51动漫

51动漫 Official Website

Resistensi Fluoroquinolon dan Analisis Filogenetik Isolat Campylobacter Jejuni Dari Ayam Pedaging di Indonesia

Infeksi Campylobacter jejuni menyebabkan penyakit jumlahnya lebih dari 500 juta kasus gastroenteritis setiap tahunnya, merupakan penyebab paling umum dari penyakit diare di seluruh dunia. Sebagian besar kasus pada manusia terjadi disertai gastroenteritis, dengan gejala akut berair atau berdarah diare, muntah, sakit perut, dehidrasi, dan demam. Campylobacter jejuni sangat patogen dan mempunyai kemampuan menyebabkan komplikasi kesehatan seperti arthritis reaktif, iritasi usus besar sindrom, septikemia, iritasi usus besar, sindrom Miller Fisher (MFS) dan Sindrom Guillain Barre (GBS).

Mengkonsumsi unggas yang terkontaminasi Campylobacter jejuni, juga melalui konsumsi telur dan daging, merupakan sumber utama sporadis campylobacteriosis pada manusia. Manusia juga bisa tertular melalui aktivitas dimana manusia bersentuhan dengan kotoran unggas, seperti membersihkan kandang unggas, mengganti alas kandang, dan penanganan unggas, karena unggas mengeluarkan bakteri Campylobacter jejuni melalui kotorannya. Meluasnya penggunaan antibiotik dalam peternakan ayam, menurut banyak penelitian, merupakan salah satu faktornya dalam peningkatan resistensi antimikroba (AMR). Enrofloxacin adalah antimikroba dari kelompok fluoroquino yang kelas tunggal sering digunakan untuk tujuan profilaksis atau terapeutik di bidang perunggasan. Pada unggas, enrofloxacin umumnya ditambahkan diberikan air minum, sedangkan pada babi dan sapi pengobatannya hanya sebatas pada penderita penyakit saja. Hasilnya, Campylobacter yang diisolasi dari ayam mempunyai jumlah tertinggi tingkat resistensi fluoroquinolone. Hal ini tentu saja menjadi perhatian karena bakteri resisten terhadap antimikroba dapat menular dengan cepat ke manusia melalui makanan yang berasal dari unggas dan menyebabkan infeksi yang sulit diobati.

Karena lonjakan strain Campylobacter yang resisten terhadap antibiotic, khususnya fluoroquinolones, maka bakteri ini baru-baru ini menjadi masalah yang signifikan bagi kesehatan manusia. Jumlah strain Campylobacter yang resistan terhadap penggunaan obat ciprofloxacin meningkat hampir dua kali lipat dalam 20 tahun terakhir. Sebagian besar kasus pada Campylobacteriosis pada manusia bersifat self-limited dan tidak memerlukan terapi antibiotik

dalam kasus yang jarang terjadi, infeksi dapat berlanjut menjadi bakteremia atau menjadi infeksi ekstraintestinal dan memerlukan terapi antibiotik, terutama pada orang dengan gangguan sistem kekebalan tubuh. Dalam kasus seperti ini, obat pilihan yang sering diberikan pada manusia adalah fluoroquinolone, yang merupakan antibiotik golongan terakhir. Fluoroquinolone adalah antibiotik yang umumnya digunakan untuk mengobati semua penyakit diare. Namun penggunaan antibiotik berlebihan pada manusia dan hewan telah meningkatkan resistensi bakteri ini terhadap fluoroquinolones.

Resistensi fluoroquinolone pada Campylobacter jejuni terutama disebabkan oleh mutasi tunggal C257T pada penghambat resistensi quinolones wilayah terminasi (QRDR) dari gen gyrA, yang terhubung ke mutasi treonin-ke-isoleusin tunggal (Thr-86-Ile) dari gen gyrA pada isolat dari manusia dan hewan. Kapan transisi C ke T terjadi pada kodon 86 di QRDR gen gyrA, yang merupakan hasil substitusi Thr-86-Ile, menghasilkan resistensi tingkat tinggi terhadap fluoroquinolones. Ada penelitian yang melaporkan hal lain substitusi yaitu Thr-86-Ala pada gyrA QRDR yang berperan dalam resistensi fluoroquinolone, tetapi memberikan resistensi yang lebih rendah secara fenotip jika dibandingkan dengan Thr-86-Ile. Polimerase

Chain Reaction (PCR) atau metode berbasis urutan yang menargetkan QRDR wilayah gyrA telah terbukti sangat prediktif untuk mendeteksi Campylobacter jejuni yang secara fenotip resisten terhadap fluoroquinolones.

Informasi mengenai resistensi antimikroba pada Campylobacter jejuni di negara berkembang sangat kurang, terutama secara genotip. Saat ini, tidak ada data tentang resistensi antimikroba molekuler di Campylobacter di Indonesia. Sejauh pengetahuan penulis, ini adalah yang pertama penelitian fluoroquinolones di Indonesia yang bertujuan untuk mendeteksi kejadian

resistensi tunggal dan menganalisis filogenetik dengan mengurutkan subunit gyrase A dari isolat ayam pedaging Campylobacter jejuni.

Hasil penelitian menunjukkan tingginya jumlah kasus Campylobacter jejuni yang memiliki resistensi terhadap fluoroquinolone. Ini memberikan hal yang penting untuk bimbingan bagi dokter dan dokter hewan dalam memberikan terapi yang bijaksana untuk kasus campylobacteriosis pada manusia dan hewan dalam waktu yang sama pada area geografis.

Sebanyak 31 isolat Campylobacter jejuni diuji menggunakan PCR untuk mengetahui gen pengkode resistensi fluorquinolon yaitu gyrA. Semua terdeteksi memiliki gen gyrA. Karena Campylobacter jejuni hanya membutuhkan satu mutasi pada fluoroquinolones penentu resistensi tunggal (QRDR) gyrAse A untuk memberikan resistensi terhadap fluoroquinolones pada bakteri, hal ini membuktikan bahwa tingkat identifikasi gen resistensi gyrA pada spesies ini tinggi.

Mutan yang resisten terhadap fluoroquinolones muncul dengan cepat dan mudah baik pada hewan maupun manusia karena hanya satu mutasi titik diperlukan untuk resistensi tingkat tinggi. Mutasi yang paling umum adalah Thr-86-Ile. Ada mutasi lain yang juga terjadi pada Campylobacter jejuni gyrAse A yaitu mutasi Ala-70-Thr dan Asp-90-Asn, namun mutasi ini jarang terjadi dan menyebabkan resistensi menengah terhadap fluoroquinolones. Penelitian lain juga membuktikan adanya peningkatan strain resistensi fluoroquinolone di seluruh dunia

juga terjadi karena garis keturunan klonal Campylobacter jejuni yang resisten terhadap fluoroquinolones.

Gen gyrA merupakan satu-satunya gen yang mengkode resistensi fluoroquinolones pada Campylobacter jejuni, meskipun pada bakteri lain seperti E. coli, adanya mutasi di gyrAse B atau gen gyrB juga mengkode resistensi fluoroquinolones. Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa gyrAse B adalah mutasi yang tersembunyi pada Campylobacter jejuni.

Isolat pada penelitian ini berasal dari ayam broiler dan setelah dianalisis filogenetik ditemukan bahwa semua Campylobacter jejuni gen gyrA yang berasal dari ayam berada pada cluster yang sama yaitu cluster I. Namun Campylobacter jejuni gen gyrA berasal dari manusia dan hewan lainnya seperti ayam dan sapi juga ada di cluster I. Analisis filogenetik penelitian menggunakan gen Campylobacter jejuni gyrA mengungkapkan tingkat kemiripan yang tinggi antara isolat dari manusia dan hewan. Kesamaan dalam distribusi urutan gen gyrA menjadi bukti antara isolat ayam dan manusia menunjukkan adanya kasus infeksi Campylobacter jejuni pada manusia yang berhubungan dengan konsumsi produk makanan unggas yang terkontaminasi Campylobacter jejuni, atau melalui kontak langsung dengan ayam.

Hal ini akan mengesampingkan penggunaan antibiotik ini untuk mengobati campylobacterriosis, karena penggunaan obat golongan fluoroquinolone pada unggas harus dievaluasi mengingat fluoroquinolones digunakan untuk mengobati campylobacteriosis pada manusia.

Penulis korespondensi: Prof. Dr. Mustofa Helmi Effendi, drh., DTAPH

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

Sheila M. Yanestria, Mustofa H. Effendi, Wiwiek Tyasningsih, Aswin R. Khairullah, Shendy C. Kurniawan, Ikechukwu B. Moses, Rosmita Ikaratri, Muhammad E.E. Samodra, Fidi N.A.E.P. Dameanti, Otto S.M. Silaen, Mariyono Mariyono, Abdullah Hasib. 2024. Fluoroquinolone resistance and phylogenetic analysis of broiler Campylobacter jejuni isolates in Indonesia. Journal of Advanced Veterinary Research (2024) Volume 14, Issue 1, 204-208

AKSES CEPAT