Prevalensi Klebsiella mempunyai banyak variasi faktor virulensi yang dapat menyebabkan penyakit menular. Beberapa contoh penyakit yang disebabkan Klebsiella pneumoniae adalah pneumonia, infeksi saluran kemih, bakterimia, infeksi luka, dan abses hati. Infeksi Klebsiella pneumoniae juga berbahaya untuk kesehatan ternak karena K. pneumoniae adalah bakteri yang mudah resistan terhadap beberapa antibiotic. Oleh karena itu, prevalensi K. pneumoniae dengan extended spectrum beta-laktamase (ESBL) yang memediasi resistensi terhadap cephalosporin generasi ketiga telah meningkat di seluruh dunia. Tulisan ini akan mengulas prevalensi multirug-resistance dan Klebsiella pneumoniae penghasil ESBL pada air limbah peternakan sapi perah Jawa Timur.
Ancaman Klebsiella Pneumoniae
Kebersihan dan kesehatan sapi perah yang buruk mudah terserang infeksi penyakit berbahaya karena bakteri patogen. Klebsiella pneumoniae adalah salah satu ancaman paling serius terhadap kesehatan manusia karena dapat menular melalui hewan yang terjangkit. Misalnya, pada kasus mastits yang menular dari sapi perah yang terjangkit K. pneumoniae.
Antibiotik adalah pengobatan andalan untuk kasus mastitis yang menular dari K. pneumoniae. Efektif karena menunjukkan intramammary yang parah dan infeksi bertahan lama dan penurunan produksi susu sapi. Kontinyuitas dan penggunaan antibiotik yang tidak efektif dapat meningkatkan risiko resistensi antimikroba (AMR). Bakteri yang bersifat AMR yang terjadi secara terus menerus menyebabkan multidrug resistance (MDR). Oleh karena itu, infeksi dari bakteri ini sulit untuk diobati.
Klebsiella pneumoniae membawa gen MDR, khususnya ESBL, telah banyak dilaporkan di seluruh dunia. ESBL sekarang ini sudah menjadi masalah kesehatan yang penting karena prevalensinya cenderung meningkat sehingga mengakibatkan tingginya angka kesakitan dan kematian. Bakteri penghasil ESBL dapat menginaktifkan antibiotik golongan beta-laktam, seperti penisilin; sefalosporin generasi kedua dan ketiga; karbapenem; dan monobaktam, dengan membuka cincin beta-laktam. Lebih dari 200 jenis ESBL telah terindentifikasi. Ada peningkatan prevalensi ESBL, terutama TEM, SHV, dan sefotaksim (CTX)-M, di antara Enterobacteriaceae di Eropa dan Asia.

Air Limbah Peternakan Sapi Perah Jawa Timur
Hasil penelitian menunjukkan prevalensi K. pneumoniae yang terbawa dari air limbah peternakan sapi perah di Jawa Timur sebesar 14,32% (49/342). Itu merupakan prevalensi tertinggi di Kabupaten Malang sebesar 34,69% (17/63). Klebsiella pneumoniae adalah bakteri Gram-negatif, non-motil yang termasuk dalam famili Enterobacteriaceae. Klebsiella pneumoniae hidup di saluran pencernaan dan dapat terisolasi dari feses. Selain itu,
K. pneumoniae telah terisolasi dari berbagai sampel, seperti susu dari susu kaleng, susu dari sapi dengan mastitis, usapan dubur sapi perah, dan pupuk kendang dari sapi perah.
Pada manusia, strain K. pneumoniae yang memproduksi ESBL berhubungan dengan infeksi saluran kemih dan bakteremia. Klebsiella pneumoniae adalah seorang oportunistik patogen karena dapat menyebabkan pneumonia, infeksi luka, infeksi saluran kemih, intraabdominal, atrofi mukosa hidung, rhinoscleroma. Meskipun prevalensi K. pneumoniae pada air limbah peternakan sapi perah di Jawa Timur hanya 14,32%. Namun, hasil ini harus didekati dengan hati-hati, mengingat penyebab K. pneumoniae berbagai penyakit pada sapi perah dan manusia.
Penelitian telah menunjukkan bahwa Escherichia coli dalam air limbah peternakan sapi perah di Jawa Timur memproduksi prevalensi ESBL sebesar 22,80%. Selain itu E. coli, dan K. pneumoniae umumnya ada di permukaan air, air limbah, tanah, tanaman, dan permukaan mukosa mamalia. Sistem peternakan sapi perah tradisional yang memungkinkan pencemaran lingkungan melalui tanah dan limbah cair juga dapat meningkatkan prevalensi ESBL. Infiltrasi K. pneumoniae ke dalam air tanah kemudian menyebar ke masyarakat melalui sistem irigasi, limpasan tanah, air hujan, dan sungai. Penelitian ini bertujuan untuk memperkirakan prevalensi Klebsiella penghasil MDR dan ESBL pada air limbah peternakan sapi perah Jawa Timur serta dampaknya kepada kesehatan masyarakat.
Bakteri Penghasil ESBL
Penelitian telah menunjukkan bahwa peternak lebih mungkin terinfeksi bakteri penghasil ESBL daripada manusia yang tidak bersentuhan langsung dengan sapi perah. Hal ini memberikan gambaran tentang penyebaran ESBL dari air limbah peternakan sapi perah hingga masyarakat. Meskipun prevalensi K. pneumoniae penghasil ESBL di air limbah dari peternakan sapi perah di Jawa Timur rendah. Namun, hasil harus didekati dengan pertimbangan hati-hati bahwa peternakan sapi perah di Indonesia didominasi oleh peternak tradisional. Peternakan sapi perah di Indonesia umumnya membuang sampah ke sungai tanpa terlebih dahulu melakukan pengolahan limbahnya. Sungai dapat menjadi reservoir penting bagi penyebaran gen yang resisten, terutama ESBL, ke bakteri di hilir. Penyebab utama peningkatan tersebut adalah adanya transfer gen dalam plasmid, integron, dan transposon. Transposon, urutan penyisipan gen, dan integron memainkan peran penting dalam penyebaran gen ESBL dalam genom bakteri yang sama.
Adanya bakteri penghasil ESBL menyebabkan terbatasnya pilihan antibiotic untuk pengobatan. Bakteri yang resisten meningkatkan mortalitas, morbiditas, dan biaya medis. Dari tahun 1980 hingga 1990, infeksi nosocomial karena K. pneumoniae, sebagai bakteri produsen utama ESBL, dan bukan E. coli. Bakteri resisten muncul karena penggunaan antibiotik yang tidak rasional dan sembrono. Residu antibiotik dengan konsentrasi tinggi di lingkungan mendukung perkembangbiakan dari bakteri resisten. Pembuangan limbah cair secara langsung ke dalam lingkungan hidup merupakan masalah serius bagi kesehatan masyarakat, terutama di negara-negara berkembang. Masalah ini memerlukan kebijakan yang ketat dan kesadaran masyarakat untuk mencegah peningkatan faktor risiko bakteri MDR. Terutama terkait K. pneumoniae penghasil ESBL, pada air limbah peternakan sapi perah, di Provinsi Jawa Timur.
Kesimpulan
Penelitian ini menunjukkan bahwa 14,32% (49/342) sampel mengandung K. pneumoniae. Sementara prevalensi MDR sebesar 12,67% (43/342) dan ESBL sebesar 5,55% (19/342). Meskipun prevalensinya adalah penghasil ESBL dari K. pneumonia dalam air limbah dari peternakan sapi perah di Jawa Timur rendah. Namun, perlu kehati-hatian untuk mencegah jangan sampai air limbah ini dapat berfungsi sebagai reservoir untuk ESBL.
Dameanti FNAEP, Yanestria SM, Widodo A, Effendi MH, Plumeriastuti H, Tyasningsih W, Ugbo EN, Sutrisno R, and Akram Syah MA (2023) Prevalence of multidrug resistance and extended-spectrum beta-lactamase-producing Klebsiella pneumoniae from dairy cattle farm wastewater in East Java Province, Indonesia, Int. J. One Health, 9(2): 141“149
BACA JUGA: Hubungan Melatonin 1A dengan Ukuran Kelahiran Anak Domba





