Para pemateri menjawab pertanyaan moderator (kanan)
Penulis : Syirly Aldira Syaifulloh | Editor : Ilma Arrafi Nafi’a
(FIB) 51动漫 adakan seminar nasional pada Jum’at (9/6) yang bertepatan di Ruang Majapahit Lantai 5, ASEEC Tower, Kampus B 51动漫. Acara ini dihadiri oleh mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, khususnya prodi Sastra Indonesia angkatan 2021 dan 2022 dan terbuka untuk umum.
Kegiatan seminar nasional ini memiliki dua sesi topik pembahasan. Sesi pertama ini dibuka oleh Rima Firdaus M.Hum selaku moderator yang kemudian mengenalkan tiga pemantik yaitu Dr. Ni Wayan Sartini, Mochtar Lutfi, M.Hum., dan Puji Karyanto, M.Hum.
Sebelum memasuki acara inti, seminar nasional ini dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Hymne Airlangga. Dilanjutkan dengan Dekan Fakultas Ilmu Budaya, Purnawan Basundoro, menyampaikan sambutannya.
“Saya merupakan penikmat sastra. Sastra menjadi cerminan realitas budaya. Sejarah adalah kajian yg paling dekat dengan sastra. Diskusi lintas bidang terkait sejarah dan kesusastraan sangat menarik. Oleh karena itu, saya harap kegiatan seperti ini harus dikembangkan. Kami dari fakultas selalu mendorong agar semua prodi melakukan seminar berbasis alamiah seperti ini. Temanya menarik karena sastra menjadi bagian dari kehidupan kita dalam keseharian. Terangnya.
Dr. Ni Wayan Sartini menyampaikan materinya melalui tajuk 淢enguak Budaya : Eksplorasi Lingual Culture dalam Karya Sastra. Ia menyampaikan bahwa sastra lahir tidak dari ruang kosong. Bahasa penting untuk mengekspresikan budaya dalam masyarakat. Bahasa dan istilah yang unik. Dialek dan slang muncul dari bahasa. Bisa menganalisis aspek tradisi, kepercayaan, nilai-nilai praktik sosial yang diangkat dari bahasa.
Mochtar Lutfi, M.Hum. mengangkat topik berjudul 淭ontonan dan Tuntunan dalam Khazanah Sastra Lama : Studi Ramayana dan Mahabarata. Ia mengajak untuk meramu lagi tentang kedua cerita tersebut, menjadi hal yang berharga untuk masyarakat. Cerita Ramayana Mahabarata masuk ke dalam cerita epik/kepahlawanan yang didalamnya terdapat katarsis (penyucian jiwa).
Selanjutnya mengenai tajuk 淢enikmati Kesusastraan Indonesia Lama dalam Kemasan Sastra Indonesia Baru diisi oleh Puji Karyanto, M.Hum yang membahas penghadiran kembali sastra lama dalam sastra baru ada pada salah satu puisi karya Subagio Sastrowardoyo tentang Rama dan Sinta yang dibacakan langsung. Tak hanya membacakan puisi, Ki Puji menambahkan komentar bahwa globalisasi itu muncul dan mempengaruhi keseragaman penghancuran budaya daerah. Tapi yang ada dalam fenomena sastra Indonesia, sastrawan mengangkat sarana penciptaan karya sastra melalui perspektif kekinian. Seperti yang ada pada puisi yang dibacakan mengenai Rama dan Sinta.
“Sekarang melalui konteks sastra, kita tidak bisa mendefinisikan sastra itu hanya dalam buku. Kadang manusia itu gamang mendefinisikan apa itu sastra sebagai sesuatu yang tertulis dan ber-ISBN. Ternyata dengan globalisasi, akhirnya kita menghadapi ada banyak seniman yang menjadikan media klasik sebagai acuan dalam prosesnya berkarya sastra. Sastra lama dalam wajah baru sastra Indonesia, akar ceritanya sama, aspirasi tergantung kepada penulisnya. Pungkasnya dalam akhir sesi diskusi pada topik Kesusastraan Indonesia.
Kegiatan ini turut mendukung FIB dalam mewujudkan SDG檚 Poin 4 yakni Quality Education.




