51

51 Official Website

Menjaga Harmoni, Menjemput Ramadan : Menata Hati di Tengah Keberagaman

Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, upaya menjaga harmoni sosial dan kemurnian spiritual menjadi fokus utama. Di tengah dinamika masyarakat pasca-peristiwa politik dan tantangan ekonomi, kesiapan batin dan sikap saling menghormati antarsesama menjadi fondasi penting untuk menjalani ibadah yang berkualitas.

Hal tersebut mengemuka dalam diskusi “Ranah Publik” bertajuk Menjaga Harmoni Menjemput Ramadhan yang Suci yang disiarkan oleh Suara Muslim Radio Network, Senin (2/2/2026).

Pembersihan Batin dan Lingkungan

Wakil Direktur 3 Sekolah Pascasarjana UNAIR, Prof. Dr. H. Suparto Wijoyo, SH., M.Hum., menekankan bahwa harmoni harus dimulai dari kebersihan ekosistem batin dan lingkungan. Beliau menyoroti bahwa Ramadan adalah momentum untuk menyucikan diri dari “polusi” sosial.

“Menjemput Ramadan yang suci itu membutuhkan lingkungan yang juga suci, bersih dari permusuhan dan bersih dari polusi kebencian. Kita harus memastikan bahwa harmoni itu tidak hanya di lisan, tapi menjadi oksigen yang kita hirup bersama dalam berbangsa,” ujar Prof. Suparto.

Ia juga menambahkan pentingnya memandang Ramadan sebagai ruang untuk melakukan refleksi kolektif. “Jangan sampai kita masuk ke bulan suci dengan membawa beban dendam masa lalu. Harmoni adalah prasyarat utama agar doa-doa kita melangit,” tambahnya.

Transformasi Ekonomi dan Kesalehan Sosial

Dari sisi ekonomi dan perilaku sosial, Prof. Dr. Muhammad Nafik Hadi Ryandono, SE., M.Si., Ketua Pusat Akselerasi Inovasi dan Bisnis UNAIR, menyoroti bagaimana Ramadan harus berdampak pada kesejahteraan bersama. Menurutnya, harmoni akan terwujud jika mereka yang berkecukupan memiliki empati yang nyata.

“Ramadan adalah momentum akselerasi kebaikan. Harmoni sejati akan tumbuh saat ekonomi tidak hanya berputar di satu lingkaran saja, tetapi mengalir melalui zakat, infak, dan sedekah yang mampu menjembatani jurang sosial,” jelas Prof. Nafik.

Prof. Nafik juga mengingatkan agar masyarakat tidak terjebak dalam perilaku konsumtif yang berlebihan yang justru merusak esensi kesucian Ramadan.

“Kesucian Ramadan itu dijemput dengan kesederhanaan, bukan dengan kemewahan yang memamerkan kesenjangan. Menjaga harmoni berarti menjaga perasaan mereka yang sedang kesulitan,” tegasnya.

Harapan untuk Bangsa

Acara yang berlangsung interaktif ini mengajak para pendengar untuk menjadikan Ramadan 2026 sebagai titik balik dalam memperkuat persatuan bangsa. Dengan memadukan pemikiran hukum-lingkungan dari Prof. Suparto serta perspektif ekonomi-bisnis dari Prof. Nafik, diskusi ini memberikan pandangan komprehensif bahwa harmoni memerlukan kolaborasi lintas dimensi.

Melalui diskusi ini, Suara Muslim Radio Network kembali menegaskan perannya sebagai jembatan informasi yang inspiratif, mengajak publik untuk tidak hanya fokus pada persiapan fisik, namun lebih dalam pada penguatan karakter dan harmoni sosial.

AKSES CEPAT