Tulang alveolar攂agian tulang rahang yang menjadi tempat melekatnya gigi攎emiliki peran penting dalam fungsi mengunyah, estetika wajah, dan kesehatan mulut secara keseluruhan. Ketika tulang ini mengalami kerusakan akibat trauma, penyakit periodontal, pencabutan gigi, atau kelainan kongenital, pasien dapat mengalami gangguan jangka panjang seperti kehilangan dukungan gigi, perubahan struktur wajah, hingga gangguan fungsi oral. Selama ini, metode 渟tandar emas untuk memperbaiki kerusakan tersebut adalah cangkok tulang autogen, yaitu mengambil tulang dari bagian tubuh pasien sendiri. Namun, teknik ini membawa sejumlah keterbatasan: jumlah tulang donor yang terbatas, kebutuhan operasi tambahan, rasa nyeri pascaoperasi, serta risiko komplikasi.
Dalam dekade terakhir, kedokteran gigi regeneratif berkembang pesat dan menawarkan solusi lebih inovatif. Bidang ini menggabungkan biologi sel, rekayasa jaringan, dan biomaterial untuk merangsang tubuh membentuk kembali jaringan yang rusak. Salah satu pendekatan utamanya adalah 渢riad rekayasa jaringan, yaitu kombinasi sel punca, scaffold, dan faktor pertumbuhan.
Di antara berbagai sumber sel punca, Stem Cells from Human Exfoliated Deciduous Teeth (SHED) atau sel punca dari gigi susu tanggal, menjadi pusat perhatian. SHED mudah diperoleh, memiliki kemampuan proliferasi yang tinggi, serta dapat berdiferensiasi menjadi berbagai jenis sel, termasuk sel pembentuk tulang (osteoblas). Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa SHED mampu mempercepat pembentukan tulang dan memperbaiki jaringan yang rusak.
Namun, sel punca membutuhkan wadah atau tempat tumbuh yang sesuai, disebut scaffold. Scaffold berfungsi sebagai struktur tiga dimensi yang mendukung pertumbuhan dan diferensiasi sel. Dalam penelitian ini, digunakan scaffold berbahan polymethylmethacrylate (PMMA) yang dikombinasikan dengan hydroxyapatite (HA). PMMA merupakan bahan umum dalam kedokteran gigi karena stabil, biokompatibel, dan mudah dibentuk, sedangkan HA merupakan mineral utama penyusun tulang dan sangat osteokonduktif. Kombinasi keduanya menghasilkan scaffold yang kuat secara mekanis sekaligus mendukung interaksi biologis yang dibutuhkan untuk regenerasi tulang.
Penelitian ini menguji efektivitas kombinasi SHED dan scaffold PMMA揌A pada model hewan Wistar dengan defek tulang alveolar. Terdapat tiga kelompok perlakuan: tanpa terapi, scaffold PMMA揌A saja, dan scaffold PMMA揌A yang ditanami SHED. Proses penyembuhan dievaluasi melalui ekspresi berbagai penanda osteogenik, yaitu protein yang menunjukkan aktivitas pembentukan dan perombakan tulang.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok SHED揚MMA揌A memiliki peningkatan signifikan pada penanda pembentukan tulang seperti BMP2, RUNX2, ALP, TGF-尾, OCN, dan OPG. Sebaliknya, penanda resorpsi tulang seperti RANK dan RANKL tampak menurun. Temuan ini menegaskan bahwa SHED mampu merangsang diferensiasi osteoblas sekaligus menekan aktivitas osteoklas yang menyebabkan resorpsi tulang.
Sinergi antara SHED dan scaffold PMMA揌A menunjukkan bahwa sel punca menyediakan sinyal biologis yang kuat, sementara scaffold memberikan dukungan struktural serta lingkungan mikro yang ideal untuk pembentukan tulang baru. Dengan demikian, kombinasi ini berpotensi menjadi alternatif regeneratif yang lebih aman, minim invasif, dan lebih biologis dibandingkan cangkok tulang konvensional.
Meski diperlukan penelitian lanjutan dengan jumlah sampel lebih besar dan analisis molekuler lebih mendalam, hasil ini membuka peluang besar bagi masa depan perawatan kerusakan tulang alveolar攎enghadirkan pilihan terapi yang lebih efektif dan nyaman bagi pasien.
Oleh: Prof. Tania Saskianti, drg, Ph.D, Sp.KGA, SubSp. AIBK(K)., FiADH





