51动漫

51动漫 Official Website

Potensi Anti-Inflamasi Jahe Merah pada Periodontitis

Potensi Anti-Inflamasi Jahe Merah pada Periodontitis
Sumber: Detikfood

Periodontitis merupakan penyakit inflamasi kronis yang disebabkan oleh infeksi pada jaringan pendukung gigi. Saat inflamasi berlanjut, jaringan periodontal seperti gingiva, ligamen periodontal, sementum, dan tulang alveolar akan mengalami kerusakan. Gambaran yang paling khas dari periodontitis adalah aktivasi osteoklastogenesis dan kerusakan tulang alveolar yang bersifat irreversibel dan menyebabkan hilangnya penyangga gigi sehingga gigi goyangyang akhirnya mengakibatkan kehilangan gigi. Kehilangan gigi akan menyebabkan ketidakstabilan gigitan  dan mengurangi kualitas hidup.

Periodontitis adalah penyakit multifaktorial yang dapat disebabkan oleh bakteri, lingkungan, dan faktor host. Penyakit ini ditandai dengan respons inflamasi terhadap bakteri komensal dan patogen oral. Pada awalnya infeksi bakteri menyebabkan jaringan gingiva menjadi radang (yang disebut gingivitis). Inflamasi pada gingiva dapat terjadi terus-menerus dan jika tidak diobati, maka jaringan periodontal secara perlahan dihancurkan akibat proses inflamasi (yang disebut periodontitis).

Inflamasi jaringan pada gingivitis dan periodontitis disebabkan oleh sejumlah bakteri baik gram positif maupun gram negatif yang membentuk agregat koloni berupa biofilm dalam matriks ekstraseluler. Bakteri gram negatif yang terdapat pada margin gingiva adalah Porphyromonas gingivalis, Treponema denticola, dan Tannerella forsythia. Sedangkan bakteri gram positif yang terlibat yaitu Streptococcus sanguis, Streptococcus oralis, Streptococcus mutans, Actinomyces naeslundii, dan Actinomyces odontolyticus yang diikuti dengan munculnya bakteri sekunder seperti Fusobacterium nucleatum. Bakteri-bakteri tersebut merupakan oportunis patogen yang dapat tumbuh menjadi patogen akibat kondisi lingkungan serta respons imun host yang buruk sehingga terjadi ketidakseimabngan yang menyebabkan perkembangan periodontitis.

Hingga saat ini, prevalensi periodontitis masih tinggi, tidak hanya di Indonesia tetapi di seluruh dunia baik di negara maju maupun negara berkembang. Di Indonesia, menurut data Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) prevalensi periodontitis pada tahun 2018 mencapai 74,1%. Sedangkan di dunia, prevalensi periodontitis mencapai lebih dari 50% dan prevalensi periodontitis kronis pada orang dewasa dilaporkan mencapai 30-35%, dan sekitar 10-15% didiagnosis dengan periodontitis kronis parah.

Terapi untuk penyakit periodontal yang paling banyak digunakan adalah terapi periodontal non-bedah dan bedah yang terdiri dari prosedur scaling dan root planning, kontrol plak optimal, dan bedah flap periodontal (Vivek et al., 2021). Meskipun demikian, kebutuhan terapi tambahan seperti antibiotik dan antiinflamasi tetap diperlukan karena rekurensi dan perkembangan periodontitis tinggi akibat kemampuan biofilm untuk membentuk koloni kembali sangat cepat.

Antiinflamasi yang digunakan dalam terapi periodontitis biasanya diberikan secara sistemik dalam bentuk Non-Steroid Anti-inflammatory Drug (NSAID), namun penggunaannya dalam jangka panjang memiliki beberapa efek samping untuk sistem gastrointestinal dan ginjal. Oleh karena itu, diperlukan bahan alternatif yang dapat diaplikasikan secara lokal ke jaringan periodontal untuk membantu proses penyembuhan penyakit periodontitis kronis dengan mudah dan memiliki efek samping minimum.

Dalam beberapa dekade terakhir, kepercayaan masyarakat terhadap manfaat tumbuhan dalam pengobatan semakin meningkat. Saat ini, obat-obatan herbal tidak hanya digunakan oleh penduduk di negara berkembang tetapi juga banyak diminati di negara maju karena kegunaannya, keamanannya, dan efek sampingnya yang lebih rendah. Jahe atau Zingiber officinale merupakan tanaman yang banyak digunakan di Indonesia sebagai pengawet makanan, bumbu masakan, dan pengobatan tradisional.

Ekstrak jahe merah seperti gingerol, shogaol, curcumene, bisabolene, phenetanamine, sesquiphellandrene, zingiberene, dan zat lain dapat bermanfaat sebagai antiinflamasi dengan menghambat biosintesis prostaglandin dan leukotrien melalui penekanan 5-lipoksigenase dan siklooksigenase (COX-1 dan COX-2). Selain itu, senyawa ini juga dapat meningkatkan sintesis sitokin anti-inflamasi dan menghambat sintesis sitokin proinflamasi seperti IL-1, TNF-伪, dan IL-8 melalui penurunan regulasi NF-魏B signaling pathway. Dalam beberapa penelitian menunjukkan hasil bahwa senyawa shogaol dapat menurunkan regulasi inflamasi dan ekspresi COX-2, ekstrak senyawa heksana menghambat produksi PGE-2, TNF-伪, IL-1尾 yang berlebihan, gingerol dapat menghambat ekspresi COX-2 yang diinduksi LPS.

Penemuan ini mengidentifikasi jahe sebagai produk obat herbal yang memiliki sifat farmakologis yang sama dengan NSAID. Jahe menekan sintesis prostaglandin melalui penghambatan COX-1 dan COX-2 serta menekan biosintesis leukotrien dengan menghambat 5-lipoksigenase. Sifat farmakologis ini membedakan jahe dari NSAID yang mungkin memiliki profil terapeutik yang lebih baik dan memiliki efek samping yang lebih sedikit daripada NSAID.

Penulis: Prawati Nuraini, drg., M.Kes., Sp.KGA.

Link:

Baca juga: Efek Minyak Atsiri Jahe Merah pada Bakteri Streptococcus mutans

AKSES CEPAT