51动漫

51动漫 Official Website

Posyandu Remaja untuk Mempromosikan Positive Youth Development dan Well-being

Terdapat lebih dari 65 juta pemuda berusia 10-24 tahun di Indonesia, jumlah ini adalah 28% dari populasi. Pemuda berperan penting dalam tercapainya SDGs. Ketika pemuda memiliki well-being dan perkembangan yang optimal maka hal ini akan turut membantu pencapaian SDGs.  Namun di sisi lain, berbagai sumber melaporkan perilaku berisiko pada pemuda dan remaja Indonesia. Hasil The Global School Health Survey 2015 di Indonesia menunjukkan bahwa 83% melakukan hubungan seksual pertama kali di usia 14 tahun dan hanya 34% yang menggunakan kondom ketika melakukan hubungan seksual terakhir. Selain itu, dilaporkan bahwa satu dari lima remaja Indonesia berusia 13 sampai 15 tahun merokok . Kasus mental disorder di kalangan remaja juga cukup signifikan, prevalensi emotional disturbance pada siswa berusia 15 tahun atau lebih adalah sekitar 6%.

Pentingnya Positive Youth Development pada Perkembangan Pemuda.

Hubungan yang positif antara remaja dan komunitasnya adalah hubungan dua arah, pemuda memeroleh benefit dari kontribusinya di komunitas dan komunitas juga mengalami kemajuan karena adanya kontribusi dan suara dari pemuda. Salah satu konsep yang menjelaskan Positive Youth Development (PYD) adalah konsep Fives Cs, yaitu karakteristik yang menandai pemuda yang berkembang dengan sehat. 5Cs terdiri dari competence, confidence, character, connection, dan caring. Individu pemuda yang berkembang dengan baik akan memiliki kepuasan personal, sense of purpose, dan berkontribusi positif terhadap komunitasnya.

Studi menunjukkan keterlibatan pemuda pada aktifitas komunitas berasosiasi dengan PYD, hubungan yang positif dengan orang dewasa, ekspektasi masa depan yang positif, dan kemampuan melakukan pengambilan keputusan. Perkembangan pemuda yang positif dan faktor lingkungan dapat menjadi determinan dari well-being pada remaja.

Posyandu Remaja suku Tengger: Layanan Kesehatan Berbasis Komunitas Lokal untuk Mendorong Perkembangan Pemuda yang Positif

Diperlukan intervensi yang efektif dan sesuai kearifan budaya lokal untuk dapat mengatasi berbagai risiko yang muncul dan memaksimalkan potensi pemuda yang penting sebagai agen aktif dalam mencapai SDGs. Berbagai risiko juga dialami oleh pemuda suku Tengger yang tinggal di Tosari, Pasuruan. Tantangan geografis dan keterbatasan akses di area pedesaan Indonesia menjadi tantangan bagi pemuda untuk memiliki kesempatan yang setara. Data pemetaan kesehatan keluarga tahun 2014 di Tosari menunjukkan sebanyak 59% penduduk menikah pada usia 15-19 tahun, dilaporkan juga 31% siswa SMP-SMA Tosari pernah merokok.

Untuk menjembatani gap yang ada di daerah Tosari, sejak tahun 2015 pemuda Tosari bersama pemangku kepentingan lain seperti puskesmas, bidan desa, dan perangkat desa menggagas Posyandu Remaja (PR). PR menjadi program layanan kesehatan berbasis komunitas dan memberi kesempatan partisipasi aktif dari pemuda dengan terlibat menjadi kader dan anggota. Kader pemuda mengelola kegiatan mulai dari persiapan kegiatan, pelaksanaan kegiatan, dan mengajak para pemuda di daerahnya untuk ikut dan terlibat di kegiatan PR. Puskesmas dan bidan desa melakukan supervisi terkait materi kesehatan, sedangkan pihak desa membantu melegalkan kegiatan dan memberikan pendanaan. PR bertujuan untuk melihat status kesehatan, memberi pengetahuan terkait kesehatan pada pemuda, dan meningkatkan partisipasi pemuda di program terkait kesehatan. Kegiatan PR di Tosari menjadi salah satu rujukan Kementerian Kesehatan RI untuk menyusun Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Posyandu Remaja yang diterbitkan di katalog online kesga.go.id yang diimplementasikan di beberapa daerah di Indonesia. Selain itu PR di Tosari juga telah mendapat apresiasi dan berbagai penghargaan di tingkat nasional atas keberhasilan pemuda lokal menggerakkan program kesehatan di daerahnya.

Metode dan Hasil

Riset ini adalah riset kualitatif dengan pendekatan studi kasus komunitas. Partisipan dipilih melalui purposive sampling dengan kriteria berusia 10-25 tahun dan sedang aktif terlibat di kegiatan PR. Partisipan terdiri dari 10 kader, anggota, dan pemangku kepentingan PR (bidan dan kepala desa) di Tosari. Penelitian ini mengidentifikasi adanya keterkaitan kualitas program PR dengan outcome positif yang muncul pada partisipan. Kualitas program muncul bersama penjelasan partisipan terkait pengalaman terlibat di PR, dan terdiri dari adult support & structure, empowered skill building, dan expanding horizon. Memberikan pengalaman mengelola kegiatan pemuda, belajar berbagai pengetahuan baru terkait kesehatan, serta merasakan hubungan yang positif dengan teman dan orang dewasa dapat mendorong PYD dan well-being. Pemuda Tengger di Tosari terlibat dalam kegiatan komunitas dan berperan aktif sebagai agen di kegiatan PR. Kader pemuda juga mendapat kesempatan mengembangkan kemampuan seperti komunikasi dan juga pengetahuan terkait kesehatan.

Penulis: Bani Bacan Hacantya Yudanagara, S. Psi., M. Si.

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

Yudanagara, B. B., Surjaningrum, E. R., & Syamsir, S. B. (2023). Promoting positive youth development and well-being: Lesson learned from Youth Integrated Health Post in Indonesia. International Journal of Public Health Science (IJPHS), 12(4), 1456. https://doi.org/10.11591/ijphs.v12i4.23017

AKSES CEPAT