Forum Denpasar 12 Rabu 16 April 2025
Berita UNAIR Pascasarjana, Selasa, 16 April 2025 Forum Denpasar 12 edisi ke 227 membahas dampak besar dari usulan tarif timbal balik Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap negara-negara dengan surplus perdagangan, termasuk Indonesia. Acara ini dibuka oleh Dr. Lestari Moerdijat, Wakil Ketua MPR RI. Prof. Badri Munir Sukoco, Direktur Sekolah Pascasarjana 51, menjadi salah satu pembicara yang menyoroti ancaman sekaligus peluang bagi Indonesia di tengah perubahan landskap perdagangan global.
Dr. Lestari Moerdijat membuka forum dengan menegaskan seriusnya kebijakan Trump yang menargetkan negara seperti Indonesia yang memiliki surplus perdagangan dengan AS. Kebijakan ini tidak hanya memengaruhi Indonesia, tetapi mengguncang dunia, ujarnya. Tarif tersebut berpotensi mengganggu ekspor, rantai pasok global, dan melemahkan nilai tukar rupiah, menimbulkan tantangan besar bagi ketahanan dan daya saing ekonomi Indonesia.
Namun, Dr. Lestari mendorong optimisme, melihat krisis ini sebagai peluang untuk memperkuat posisi Indonesia di kancah global. Kita harus menjadikan tantangan ini sebagai momentum, katanya, menyerukan perencanaan strategis, diplomasi yang lebih baik, dan kebijakan inovatif untuk menghadapi situasi ini. Ia juga mempertanyakan motif di balik kebijakan Amerika dan dampaknya terhadap dinamika perdagangan global.
Pada forum tersebut, Prof. Badri Munir Sukoco menyampaikan analisis berbasis data tentang posisi Indonesia dalam perdagangan global. Ia mencatat bahwa meskipun ekspor Asia-Pasifik tetap kuat, Indonesia gagal memanfaatkan peluang dari ketegangan perdagangan AS-China.
Vietnam telah menggantikan China sebagai pemasok utama di ASEAN, sementara Indonesia tertinggal, ujarnya, mengutip data McKinsey Global Institute. Pergeseran ini menyebabkan PHK di Indonesia, dengan banyak pekerja bermigrasi ke Vietnam untuk mencari pekerjaan.
Prof. Badri menyoroti ketergantungan Indonesia pada bahan baku impor, seperti 90% peralatan medis dan obat-obatan, sebagai kelemahan kritis. Ia menegaskan bahwa Indonesia harus beralih fokus ke lingkar kendali yaitu pasar domestik untuk membangun ketahanan. Kita punya pasar domestik besar yang bisa menjadi pondasi pertumbuhan ekonomi, katanya, menunjuk pada keberhasilan China memanfaatkan pasar domestik pada tahun 2000-an untuk mendominasi industri global.
Untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 8%, Prof. Badri menekankan perlunya 16,5 juta lapangan kerja baru hingga 2030, atau rata-rata 3000 pekerjaan per hari. Ini tidak akan tercapai hanya dengan mengandalkan Kementerian Investasi, tegasnya. Indonesia harus memanfaatkan potensi kreatifnya, terutama dari Gen Z yang mencakup 60% populasi. Tanpa peluang, talenta muda ini berisiko mencari pekerjaan di luar negeri.
Prof. Badri mengusulkan pengembangan inti super kreatif untuk mendorong transformasi ekonomi. Ia menyarankan pembentukan ekosistem startup yang didukung oleh universitas kelas dunia, pemerintah, dan otoritas daerah. Industri strategis, seperti pertanian cerdas dan produksi peralatan medis dalam negeri, dapat mengurangi ketergantungan pada impor dan meningkatkan kemandirian.
Mengapa mengimpor mesin cuci darah jika pengusaha Indonesia bisa memproduksinya? tanyanya.
Mengambil inspirasi dari kompetisi inovasi nasional China, ia menyarankan program yang didanai pemerintah untuk mendorong inovasi pemuda, mencegah brain drain, dan membangun keunggulan kompetitif. Prof. Badri mengaskan bahwa respon Indonesia terhadap tarif Trump akan menentukan masa depan ekonominya. Ia mendorong pendekatan proaktif dalam pengembangan pasar domestik dan inovasi kreatif. Kita harus berhenti reaktif dan mulai membentuk nasib kita sendiri, tutupnya.
Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =




