2 September 2025 menjadi hari yang penuh makna bagi saya. Pada hari itu, saya dipercaya untuk merawat pasien istimewa bernama kucing dudung, kucing yang harus menjalani perawatan intensif dalam kondisi kritis dengan dokter penanggung jawab, drh. Miyayu. Tanpa menunda waktu, saya bergegas menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab dan kasih sayang dalam merawat kucing dudung.
Pada saat pertama kali datang ke Rumah Sakit Hewan Pendidikan UNAIR, kucing bernama Dudung dibawa oleh pemilik dalam keadaan yang sudah sangat lemah. Pemilik menyampaikan bahwa sejak beberapa hari terakhir nafsu makan kucing dudung menurun drastis, tubuh terlihat tidak bertenaga, dan sering kali mengalami kejang dengan jarak waktu yang hanya sekitar satu jam. Selain itu, kucing dudung juga sering melamun, serta pemilik juga mengamati adanya perubahan warna pada mata, telinga, dan mukosa mulut yang menjadi kuning, sehingga mendorong pemilik untuk segera membawa kucing ke dokter hewan.
Setibanya di rumah sakit, dokter segera melakukan pemeriksaan fisik. Saat diamati, kondisi umum kucing terlihat buruk dengan kesadaran menurun. Tubuhnya tampak lemas, gerakan lambat, dan respons terhadap rangsangan berkurang. Mukosa mulut, konjungtiva mata, serta kulit bagian telinga tampak berwarna kuning jelas (icterus). Palpasi pada daerah abdomen tidak menunjukkan adanya cairan bebas yang menonjol, meskipun kucing tampak tidak nyaman saat disentuh di area perut. Suhu tubuh tidak terukur tinggi, tetapi kondisi tubuh cenderung hipodinamik. Denyut jantung lemah, frekuensi pernapasan meningkat, dan hewan terlihat sesekali berusaha bernapas dengan mulut terbuka.
Di tengah pemeriksaan fisik, kucing dudung kembali mengalami episode kejang dengan mempertimbangkan jarak waktu kejang yang singkat dan risiko berulangnya kejang, dokter segera memberikan injeksi diazepam secara intramuskular untuk menghentikan aktivitas kejang. Setelah tindakan ini, kejang berhenti, meskipun kondisi umum pasien tetap lemah.
Pemeriksaan lanjutan awalnya direncanakan untuk meliputi analisis hematologi dan kimia darah, dengan tujuan menilai fungsi hati, kadar bilirubin, serta rasio albumin dan globulin yang dapat membantu menguatkan dugaan Feline Infectious Peritonitis (FIP) maupun penyakit hepatik lainnya. Akan tetapi, dengan kondisi pasien yang sangat parah dan baru saja mengalami kejang berulang, prosedur pengambilan darah ditunda sampai pasien lebih stabil. Dokter kemudian menyarankan agar kucing dudung diopname untuk mendapatkan terapi suportif secara intensif. Terapi yang direncanakan pada pagi dan sore hari meliputi:
- Inj. Alinamin (vitamin B1/thiamin) berfungsi menjaga metabolisme energi dan mendukung kerja saraf, sangat penting mengingat pasien mengalami kelemahan otot dan gangguan neurologis.
- Biodin (multivitamin dan hepatoprotektor) berfungsi membantu memperbaiki fungsi hati dan mendukung metabolisme tubuh.
- Vicilin (tonik penambah darah dan energi) diberikan untuk memperbaiki kondisi umum tubuh, mendukung hematopoiesis, serta menambah stamina.
- Fufang (preparat herbal-imunostimulan) berfungsi meningkatkan imunitas tubuh serta membantu daya tahan melawan infeksi virus.
- Infus NaCl diberikan untuk menjaga keseimbangan cairan, mencegah dehidrasi.
- Pemberian Oksigen
Gejala 渟ering melamun atau menatap kosong yang dialami kepada pasien kucing dudung kemungkinan besar berhubungan dengan gangguan neurologis akibat FIP bentuk non-efusif. Pada kondisi ini, virus corona kucing yang bermutasi menyerang sistem saraf pusat sehingga menimbulkan gejala seperti kejang, ataksia, perubahan perilaku, hingga penurunan kesadaran. Ensefalopati hepatik akibat kerusakan hati juga dapat memperparah kondisi, karena toksin yang tidak dimetabolisme dengan baik oleh hati dapat memengaruhi fungsi otak.
Feline Infectious Peritonitis (FIP) sendiri merupakan penyakit serius pada kucing yang disebabkan oleh mutasi Feline Coronavirus (FCoV). Virus ini awalnya hanya menyebabkan infeksi ringan pada saluran pencernaan, namun pada sebagian kucing dapat bermutasi menjadi bentuk yang lebih ganas. FIP terbagi menjadi dua bentuk utama, yaitu:
- FIP Efusif (basah) ditandai dengan adanya penumpukan cairan di rongga perut atau dada.
- FIP Non-efusif (kering) menyerang organ internal seperti hati, ginjal, dan sistem saraf, tanpa disertai cairan yang banyak.
Kepada pemilik dijelaskan bahwa pada kasus FIP, prognosis sangat buruk (infausta). Hingga saat ini, terapi definitif yang benar-benar menyembuhkan belum tersedia, sehingga penanganan difokuskan pada terapi suportif dan paliatif untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Kasus ini menunjukkan tantangan besar dalam menangani pasien kucing dengan dugaan FIP, terutama ketika gejala klinis sudah kompleks dan pasien berada pada kondisi kritis. Meskipun terbatas dalam pemeriksaan laboratorium karena keadaan pasien yang tidak stabil, langkah-langkah darurat serta terapi suportif tetap dilakukan untuk memberikan kesempatan terbaik bagi pasien, meskipun peluang kesembuhan penuh tetap sangat kecil.
Peran SDGs (Sustainable Development Goals) yang mendukung kasus ini:
SDG 3 (Good Health and Well-being): Penanganan kasus ini mencerminkan upaya menjaga kesehatan hewan, yang berdampak pula pada kesejahteraan pemilik dan lingkungan. Pencegahan, perawatan, dan edukasi kepada pemilik mendukung kesehatan secara menyeluruh.
SDG 4 (Quality Education): Kasus ini menjadi media pembelajaran nyata bagi mahasiswa PPDH untuk melatih keterampilan klinis, pengambilan keputusan darurat, dan komunikasi empatik. Hal ini memperkuat kualitas pendidikan kedokteran hewan.
SDG 15 (Life on Land): Dengan memberikan perawatan dan terapi suportif pada kucing domestik, kegiatan ini mendukung kesejahteraan satwa serta keberlanjutan ekosistem darat, karena hewan sehat merupakan bagian integral dari kehidupan manusia dan lingkungan.
Penulis: Sulistiarini K.




