Meskipun pekerjaan pemasyarakatan cenderung stabil, pekerjaan itu juga rumit, berbahaya, dan tidak efisien. Oleh karena itu, perilaku petugas yang positif sangat penting untuk berfungsinya lembaga pemasyarakatan dengan baik, terutama dalam kondisi yang menantang. Salah satu masalah yang paling mendesak di lembaga pemasyarakatan Indonesia adalah kepadatan penghuni, di mana kapasitas narapidana jauh melebihi batas fasilitas. Sementara itu, jumlah petugas di lembaga pemasyarakatan (Lapas) Sumatera Utara tidak proporsional dengan jumlah narapidana. Kepadatan penghuni tidak hanya mengganggu pembagian tugas yang efektif, tetapi juga menghalangi akses narapidana terhadap layanan dasar seperti perawatan kesehatan, keamanan, pendidikan, dan rehabilitasi. Meskipun menghadapi berbagai tantangan ini, petugas Lapas memainkan peran penting sebagai penggerak dalam mendorong tindakan dan kegiatan organisasi yang produktif. Dengan melibatkan petugas penjara secara efektif, organisasi dapat meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan efektivitas dalam mencapai tujuan bersama.
Dalam konteks penelitian ini, pencapaian tujuan umum Lapas untuk merehabilitasi narapidana guna mencegah residivisme dan mengintegrasikan mereka kembali ke dalam masyarakat secara langsung berdampak pada stabilitas pekerjaan bagi petugas pemasyarakatan. Sebaliknya, gangguan dalam memenuhi tujuan ini dapat berdampak negatif pada stabilitas pekerjaan mereka. Menurut teori Conservation of Resources (COR), stabilitas pekerjaan merupakan sumber daya yang berharga bagi petugas, yang dapat terancam oleh lingkungan pemasyarakatan yang tidak kondusif. Lebih lanjut komponen sumber daya mencakup tidak hanya apa yang dihargai oleh individu tetapi juga apa yang membantu mereka mencapai tujuan mereka. Bagi petugas, kemajuan karier yang lancar merupakan tujuan utama. Petugas yang menjaga stabilitas tempat kerja dan pekerjaan memiliki peluang lebih besar untuk kemajuan karier.
Petugas memainkan peran penting dalam menciptakan stabilitas baik dalam pekerjaan mereka maupun lembaga pemasyarakatan. Salah satu cara untuk melakukannya adalah melalui perilaku kewargaan. Sejumlah penelitian menegaskan bahwa perilaku kewargaan sangat dihargai dalam organisasi karena manfaat yang dirasakan. Dalam konteks ini, perilaku kewargaan yang dilakukan oleh petugas pemasyarakatan melibatkan tindakan pencegahan untuk meminimalkan potensi disfungsi dalam lembaga pemasyarakatan. Contoh perilaku tersebut termasuk memeriksa fasilitas sanitasi, memantau kemajuan rehabilitasi, mengawal narapidana yang sakit ke layanan kesehatan, dan memeriksa bahaya kebakaran. Tugas-tugas ini berada di luar tugas utama petugas, yang utamanya adalah memastikan keamanan dan ketertiban.
Studi ini menanggapi seruan dari penelitian sebelumnya yang menyelidiki pengaruh modal psikologis pada perilaku kewargaan dalam konteks perusahaan pendidikan dan konstruksi. Modal psikologis merupakan aset pribadi penting yang mendukung petugas dalam menyelesaikan tugas dan mencapai tujuan. Penelitian terbaru lainnya di lembaga pemasyarakatan juga menekankan pentingnya sumber daya individu dalam mempromosikan perilaku kewargaan di tempat kerja. Namun, penelitian tersebut menemukan bahwa kepribadian proaktif tidak secara langsung berkontribusi pada perilaku kewargaan. Temuan ini bertentangan dengan penelitian lain yang menggarisbawahi pentingnya kepribadian proaktif untuk perilaku kewargaan. Berdasarkan argumen-argumen ini, penelitian ini meneliti bagaimana modal psikologis, kepribadian proaktif, dan dukungan organisasi mendorong petugas Lapas untuk terlibat dalam perilaku kewargaan.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa modal psikologis dan dukungan organisasi memengaruhi perilaku kewargaan secara signifikan, sedangkan kepribadian proaktif tidak memiliki dampak signifikan secara langsung. Selain itu, modal psikologis, kepribadian proaktif, dan dukungan organisasi terbukti memengaruhi makna kerja bagi petugas secara signifikan, yang pada gilirannya berdampak pada perilaku kewargaan. Analisis dampak tidak langsung mengungkapkan bahwa kepribadian proaktif mampu merangsang perilaku kewargaan secara efektif hanya melalui peran mediasi makna pekerjaan. Bagi petugas yang bekerja di tempat yang sangat kompleks dengan sumber daya manusia yang terbatas, menunjukkan perilaku kewargaan sangat lah penting. Dalam konteks ini, keberadaan modal psikologis, kepribadian proaktif, dukungan organisasi, dan makna pekerjaan meningkatkan kapasitas individu untuk melaksanakan tugas mereka dan secara sukarela mengambil peran tambahan, sehingga berkontribusi pada efektivitas organisasi.
Penulis: Anis Eliyana
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di :
Baca juga: Kebiasaan Olahraga dan Jenis Kelamin sebagai Faktor Risiko Stres Kerja





