Aluminium (Al) adalah salah satu logam yang paling banyak terdistribusi di lingkungan. Di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah seperti Indonesia, industri pengecoran logam menjadi lapangan kerja yang vital bagi jutaan rumah tangga. Industri ini merupakan sumber lapangan kerja dan pendapatan yang signifikan. Industri Al di Indonesia telah berkembang pesat di kalangan masyarakat berpenghasilan rendah. Selain itu, keberadaan AI mampu menyokong pembangunan berkelanjutan bagi Indonesia. Akan tetapi, dampak negatif dari paparan AI pada tubuh juga telah banyak diteliti oleh peneliti mampu untuk menyebabkan kerusakan ginjal dan hati dalam jangka waktu yang lama.
Fungsi utama ginjal adalah mempertahankan komposisi cairan tubuh melalui penyaringan dan penyerapan zat. Proses reabsorpsi dalam tubulus proksimal dan distal adalah tugas yang paling banyak membutuhkan energi yang dilakukan oleh ginjal. Sel-sel tubulus memiliki kepadatan mitokondria yang tinggi, yang berfungsi sebagai pemasok energi. Oleh karena itu, setiap kerusakan atau disfungsi sel tubulus juga dapat mempengaruhi mitokondria dan sangat mengganggu berbagai fungsi sel ginjal. Disfungsi ginjal dapat menyebabkan retensi cairan, yang meningkatkan volume darah dan tekanan pada jantung, yang berpotensi menyebabkan gagal jantung. Al menyebabkan perubahan aktivitas sistem pertahanan antioksidan jaringan dan meningkatkan peroksidasi lipid. Ekspresi stres oksidatif ditandai dengan pembentukan spesies oksigen reaktif (ROS), yang secara langsung dapat merusak lipid dalam membran sel melalui peroksidasi lipid.
Saat ini terdapat banyak bukti bahwa akumulasi Al dalam jaringan tubuh berhubungan dengan kerusakan organ tubuh. Toksisitas Al juga menyebabkan penyakit tulang, darah, dan sistem saraf. Hal tersebut karena Al meningkatkan produksi radikal bebas di dalam tubuh, meningkatkan stres oksidatif di otak, dan mengurangi aktivitas ATPase dalam tubuh. Al yang berlebihan menyebabkan hepatotoksisitas melalui mekanisme stres oksidatif dan kerusakan fungsi ginjal. Oleh karena itu, untuk meminimalisir hal tersebut, dibutuhkan upaya untuk mengurangi dampak paparan AI dalam tubuh. Salah satu upaya tersebut adalah dengan menggunakan bahan alami yang mudah didapatkan serta tidak bersifat toksik bagi tubuh.
Resveratrol-tempeh merupakan salah satu sumber makanan yang berasal dari kedelai yang di fermentasi. Proses fermentasi kedelai dapat dioptimalkan dengan cepat dengan menggunakan ragi untuk menghasilkan resveratrol berkualitas tinggi. Gugus -OH yang lebih tinggi dari resveratrol dari fermentasi tempe memungkinkannya untuk membersihkan radikal bebas lebih baik daripada yang lain. Gugus fenol dalam resveratrol sangat penting dalam menghilangkan radikal bebas dan juga dapat berfungsi sebagai agen pengkelat dengan mengikat gugus fenol ke logam. Resveratrol adalah antioksidan kuat yang dapat membantu menjaga keseimbangan homeostatis logam dalam hati dan ginjal tikus selama paparan aluminium.
Penelitian yang telah dilakukan mengungkapkan bahwa Al cenderung meningkatkan kadar malondaldehyde (MDA) dan menurunkan kadar CAT di ginjal, yang mengakibatkan penyusutan glomerulus. Tingkat MDA di hati dan ginjal menurun pada kelompok yang menerima Al+REST10, meskipun perubahannya tidak signifikan secara statistik. Namun demikian, resveratrol-tempeh menunjukkan perbaikan pada kerusakan jaringan yang disebabkan oleh Al. Hasil penelitian menunjukkan bahwa resveratrol-tempeh tidak mempengaruhi enzim katalase dan kadar MDA pada jaringan hati dan ginjal tikus yang diobati dengan Al. Namun, terlepas dari temuan ini, efek resveratrol-tempeh pada cedera jaringan hati dan ginjal yang diinduksi oleh Al terlihat jelas. Ginjal dari kelompok yang diobati dengan Al menunjukkan glomerulus yang menyusut dan degenerasi tubulus proksimal – sama halnya dengan kerusakan jaringan hati setelah pemberian Al, dengan hepatosit yang merosot dan sinusoid yang membesar. Pemberian REST menghasilkan normalisasi gambaran histopatologi pada ginjal dan hati. Penelitian ini menunjukkan pandangan baru terkait dengan manfaat bahan alam untuk meminimalisir kerusakan jaringan yang diakibatkan oleh aluminum.
Harapannya, penelitian ini dapat menjadi penelitian awal dari efek pemberian resevratrol-tempeh untuk meminimalisir kerusakan jaringan akibat adanya AI. Selain itu, penelitian dan implementasi lebih lanjut dibutuhkan untuk mempelajari serta mengimplementasikan dari penggunaan resveratrol-tempeh bagi tubuh. Pengembangan dan dukungan instansi dibutuhkan dalam rangka pengembangan produk berbasis resveratrol-tempeh guna mengurangi dampak paparan AI bagi tubuh.





