Penganggaran merupakan salah satu mekanisme yang berperan penting bagi organisasi, yaitu sebagai alat manajemen yang paling banyak digunakan untuk perencanaan strategis, fasilitas tugas manajemen, dan pengendalian. Selain peran anggaran dalam organisasi, dalam konteks penelitian, anggaran juga merupakan isu yang sangat penting dalam literatur akuntansi manajemen. Setidaknya terdapat dua aspek yang sering dijadikan sebagai investigasi utama terkait dengan penganggaran yaitu untuk pengukuran kinerja akuntansi dan isu tentang participative budgeting. Penelitian tentang participative budgeting sangatlah penting untuk dikaji secara kontinyu karena participative budgeting sangat umum digunakan untuk meningkatkan efisiensi dalam proses alokasi sumber daya, khususnya pada perusahaan-perusahaan dengan sistem desentralisasi. Bagi perusahaan yang terdesentralisasi, proses penganggaran menjadi salah satu cara yang paling sering digunakan untuk alokasi sumber daya melalui pengumpulan informasi dari para bawahan yang memiliki perkiraan paling dekat dengan penggunaan sumber daya. Participative budgeting dapat memberikan manfaat bagi perusahaan yaitu dapat menghasilkan informasi yang berguna untuk proses pengambilan keputusan ketika para bawahan yang terlibat melaporkan informasi dengan jujur. Namun, penggunaan participative budgeting juga dapat merugikan perusahaan ketika tujuan bawahan tidak selaras dengan tujuan organisasi, yang memungkinkan bawahan untuk menyalahsajikan informasi private dan menciptakan slack dalam menyusun anggaran.
Budgetary slack merupakan salah satu permasalahan yang penting dan sering dilakukan pada proses penyusunan anggaran. Bugetary slack dapat didefinisikan sebagai sumber daya keuangan atau lainnya yang dikendalikan oleh manajer dengan melebihkan jumlah optimal untuk mencapai tujuannya seperti melebihsajikan beban, mengurangsajikan pendapatan. Budgetary slack merupakan isu ataupun fenomena yang melekat pada setiap organisasi. Frekuensi atas terjadinya budgetary slack, yaitu hampir di setiap penyusunan anggaran, menjadikan isu mengenai budgetary slack semakin menarik untuk diteliti, terutama untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat memengaruhi penciptaan slack. Budgetary slack dapat terjadi sebagai konsekuensi atas kepemilikan informasi yang lebih lengkap dari bawahan, karena adanya asimetri informasi. Pada saat terdapat asimetri informasi, dan ketidakselarasan tujuan individu dengan tujuan organisasi, penyusun anggaran cenderung memanfaatkan kondisi tersebut untuk memaksimalkan kepentingan pribadinya.Kondisi lain yang dapat menjelaskan perilaku oportunis dalam konteks penyusunan anggaran adalah karena fungsi anggaran sebagai salah satu alat untuk pengukuran kinerja. Perusahaan menjanjikan karyawannya dengan insentif tertentu apabila dapat mencapai target yang telah ditetapkan. Sehingga, para manajer atau bawahan akan menyusun anggaran melalui penyesuaian terhadap kemampuannya dalam memenuhi target anggaran, yaitu dengan cara meningkatkan target biaya atau menurunkan target pendapatan.
Sementara itu, terdapat pendapat bahwa penciptaan slack yang muncul dari participative budgeting tidak hanya ditentukan oleh satu faktor tapi merupakan kombinasi dari berbagai faktor seperti faktor lingkungan organisasi, individu, teori motivasi. Artinya adalah tindakan untuk melakukan budgetary slack dapat terjadi karena faktor internal dan eksternal. Faktor internal yang dimaksud adalah faktor yang berhubungan dengan pada kekuatan-kekuatan internal yang ada pada individu. Untuk dapat mencegah atau menimalkan terjadinya budgetary slack, maka penting untuk memahami determinan budgetary slack terlebih dahulu agar mekanisme pengendalian dapat digunakan dengan tepat. Salah satu determinan yang penting untuk dipahami lebih lanjut adalah faktor internal dari individu khususnya dari para bawahan, karena mereka adalah pihak yang terlibat langsung dalam proses penyusunan anggaran serta pihak yang lebih mengetahui informasi-informasi yang berkaitan dengan alokasi sumber daya. Salah satu faktor internal yang dapat memengaruhi perilaku individu adalah motivasi, termasuk mengenai motivasi tentang need for achievement.
Karakter yang menonjolkan kebutuhan akan pencapaian sesuatu juga dapat menjadi salah satu motivasi untuk melegitimasi tindakan tertentu, termasuk ketika berada pada kondisi yang memungkinkan bagi individu untuk memaksimalkan bonus dengan cara melakukan budgetary slack. Berbagai kemungkinan yang dapat menyebabkan terjadinya budgetary slack, menunjukkan bahwa para penyusun selalu memiliki peluang dan insentif untuk menciptakan slack, sementara terjadinya slack dapat merugikan organisasi, yaitu alokasi sumber daya menjadi tidak efisien. Hal ini didukung dari sudut pandang akuntansi yaitu organisasi berupaya mencegah atau mengurangi budgetary slack karena memiliki konsekuensi yang dapat merugikan organisasi, menghilangkan laba atau peluang dan meningkatkan biaya. Upaya pencegahan dapat diwujudkan melalui sistem pengendalian yang memadai dan memungkinkan untuk mencegah perilaku oportunis terkait dengan budgetary slack. Pengembangan pengendalian anggaran penting bagi perusahaan karena pengendalian anggaran yang efektif dapat membantu perusahaan untuk mengurangi perilaku dysfunctional dari para penyusun anggaran, termasuk para bawahan yang terlibat langsung pada aktivitas operasional.
Mekanisme pengendalian yang dapat digunakan oleh perusahaan tidak hanya yang berbentuk formal seperti kode etik yang tertulis dengan jelas, kebijakan-kebijakan seperti kebijakan feedback control, tetapi juga dapat melalui pengendalian yang tidak formal. Pengendalian formal adalah suatu mekanisme ditetapkan secara struktural oleh organisasi sebagai bagian dari prosedur organisasi untuk mencegah dan mendeteksi perilaku disfungsional, sedangkan pengendalian tidak formal adalah mekanisme pengendalian yang ditetapkan melalui lingkungan dan budaya organisasi yang dapat memengaruhi perilaku anggota organisasi agar selaras dengan tujuan organisasi.
Pengendalian dalam bentuk informal dapat berupa reputasi dari pimpinan atau atasan. Reputasi atasan diprediksi dapat memengaruhi perilaku anggota organisasi, dengan cara pimpinan memastikan bahwa aktivitas operasional dapat berjalan dengan efektif dan efisien serta memenuhi tujuan organisasi, sehingga kecenderungan budgetary slack yang diciptakan oleh bawahan dapat berkurang. Meskipun literatur dalam akuntansi manajemen telah menguji secara empiris mengenai jenis-jenis sistem pengendalian yang dapat digunakan untuk mengurangi budgetary slack . Akan tetapi, sebagian besar penelitian terdahulu lebih berfokus pada pengendalian formal untuk mengurangi budgetary slack. Penelitian tentang pengendalian informal sebagai cara untuk mencegah perilaku oportunis masih relatif sedikit meskipun pada dasarnya setiap jenis pengendalian merupakan mekanisme yang penting bagi organisasi. Perbedaan intensitas penggunaan mekanisme pengendalian ini dapat menimbulkan pertanyaan apakah pengendalian informal dapat berfungsi sebagai pelengkap atau pengganti mekanisme pengendalian formal. Oleh karenanya, Fitri dkk (2022) melakukan penelitian yang membahas hal tersebut. Dimana pada penelitian terseut membahas mengenai pentingnya peran pengendalian informal berupa reputasi pimpinan atau atasan dengan cara menguji kembali pengaruhnya terhadap budgetary slack. Selain itu penelitian tersebut menginteraksikan faktor motivasi internal dari individu, yaitu need for achievement yang dapat menimbulkan perilaku oportunis dengan peran pengendalian informal untuk mengendalikan kecenderungan untuk menciptakan budgetary slack.
Partisipan yang akan dilibatkan yaitu mahasiswa akuntansi dan manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Sementara pengujian hipotesis akan dilakukan dengan metode independent sample t-test dan ANOVA. Riset empiris yan berhasil dibuktikan pada penelitian tersebut adalah bahwa bawahan yang memilki atasan dengan reputasi favorable cenderung menciptakan slack yang lebih rendah dibandingkan ketika memiliki atasan yang reputasinya unfavorable. Sementara, jika bawahan memiliki karakter need for achievement yang tinggi, maka bawahan akan cenderung menciptakan budgetary slack yang lebih tinggi. Studi ini juga menunjukkan bahwa budgetary slack yang cenderung diciptakan oleh bawahan dengan karakter need for achievement yang tinggi dapat menjadi lebih rendah apabila memperoleh atasan yang favorable daripada atasan yang unfavorable. Penelitian ini berhasil mendukung minimnya literatur yang membahas mengenai peran dari pengendalian informal dalam membatasi penciptaan budgetary slack. Penelitian ini memberikan referensi tentang bagaimana mengkombinasikan kondisi organisasi yang memiliki bawahan dengan karakter NFA yang tinggi dengan tindakan preventif seperti menyusun pengendalian informal (atasan bereputasi), agar slack yang biasanya melekat dalam penyusunann anggaran dapat diminimalkan. Bahan materi yang digunakan pada saat eksperimen tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi bisnis yang sesungguhnya, yaitu proses penganggaran yang disederhanakan, sehingga belum tentu menangkap seluruh faktor yang bisa menentukan besarnya budgetary slack. Hasil penelitian memiliki implikasi praktis yaitu suatu organisasi dapat memaksimalkan efektivitas pengendalian seperti dengan menciptakan suatu kondisi agar atasan dapat meningkatkan reputasinya.
Penulis: Niluh Putu Dian Rosalina Handayani Narsa, S.A., M.Sc.
Link jurnal: https://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/JIA/article/view/43117





