51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Potensi Tanaman Cassia moschata sebagai Penangkal Radikal Bebas dan Penghambat Enzim Asetilkolinesterase

Foto by Pixabay

Penyakit Alzheimer adalah gangguan neurodegeneratif, yang merupakan penyebab paling umum dari demensia. Penyakit ini umumnya terjadi pada orang tua. Peningkatan usia harapan hidup berarti bahwa jumlah orang yang menderita penyakit Alzheimer diperkirakan akan meningkat setiap tahun jika tidak ditemukan pengobatan yang efektif. Rendahnya kadar neurotransmiter terutama asetilkolin merupakan salah satu ciri umum penyakit ini yang disebabkan oleh kematian saraf kolinergik serta adanya plak senilis dan neurofibrillary tangles. Oleh karena itu salah satu strategi dalam pengobatan penyakit ini adalah penggunaan penghambat enzim asetilkolinesterase (antikolinesterase) seperti tacrine, donepezil, rivastigmin, dan galantamin. Hubungan antara stres oksidatif dan penyakit neurologis, seperti penyakit Alzheimer telah banyak dilaporkan. Sejumlah penelitian eksperimental dan klinis telah menunjukkan bahwa stres oksidatif menjadi penyebab rusaknya neuron dan perkembangan penyakit menjadi demensia. Antioksidan merupakan komponen yang dapat menangkal radikal bebas sehingga dapat mencegah dan memperbaiki kerusakan saraf akibat stres oksidatif.

Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk menyelidiki sifat antioksidan dan antikolinesterase dari ekstrak etanol dan air dari daun tanaman Cassia moschata serta untuk menentukan kandungan total fenolik (TPC). Dua metode berbeda digunakan untuk mengevaluasi aktivitas antioksidan, yaitu dengan uji 2,2-difenil-1-pikril hidrazil (DPPH) dan 2,2²-azinobis-(3-etilbenzotiazolina-6-sulfonat) (ABTS). Uji penghambatan asetilkolinesterase dilakukan dengan metode Ellman yang dimodifikasi. TPC ditentukan dengan metode kolorimetri menggunakan reagen fenol Folin-Ciocalteu, dan menggunakan asam galat sebagai pembanding. Ekstrak etanol dan air dari daun Cassia moschata menunjukkan aktivitas antioksidan baik dalam pengujian dengan metode DPPH maupun ABTS. Ada perbedaan yang signifikan secara statistik dalam nilai IC50 dari ekstrak etanol dan air di kedua uji DPPH dan ABTS. Ekstrak air menunjukkan nilai IC50 yang lebih rendah dibandingkan dengan ekstrak etanol. Nilai IC50 untuk ekstrak air adalah 36,46 g/mL pada uji dengan DPPH, dan 10,61 g/mL  pada uji dengan metode ABTS dibandingkan dengan IC50 38,74 g/mL dan 17,17 g/mL untuk ekstrak etanol, masing-masing. Sedangkan ekstrak etanol menunjukkan potensi yang lebih tinggi sebagai penghambatan asetilkolinesterase dengan nilai IC50 sebesar 44,43 g/mL dibandingkan ekstrak air dengan nilai IC50 sebesar 114,60 g/mL. Pengukuran TPC menunjukkan bahwa ekstrak air memiliki kadar senyawa fenolik yang lebih tinggi daripada ekstrak etanol. Data ini menunjukkan bahwa ekstrak air dari daun Cassia moschata memiliki kemampuan yang lebih tinggi untuk menanggkal radikal bebas dibandingkan dengan ekstrak etanol, yang juga mengandung senyawa fenolik dengan kadar yang lebih tinggi. Namun, tingginya kandungan senyawa fenolik dalam ekstrak air tidak sejalan dengan aktivitas penghambat asetilkolinesterase. Adanya senyawa non-fenolik juga dapat berkontribusi pada aktivitas antikolinesterase dari ekstrak etanol tanaman Cassia moschata.

Penulis: Dr. Suciati

Informasi lebih lanjut dapat dlihat pada publikasi kami di:

AKSES CEPAT