51动漫

51动漫 Official Website

Remaja di Asia Tenggara yang Kesepian Cenderung Merokok

Foto by Suara com

Prevalensi merokok pada remaja di Indonesia dan Asia Tenggara tetap tinggi meskipun berbagai upaya pencegahan telah dilakukan oleh pemerintah.  Kebiasaan merokok pada remaja merupakan kondisi yang sangat membutuhkan perhatian segera terutama dalam menyambut bonus demografi.  Kebiasaan merokok saat remaja dapat terbawa menjadi kecanduan nikotin seumur hidup.  Di lain pihak, dampak merokok pada penyakit tidak menular sudah banyak diketahui.  Kebiasaan merokok pada remaja dengan demikian akan dapat membebani ekonomi masyarakat secara langsung dan membebani perekonomian negara untuk menangani dampak kesehatan dari merokok hingga jangka panjang.    

Kebiasaan merokok saat remaja banyak dipengaruhi oleh teman sebaya dan kebiasaan merokok orang tua.  Sebuah studi yang merupakan kerjasama antara 51动漫, University of Queensland dan Universitas Indonesia menganalisis data Survei Kesehatan Siswa Sekolah di Dunia (GSHS) untuk melihat faktor lain dari kebiasaan merokok remaja, yaitu faktor psikososial berupa rasa kesepian, merasa memiliki teman dekat dan perasaan dipahami oleh orang tua.  Studi ini menggunakan data dari 68427 siswa berusia 13-17 tahun yang tersebar di Brunei, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Filipina, Thailand, Timor Leste dan Vietnam.  Studi ini penting bagi negara-negara di Asia Tenggara karena wilayah ini merupakan salah satu wilayah di dunia dengan perokok terbanyak. 

Hasil studi menunjukkan bahwa kebiasaan merokok remaja berhubungan dengan rasa kesepian, rasa tidak memiliki teman dekat dan orang tua tidak memahami kekuatiran yang dialami anaknya.  Remaja putra perokok lebih merasa kesepian daripada remaja putri perokok.  Studi ini membuktikan bahwa remaja yang merasa kesepian lebih cenderung untuk merokok.  Ini mungkin terjadi karena remaja merasa ingin menjadi bagian dari sesuatu dan jika mereka merasa tidak menjadi bagian tertentu, mereka akan mencari sumber afiliasi baru.  Dengan demikian remaja di daerah dengan prevalensi merokok yang tinggi dan merokok dianggap normal, mulai mencoba merokok untuk menemukan afiliasi baru.

Kurangnya pengawasan atau kualitas hubungan dengan orang tua mungkin menyebabkan remaja merasa terlantar dan terkucil sehingga meningkatkan perasaan kesepian dan risiko merokok.  Demikian pula rasa tidak memiliki teman.  Perasaan ini menunjukkan kurangnya hubungan sosial dengan teman sehingga remaja mungkin merokok untuk mengurangi stres. 

Studi ini juga menemukan bahwa ada perbedaan antar jenis kelamin dalam hal hubungan faktor kesepian dengan merokok.  Hubungan antara rasa kesepian dan merokok lebih erat pada remaja putra.  Remaja putra mungkin merokok untuk mempertahankan hubungan sosial, meningkatkan rasa percaya diri dan menurunkan perasaan negatif dari kesepian. Sementara itu, remaja putri yang tidak memiliki teman dekat memiliki risiko lebih besar untuk merokok, kemungkinan karena perempuan yang merokok lebih tidak diterima di masyarakat dibandingkan dengan laki-laki yang merokok.  Merokok mungkin menyebabkan remaja putri terisolasi, atau sebaliknya isolasi sosial mendorong remaja putri untuk merokok.  Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa faktor kesepian berhubungan erat dengan perilaku merokok pada remaja, walaupun besar hubungannya berbeda antara remaja putra dan remaja putri. 

Temuan-temuan tersebut di atas memberi peluang untuk mengeksplorasi metode-metode baru dalam upaya mencegah merokok dan upaya berhenti merokok pada remaja melalui intervensi yang dapat menurunkan rasa kesepian.  Program intervensi tersebut dapat berfokus pada pemberian dan penerimaan dukungan sosial  yang dapat meningkatkan rasa percaya diri, mengurangi perasaan terisolasi.

Penulis: Susy Katikana Sebayang, SP., MSc.PHD

Studi ini dapat diakses secara lengkap pada link berikut:

AKSES CEPAT