Penggunaan monosodium glutamat (MSG) telah meningkat di seluruh dunia dalam beberapa tahun terakhir seiring dengan meningkatnya rasa palatabilitas dan pemilihan makanan dalam suatu makanan. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak penelitian yang dilakukan mengenai dampak buruk konsumsi MSG. Konsumsi MSG yang berlebihan merupakan permasalahan yang mengkhawatirkan di kalangan masyarakat dari berbagai belahan dunia. Banyak penelitian ilmiah MSG memiliki efek degeneratif pada tubuh bila dikonsumsi secara berlebihan. Penggunaan MSG yang berlebihan telah terbukti meningkatkan stres oksidatif pada berbagai sistem organ dan menyebabkan gangguan metabolisme glukosa, obesitas, dan penyakit jantung koroner.
Ginjal adalah organ yang sangat sensitif terhadap bahan kimia seperti MSG. Asupan MSG oral kronis pada tikus menyebabkan perubahan sistem antioksidan dan produk samping peroksidasi lipid tikus yang dipapar MSG. MSG dapat meningkatkan pH urin tikus dan menyebabkan urin menjadi basa yang mempengaruhi kapasitas ginjal untuk mensekresi atau menyerap kembali metabolit yang berkontribusi terhadap pembentukan batu. Pengaruh toksisitas MSG pada jaringan dan organ dipengaruhi oleh produksi Spesies Oksigen Reaktif (ROS) eksogen. Produksi ROS yang berlebihan akan mempengaruhi aktivitas membran sel peroksidasi membran lipid dan pada akhirnya menyebabkan sel mengalami nekrosis akibat stres oksidatif.
Antioksidan merupakan bahan alami yang dapat melindungi membran lipid dari oksidasi. Madu mengandung sifat antioksidan seperti asam fenolik dan flavonoid yang dapat menekan stres oksidatif. Madu yang dihasilkan lebah madu A. dorsata mempunyai sifat antioksidan dan berperan sebagai radikal bebaspemulung. Madu A. dorsata mempunyai kandungan senyawa fenolik dan flavonoid tertinggi jika dibandingkan dengan madu lainnya seperti madu Akasia, madu Kalimantan, dan madu Nanas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek perlindungan madu A. dorsata terhadap perubahan histopatologi ginjal mencit yang terpapar MSG.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efek perlindungan madu Apis dorsata terhadap perubahan histopatologi ginjal pada tikus yang dipapar monosodium glutamat. Penelitian ini menggunakan 25 mencit jantan yang dibagi menjadi lima kelompok dengan lima ulangan masing-masing yaitu (C-) diberi pakan basal, (C+) diberi MSG 4 mg/g BB, (T1) diberi madu A. dorsata sebanyak 53,82 mg /20g BB diikuti MSG 4 mg/g BB, (T2) diberikan madu A. dorsata sebanyak 107,64 mg/20g BB diikuti MSG 4 mg/g BB, dan (T3) diberikan madu A. dorsata sebanyak 161,46 g/ 20g BB diikuti MSG 4 mg/g BB. Semua perlakuan dilakukan secara oral selama 52 hari. Penelitian ini mengamati degenerasi hidropik epitel tubulus, nekrosis epitel, dan nekrosis glomerulus. Data dianalisis menggunakan uji Kruskal-Wallis yang dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney. Hasilnya, untuk variabel nekrosis epitel dan glomerulus, kelompok T3 menunjukkan hasil yang signifikan jika dibandingkan dengan kelompok C+, T1, dan T2. Selain itu, T3 tidak berbeda signifikan dengan kelompok C-. Dapat disimpulkan bahwa madu A. dorsata pada kelompok T3 mampu melindungi ginjal mencit dari efek merusak MSG.
Penulis: Widjiati
Publikasi di Jurnal: Jurnal Medik Veteriner
Link Artikel: https://e-journal.unair.ac.id/JMV/article/view/46242/27575





