Melasma adalah kelainan pigmentasi kulit yang ditandai dengan adanya bercak yang lebih gelap dari kulit, dapat berwarna kecoklatan hingga kehitaman dengan distribusi simetris dan tepi ireguler pada kulit yang terpapar sinar matahari. Melasma umumnya berlokasi di kedua pipi, dahi, hidung, dagu, dan kadang di leher. Melasma dapat mengenai semua tipe kulit, namun lebih sering mengenai pasien dengan tipe kulit Fitzpatrick III-IV dan setelah kehamilan.
Kejadian melasma di masyarakat sangat bervariasi bergantung pada etnis, tipe kulit, dan intensitas paparan sinar matahari. Penelitian yang dilakukan di Departemen Kulit Kelamin RS Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta menunjukkan 33,6% dari total 4559 kunjungan merupakan pasien dengan kelainan hiperpigmentasi, dengan persentase terbesar 53,45% merupakan pasien melasma. Penelitian lain yang dilakukan di URJ Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya menunjukkan pasien melasma sebanyak 1313 pasien (14,1%). Data tersebut menunjukkan angka kejadian melasma cukup tinggi.
Timbulnya melasma dapat menyebabkan kurangnya rasa percaya diri, dampak psikososial yang buruk, hingga mempengaruhi kualitas hidup pasien karena adanya bercak hitam pada kulit wajah yang menimbulkan gangguan estetika atau penampilan yang kurang baik pada pasien. Hal tersebut dapat membuat pasien melasma merasa malu dan enggan keluar rumah, bahkan ide bunuh diri juga dilaporkan pada penelitian.
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan profil dan prevalensi faktor pencetus pasien melasma di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo Surabaya dari Januari hingga Desember 2019, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi terkait faktor pencetus dan karakteristik melasma sehingga dapat menjadi upaya pencegahan dalam terapi melasma.
Metode dan Hasil
Jenis penelitian ini adalah penelitian retrospektif dengan desain deskriptif. Populasi penelitian ini adalah rekam medis pasien melasma yang berobat di URJ Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Surabaya periode Januari “ Desember 2019. Sampel penelitian ini menggunakan data sekunder dari rekam medis. Kriteria penerimaan sampel yaitu semua pasien dengan diagnosis melasma di URJ Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya periode Januari “ Desember 2019. Dari data tersebut dicatat data dasar karakteristik sampel, faktor pencetus, lokasi lesi, warna lesi, ukuran lesi, dan hasil pemeriksan lampu Wood.
Hasil penelitian ini didapatkan sampel sebanyak 82 pasien secara total sampling. 81 pasien terlibat dalam penelitian ini dan 1 pasien tidak memenuhi kriteria eksklusi karena data rekam medis meliputi usia, jenis kelamin, pekerjaan, anamnesis, dan pemeriksaan fisik yang tidak ada, kosong, atau tidak diketahui. Hasil penelitian ini menunjukkan mayoritas pasien berusia 46-55 tahun (49,4%) dan dominasi perempuan (97,5%). Pekerjaan terbanyak pasien sebagai ibu rumah tangga (40,7%). Sinar matahari menjadi faktor pencetus paling umum (96,3%). Mayoritas lesi berlokasi di area malar, yaitu pada hidung dan pipi (72,8%) dengan warna coklat muda (74,1%). 54,3% lesi berukuran 2-4 cm dengan batas tegas dan tak tegas (55,6%).
Kesimpulan
Penelitian ini menyimpulkan bahwa banyak faktor dapat yang mempengaruhi timbulnya melasma, namun sinar matahari dapat menjadi faktor yang penting. Peningkatan pemahaman dan kesadaran tentang melasma sangat penting untuk pencegahan dalam timbulnya melasma.
Penulis :
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
THE PROFILE AND TRIGGERING FACTORS OF MELASMA PATIENTS: A RETROSPECTIVE STUDY
Putri Brillian Betrista Viorizka,Trisniartami Setyaningrum, Ema Qurnianingsih, Damayanti





