Di ruang kelas Magister Manajemen Bencana (MMB) Sekolah Pascasarjana 51动漫 (UNAIR), mitigasi risiko sering dipahami melalui kurva, skema, dan indikator terukur. Namun, bagi Ni Kadek Briggita Brillianti, seluruh teori itu baru benar-benar menemukan maknanya ketika ia berdiri di tengah lumpur pekat Jorong Limo Badak, Kabupaten Agam, Sumatra Barat.
Pada 1318 Desember 2025, Briggita tergabung dalam Tim Tanggap Darurat Bencana UNAIR yang diterjunkan ke wilayah terdampak banjir bandang dan longsor di Malalak Timur. Di lokasi inilah, ilmu kebencanaan berhadapan langsung dengan realitas kemanusiaan.
Dari Wisuda ke Zona Bencana
Briggita merupakan alumnus MMB UNAIR yang baru diwisuda pada Oktober 2025. Alih-alih berlama-lama menikmati fase pascawisuda, ia memilih menjawab panggilan kemanusiaan dengan terjun langsung ke wilayah terdampak bencana.
Keputusan tersebut berangkat dari dorongan nurani serta ajakan Ketua Program Studi MMB UNAIR, Aditya Prana Iswara, Ph.D. Ia berangkat bersama Rizqy Tasnima Fadhilah, sesama lulusan Magister Manajemen Bencana.
淪aya memiliki tanggung jawab mengelola sumber daya multidisiplin. Di lapangan, saya tidak hanya membawa ijazah magister, tetapi juga latar belakang saya sebagai perawat (Ners). Inilah yang saya maknai sebagai perawat kebencanaan, ujar Briggita, perempuan kelahiran Gianyar, Bali.
Ketika Teori Diuji Realitas
Di lapangan, Briggita mendapati bahwa kondisi darurat kerap jauh lebih kompleks dibandingkan skenario di ruang kelas. Putusnya jembatan dan terisolasinya akses wilayah memaksa tim untuk mengandalkan berbagai moda distribusi logistik攎ulai dari sepeda motor, berjalan kaki, hingga kendaraan off-road.
Namun, tantangan terbesar bukan hanya persoalan logistik, melainkan beban psikologis penyintas. Briggita mengenang pertemuannya dengan seorang anak perempuan usia sekolah dasar yang ia sebut sebagai R. Di tengah keterbatasan, R justru membantu dapur umum, mengesampingkan masa kanak-kanaknya demi keberlangsungan warga lain.
淪etiap sore sebelum kembali ke basecamp, kami selalu mengakhiri hari dengan pelukan. Ia menahan air mata dan meminta saya kembali keesokan harinya, kenang Briggita. Baginya, R adalah potret nyata ketangguhan (resiliensi) masyarakat terdampak bencana.
Refleksi Akademik dari Lapangan
Dari perspektif akademik, Briggita mencatat adanya celah struktural dalam penanganan bencana, khususnya terkait ketidakteraturan distribusi bantuan dan lemahnya integrasi data lintas pemangku kepentingan.
淚lmu dari kampus menjadi lebih bernilai ketika dirasakan langsung manfaatnya oleh penyintas. Setiap lokasi bencana memberikan pelajaran yang tidak dapat diukur dengan bobot SKS, ungkapnya.
Pengalaman ini memperkuat keyakinannya bahwa riset dan praktik kebencanaan harus berjalan beriringan agar kebijakan penanggulangan bencana benar-benar membumi.
MMB UNAIR dan Kepemimpinan Humanis
Kisah Briggita mencerminkan karakter lulusan Magister Manajemen Bencana UNAIR yang tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga memiliki sensitivitas sosial yang tinggi. Sebagai program studi multidisiplin, MMB UNAIR mengintegrasikan ilmu teknik, sains, kesehatan, hingga sosial-humaniora dalam satu kerangka kepemimpinan kebencanaan yang utuh.
Mahasiswa dari berbagai latar belakang攎ulai dari Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM), Fakultas Sains dan Teknologi (FST), hingga tenaga kesehatan攄itempa untuk siap menghadapi situasi krisis dengan pendekatan yang adaptif dan humanis.
Sekembalinya ke Surabaya, Briggita memilih merefleksikan pengalaman lapangannya sebagai bagian dari proses pembelajaran berkelanjutan.
淛ika kita tidak mampu mengubah apa yang telah ditetapkan Tuhan, maka jadilah bagian dari solusi terbaik di tengah kejadian itu, tutupnya.
Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =




