Vitiligo adalah penyakit idiopatik yang menyebabkan hilangnya melanosit secara progresif dari kulit, rambut, mata, dan bagian tubuh lain yang mengandung melanosit yang ditandai dengan munculnya makula putih berbatas jelas. Penyakit ini tidak memandang ras, jenis kelamin, maupun tipe kulit. Vitiligo terjadi karena jumlah melanosit di dermis yang tidak adekuat ataupun ketidakmampuan kulit untuk memproduksi melanin. Penyakit ini dapat mengenai berbagai daerah dari tubuh. Namun, seringkali dimulai dari daerah wajah, akral, dan genitalia. Makula putih ini bermanifestasi menjadi berbagai macam bentuk dan tipe yang kadang ditemukan menyatu.
Etiopatogenesis terjadinya vitiligo masih belum jelas. Namun, dicurigai patogenesis penyakit ini meliputi faktor genetik, non-genetik, dan respon autoimun Timbulnya vitiligo menyebabkan beberapa gangguan dalam Quality of Life (QOL) pasien. Pasien vitiligo mengalami penurunan kepercayaan diri dan lebih sensitif terhadap penilaian orang lain akan dirinya. Terapi yang harus dilakukan secara rutin juga menyebabkan beberapa pasien kehilangan pekerjaannya, mengalami depresi berat, bahkan pikiran untuk bunuh diri.
Terdapat berbagai jenis pengobatan yang tersedia untuk menangani kasus vitiligo, salah satunya adalah fototerapi. Saat ini NB-UVB menjadi first-line treatment fototerapi untuk menangani vitiligo. NB-UVB dapat menginduksi sekitar 40%- 100% laju repigmentasi, tergantung pada lokasi lesi. Studi yang dilakukan oleh Silpa-Archa et al. (2018) menyebutkan repigmentasi masih terlihat di 80% pasien bahkan setelah setahun terapi berhenti. NB-UVB juga dinilai lebih aman dibandingkan jenis fototerapi lainnya karena memiliki dosis kumulatif dan efek samping yang lebih rendah.
Vitiligo dapat dimulai dari usia berapapun. Namun, lesi ini biasanya muncul sebelum dekade ketiga hidup seseorang. Hampir setengah dari pasien mendapatkan makula putih pada tubuhnya ini sebelum usia 20 tahun dan sepertiganya sebelum usia 12 tahun. Jenis kelamin tidak berpengaruh signifikan terhadap kejadian vitiligo pada seseorang. Penyakit ini tampaknya berdampak pada pria dan wanita secara seimbang. Namun, terdapat perbedaan gender yang signifikan dalam pola gangguan mental dan sosial. Perbedaan ini terutama terjadi pada wanita, berkontribusi pada peningkatan depresi, kecemasan, dan isolasi diri dari masyarakat.
Pasien vitiligo sering mengalami penurunan finansial dikarenakan jam kerja yang terpotong untuk menghadiri fototerapi di rumah sakit. Selain itu, makula putih yang tampak juga menyebabkan keterbatasan pasien dalam memilih karir hingga mempengaruhi peluang untuk mendapatkan pekerjaan saat wawancara. Pada pasien anak, mereka terpaksa harus kehilangan hari-hari penting dari sekolah dikarenakan fototerapi yang harus mereka lakukan. Faktor yang dapat menyebabkan maupun memperburuk lesi pada pasien vitiligo kurang dapat digali dari data mengenai pekerjaan pasien sehingga data ini kurang signifikan. Namun, dapat disimpulkan bahwa vitiligo dapat mempengaruhi produktivitas seseorang dalam kehidupan sehari-hari.
Terdapat kecurigaan bahwa etiopatogenesis vitiligo meliputi faktor genetik, non- genetik, dan respon autoimun. Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh Picardi dan Abeni (2001) menyatakan bahwa stres emosional seperti kematian keluarga dekat hingga penyakit yang diderita sebelumnya memiliki peran dalam terjadinya vitiligo. Sebuah penelitian yang dilakukan di RSUD Dr. Soetomo pada periode 2017 menyatakan bahwa 16,28% dari 62 pasien yang diteliti memiliki vitiligo yang dicetuskan oleh faktor non-genetik disertai stres emosional. Trauma fisik ditemui pada 19% pasien yang datang ke URJ Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo pada tahun 2019. Depigmentasi dapat berkembang pada tempat-tempat yang secara khusus mengalami trauma. Hal ini dicurigai terjadi karena perilisan faktor-faktor inflamasi yang dipicu oleh stimulus eksternal yaitu trauma. Vitiligo juga dapat dikaitkan dengan beberapa gangguan sistemik seperti obesitas dan sindrom metabolik. Intoleransi glukosa, resistensi insulin, abnormalitas lipid, dan hiperkromosisteinemia juga berperan dalam keterlibatan sistemik dalam penyakit ini.
Pada penelitian ini, didapatkan bahwa pasien dengan vitiligo yang menjalani fototerapi NB-UVB di RSU Dr. Soetomo pada tahun 2019 didominasi oleh laki-laki, berusia antara 17 dan 25 tahun, bekerja di pekerjaan “lain”, dan memiliki riwayat stres emosional. Lesi biasanya multipel, berukuran kurang dari 10 cm2 atau 11-20 cm2, dan bentuk yang paling umum adalah vitiligo generalisata.
Penulis: Dr.Trisniartami Setyaningrum,dr.,Sp.KK(K)
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Clinico-Epidemiological Profile of Vitiligo Patients Receiving Narrowband Ultraviolet-B (NB-UVB) Treatment
Anasya Putri Ramadhina, Trisniartami Setyaningrum,Artaria Tjempakasari, Damayanti





