Humas (26/4/2023) | International Conference on Investment, Trade, and Sustainable Development: International Law and Policy Perspectives from Indonesia and the European Union telah dilaksanakan pada 5 – 6 April 2023 di Balai Sidang Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Konferensi itu merupakan konferensi internasional yang diselenggarakan oleh Fakultas Hukum Universitas Indonesia dan berkolaborasi dengan Maastricht University serta Erasmus+ Programme of the European Union.
Salah satu mahasiswa Fakultas Hukum 51动漫 (FH UNAIR) angkatan 2020, Angeline Irene Santoso, menjadi peserta pada konferensi tersebut. Irene, sapaan akrabnya, melalui wawancara dengan FH News pada Senin (24/4/2023) menuturkan ia mengikuti konferensi atas dorongan dari salah satu dosen FH UNAIR, yaitu Bapak Franky Butar Butar.
“Saat pertama kali mengirim abstrak, abstrak saya diterima tetapi harus diperbaiki karena judulnya belum berbahasa Inggris dan rumusan masalah yang kurang sesuai dengan tema konferensinya. Kemudian saya memperbaiki abstraknya dan puji Tuhan akhirnya lolos berkat bantuan dan dorongan dari Pak Franky Butar Butar,” ujar Irene.
Selain menjelaskan persyaratan pendaftaran yang diminta untuk mengirimkan abstrak 250 kata serta Curriculum Vitae, Irene juga menceritakan isi abstrak yang ia kirimkan kepada panelis. Ia membahas mengenai hukum perdagangan internasional, tepatnya tentang prinsip dasar negara anggota World Trade Organization (WTO) yaitu prinsip nondiskriminasi.
“Prinsip nondiskriminasi yang saya kaji yaitu mengenai topik yang sedang hangat saat ini di mana Uni Eropa melakukan pelarangan impor sawit. Indonesia sebagai negara produsen terbesar tentu sangat dirugikan karena industri sawit menunjang perekonomian Indonesia. Apabila sawit Indonesia ditolak untuk diimpor oleh negara lain, hal ini berdampak juga kepada kesejahteraan petani sawit,” terang Irene.
Irene memberikan konklusi di akhir abstraknya bahwa tindakan Uni Eropa merupakan tindakan diskriminasi terhadap sesama negara anggota WTO dan melanggar prinsip nondiskriminasi WTO.
“Namun, kesimpulan itu saya dasarkan pada pengkajian terhadap kasus-kasus WTO terdahulu yang sudah ada putusannya. Saat ini, kasus pelarangan impor sawit oleh Uni Eropa belum ada putusan resminya dari WTO,” sambungnya.
Ia mengatakan konferensi ini merupakan konferensi pertamanya dan langsung konferensi internasional secara offline. Jadi, ia merasa sangat gugup saat harus presentasi menggunakan bahasa Inggris di depan banyak profesor dan presenter lain.
“Tetapi, saya merasa bangga bisa menjadi representasi FH UNAIR di luar kampus, apalagi karena saya menjadi salah satu presenter yang masih menempuh studi S1 di antara presenter lain yang sudah S2 dan S3. Tidak banyak mahasiswa S1 yang mengikuti konferensi ini,” papar Irene.
Ia juga merasa senang karena dapat mengenal orang-orang hebat yang menekuni dunia hukum lingkungan, investasi, dan perdagangan. Selain itu, ia juga dapat menyimak penelitian-penelitian dari rekan-rekan yang dapat memperluas ilmu pengetahuannya di bidang hukum.
“Konferensi itu juga dihadiri oleh para profesor dari universitas ternama, seperti Prof. Andri G. Wibisana dan Dr. Yetty Komalasari dari Universitas Indonesia, Prof. Michael Faure dan Dr. Iveta Alexovicova dari Maastricht University, Prof. Nicolas de Sadeleer dari Universite Saint-Louis, serta Dr. Ivana Damjanovic dari Canberra Law School. Jadi, untuk teman-teman yang ingin memperluas pengetahuan dengan pengalaman baru, saya menyarankan untuk sering-sering mengikuti konferensi semacam ini,” tukas Irene.
Penulis : Dewi Yugi Arti




