesar dan komplikasi seperti placenta accreta, kasus PPH diprediksi akan terus bertambah. Jika tidak diantisipasi, dampaknya tidak hanya mengancam nyawa saat melahirkan, tetapi juga kesehatan jangka panjang jutaan perempuan. Peneliti menekankan pentingnya pemantauan jangka panjang bagi ibu yang pernah mengalami PPH, termasuk pemeriksaan tekanan darah, profil lipid, dan deteksi dini gangguan jantung. Intervensi sederhana seperti perubahan gaya hidup, pengendalian berat badan, hingga terapi pencegahan tromboemboli dapat menyelamatkan nyawa. Sayangnya, pedoman saat ini belum memasukkan PPH sebagai faktor risiko utama penyakit jantung wanita, baik dalam rekomendasi American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) maupun European Society of Cardiology (ESC). Studi ini diharapkan menjadi dasar perubahan kebijakan global terkait kesehatan ibu.
Secara lebih luas kami berharap penelitian ini membantu menggeser fokus menuju kesehatan maternal jangka panjang. Karena ketika kita berinvestasi pada kesejahteraan ibu setelah melahirkan, kita juga berinvestasi untuk keluarga yang lebih kuat dan komunitas yang lebih sehat.
Korespondensi:
Dr. dr. Manggala Pasca Wardhana, Sp.OG, Subs.K.Fm
manggala.pasca@fk.unair.ac.id
Penulis:
Fiqih Faizara Ustadi, Alma Dhiani Paramita, Cinta Adinda Roswinabila, Puguh Oktavian, Manggala Pasca Wardhana
Untuk informasi lebih lanjut bisa melalui link berikut:





