Perkembangan peran pustakawan di perguruan tinggi seringkali dipengaruhi oleh perubahan misi dan strategi institusi perguruan tinggi di mana perpustakaan bernaung. Pergeseran orientasi dan fokus strategis lembaga perguruan tinggi berimplikasi pada dukungan yang diberikan oleh pustakawan untuk mencapainya. Seperti dikatakan Cox (2018), saat ini institusi perguruan tinggi telah mengalami perubahan radikal, yang didorong oleh persaingan yang lebih kuat dan peningkatan internasionalisasi. Melalui peningkatan produktivitas penelitian dan publikasi, perguruan tinggi membangun dan meraih reputasi global. Hal ini mau tidak mau mendorong pustakawan perguruan tinggi mengatur kembali fokus pelayanan kepada pengguna, mengembangkan kemitraan dan memikirkan nilai lebih yang ditawarkan kepada pengguna, terutama civitas akademik. Perubahan orientasi perguruan tinggi ini juga menyebabkan munculnya peran-peran alternatif yang dijalankan oleh pustakawan, termasuk peran mendukung produktivitas penelitian dan publikasi, di mana salah satunya adalah peran research librarian.
Jika dua dekade yang lalu, peran academic librarian lebih berfokus pada tugas-tugas tradisional seperti acquisition, cataloguing, indexing, and retrieval of materials, maka setelah era pra-digital peran yang berkembang lebih dipengaruhi oleh perubahan jaman digital dan kebutuhan lingkungan pendidikan tinggi, termasuk penyediaan layanan digital, (Goetsch, 2008; Saunders, 2015) memberikan pelatihan literasi informasi dan memfasilitasi sumber informasi untuk penelitian (Fagan et al., 2021). Perkembangan terkini peran pustakawan di perguruan tinggi adalah membantu dosen dalam penelitian dan publikasi dalam jurnal internasional.
Di Indonesia, dalam beberapa tahun terakhir, perguruan tinggi semakin mewajibkan para dosen di fakultas untuk melakukan penelitian dan menghasilkan luaran berupa publikasi, terutama pada jurnal nasional dan internasional. Alasannya adalah melakukan penelitian akan meningkatkan kompetensi dosen, mengembangkan kemampuan mengajar mereka, dan berkontribusi pada karir mereka di lembaga akademik (Amara et al., 2015; Katz and Coleman, 2001). Untuk memenuhi kebutuhan penelitian dan publikasi dosen, pustakawan akademik telah terbiasa membantu pencarian informasi (King et al., 2009). Dampak dari tuntutan akademik dosen ini, maka peran research librarian menjadi semakin penting karena perubahan kebijakan penelitian dan perilaku peneliti (Wien and Dorch, 2018).
Di Indonesia, peran sebagai research librarian dalam implementasinya dapat diidentifikasi dimulai dari memfasilitasi dosen dan peneliti dalam melakukan penelitian, memberikan skills dalam menelusur sumber-sumber informasi terutama jurnal ilmiah hingga terlibat sebagai anggota penelitian dalam penelitian dosen. Setidaknya hingga tahun 2019, ada kecenderungan pustakawan hanya dilibatkan sebagai asisten peneliti untuk melaksanakan kegiatan administrasi, seperti mendistribusikan kuesioner. Aktivitas-aktivitas seperti mendesain penelitian, pembuatan instrumen kuesioner, atau analisis data tidak melibatkan pustakawan (Riyanto et al., 2019). Meskipun ada pustakawan yang terlibat, itupun biasanya bersifat individual dengan memberikan bantuan mencarikan referensi yang sesuai dengan pesanan dan permintaan peneliti. Meskipun demikian, ditemukan juga banyak academic librarian di perguruan tinggi yang memiliki publikasi jurnal yang didasari oleh penelitian mereka. Hal ini berarti, bahwa selama ini terdapat academic librarian yang melakukan penelitian dan dapat dikatakan sebagai peneliti seperti dosen yang ada di fakultas.
Berdasarkan fakta ini, diduga terdapat perbedaan dalam mempersepsi dan pengembangan peran research librarian. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana persepsi dan makna persepsi tentang research librarian di kalangan academic librarians di perguruan tinggi di Indonesia.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yaitu Fenomenologi Persepsi yang dikemukakan oleh Merleau-Ponty (2005). Metode Fenomenologi Persepsi dalam penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna dari persepsi yang terbentuk dari fenomena yang ditangkap oleh indera yang didasari oleh kesadaran academic librarian. Penelitian ini dilakukan di 4 Perpustakaan Universitas Negeri dan 4 Perpustakaan Perguruan Tinggi Swasta di Kota Surabaya dan Kota malang, Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Di masing-masing perpustakaan telah diwawancarai 1 orang kepala perpustakaan dan 2 orang pustakawan, sehingga informan secara keseluruhan berjumlah 24 orang.
Meskipun semua pustakawan setuju bahwa era baru menuntut mereka berubah. Tetapi, bagaimana mereka mempersepsi dan mendefinsikan peran baru pustakawan umumnya tidak seragam. Studi ini menemukan antara pustakawan satu dengan pustakawan yang lain dalam mendefinsikan peran sebagai research librarian umumnya berbeda-beda 搕ergantung dan dipengaruhi oleh ada-tidaknya dukungan dari struktur tempat bekerja bekerja. Pustakawan yang ada dalam struktur yang mendukung pengembangan peran pustakawan sebagai research librarian, mereka umumnya lebih optimistis dan mempersepsi sudah seharusnya pustakawan juga menjadi peneliti dan menulis artikel di jurnal internasional. Ini berbeda jika pustakawan bekerja dalam lingkunghan perpustakaan di perguruan tinggi yang mereduksi peran mereka hanya sebagai pelayan mahasiswa dan dosen. Pustakawan yang tidak mendapatkan dukungan struktur, mereka cenderung mensimplifikasi peran mereka sebatas melayani kegiatan penelitian dosen, seperti membantu mencarikan rujukan dan peran-peran suporting lainnya.
Temuan studi ini memperlihatkan bahwa di perguruan tinggi swasta, karena peran pustakawan lebih difokuskan pada kegiatan layanan kepada mahasiswa dan dosen, maka persepsi terhadap peran research librarian cenderung hanya direduksi sebagai tenaga supporting. Sedangkan di perpustakaan perguruan tinggi negeri, persepsi dan makna persepsi tentang research librarian tidak sebatas menjadi pendukung research melainkan research librarian juga sebagai peneliti yang tidak hanya bertanggungjawab merancang design penelitian, tetapi juga menulis laporan dan menyebarluaskan hasil penelitian itu dalam bentuk artikel di jurnal internasional bereputasi. Bagi pustakawan yang berasal dari generasi milenial, memiliki latar belakang pendidikan yang baik dan berkomitmen untuk mengembangkan diri, mereka umumnya lebih siap beradaptasi sebagai research librarian yang memberi kesepatan mereka meneliti, merancvang design penelitian, menulis laporan dan menghasilkan artikel di jurnal internasional bereputasi.
Penulis: Rahma Sugihartati
Sumber: Rahma Sugihartati, Dessy Harisanty, Anita Dewi, Bagong Suyanto, Arya wijaya Pramodha Wardhana & Nadia Egalita (2025). Perseptions of the role of research librarian: A phenomenological study. IFLA Journal 1-13. DOI: 10.1177/03400352241310551
Detail tulisan ini dapat dilihat di:





