51动漫

51动漫 Official Website

Respon Imun Vaksin Sars-Cov-2 pada Populasi Obesitas

Secara umum, vaksin COVID-19 memberikan kekebalan yang baik terhadap infeksi COVID-19. Namun, ada beberapa faktor yang mempengaruhi imunogenisitas vaksin, misalnya kondisi kronis seperti hipertensi, termasuk status gizi seseorang. Obesitas terbukti meningkatkan keparahan infeksi sekaligus menurunkan respons humoral terhadap vaksin COVID-19. Fenomena ini terlihat ketika penderita obesitas mengalami peradangan kronis yang disertai dengan gangguan respons imun. Orang yang mengalami obesitas cenderung mengalami gangguan produksi sitokin, fungsi sel pembunuh alami yang kurang, dan ketidakseimbangan sel T CD8+ dan CD4+, yang dapat menyebabkan penurunan respons imun terhadap vaksin COVID-19. Obesitas diketahui melemahkan respons imun tidak hanya pada vaksinasi COVID-19 tetapi juga pada vaksinasi lainnya. Obesitas juga dikaitkan dengan perkembangan diabetes dan hipertensi, yang juga memengaruhi respons imun terhadap COVID-19 dan tingkat keparahan infeksi.

Kami telah melakukan tinjauan sistematis terhadap respons antibodi vaksin COVID-19 pada populasi dengan obesitas. Penelitian menunjukkan produksi antibodi yang lebih rendah pada populasi obesitas yang menerima jenis vaksin SARS-CoV-2. Herzberg J dkk. juga menemukan bahwa meskipun tidak ada perbedaan yang signifikan dalam rasio antibodi setelah sembilan bulan, perubahan respons antibodi awal, dan respons sel T antar kelompok, terdapat antibodi penetralisir yang lebih rendah secara signifikan antara subjek obesitas dan berat badan normal dengan persentase 58,68 dan 70,07, masing-masing. Watanabe M dkk. juga menunjukkan titer antibodi yang lebih rendah pada populasi obesitas.

Fenomena ini disebabkan adanya kelebihan lemak tubuh pada populasi obesitas. Lemak tubuh terdiri dari jaringan adiposa yang kaya akan reseptor enzim pengubah angiotensin 2 (ACE-2). SARS-CoV-2 menggunakan reseptor ACE-2 untuk masuk ke sel untuk mereplikasi dan menghasilkan penyakit. Dengan demikian keberadaan reseptor ACE-2 di jaringan adiposa dapat meningkatkan kemungkinan infeksi dan menurunkan efektivitas vaksinasi. Selain itu, jaringan adiposa mengganggu respon imun. Adipositas yang berlebihan dapat merusak sel B, yang meningkatkan imunitas humoral dan memberikan respons pro dan anti-inflamasi terhadap penyakit. Hal ini juga penting untuk memproduksi sitokin, kemokin, dan sel penyaji antigen. Oleh karena itu, terdapat penurunan respons imun yang signifikan pada populasi penderita obesitas.

Mekanisme yang mendasari hal tersebut masih berupa hipotesis, termasuk gangguan fisiologi jaringan limfoid, diskoordinasi antara imunitas adaptif dan bawaan, kurangnya sel penyaji antigen, dan gangguan kemampuan menahan patogen. Mekanisme ini juga menjelaskan bahwa respons vaksin COVID-19 cenderung lebih cepat berkurang pada populasi obesitas dibandingkan populasi normal, dengan rasio risiko masing-masing sebesar 2,44 kali lipat dan 1,82 kali lipat.

Tidak hanya mengganggu efektivitas vaksin COVID-19, obesitas juga meningkatkan kemungkinan terkena infeksi COVID-19 yang parah. Diketahui, obesitas berkorelasi dengan penyakit penyerta lain seperti diabetes, penyakit serebrovaskular, penyakit kardiovaskular, dan gangguan paru. Pasien obesitas juga cenderung memiliki aktivitas inflamasi yang lebih tinggi, yang dapat merusak organ pada tahap awal penyakit dibandingkan pasien dengan berat badan normal. Oleh karena itu, penelitian lain mencatat peningkatan risiko rawat inap sebesar 5 hingga 10 persen untuk setiap peningkatan 1 kg/m 2 BMI. Hal ini juga dapat disebabkan oleh obesitas yang meningkatkan beban paru-paru sehingga dapat berdampak lebih besar ketika penyakit paru-paru seperti COVID-19 menyerang.

Meskipun obesitas dapat mengurangi imunogenisitas setelah vaksinasi COVID-19 dan dapat memperburuk perkembangan COVID-19, vaksin COVID-19 dilaporkan dapat melindungi pasien obesitas. Butsch WS dkk. melaporkan bahwa vaksin COVID-19 dengan berbagai jenis (Pfizer, Moderna, Janssen/Johnson, AstraZeneca) berhasil melindungi populasi obesitas. Efisiensinya tidak berbeda secara signifikan antara populasi yang mengalami obesitas dan non-obesitas. Hal ini selanjutnya dikonfirmasi oleh Golec M dkk. dan Piernas C et al., yang mempelajari sembilan juta populasi di Inggris dan menyatakan bahwa vaksinasi COVID-19 memberikan perlindungan yang signifikan bagi populasi obesitas terhadap infeksi COVID-19 parah dan kematian akibat COVID-19 dengan rasio risiko masing-masing sebesar 0,32 dan 0,26 kali lipat.

Terdapat faktor-faktor lain yang berkontribusi terhadap efektivitas vaksin COVID-19 pada populasi obesitas. Oleh karena itu, berbagai variabel yang dapat mempengaruhi respon imun terhadap vaksin COVID-19, selain obesitas, harus diperhatikan dengan baik sebelum memberikan vaksinasi COVID-19.

Penulis: Prof. Dr. Gatot Soegiarto, dr., Sp.PD, K-AI

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

Arafah, N., Soegiarto, G., Wulandari, L. 2023. The immune response of SARS-CoV-2 vaccine in population with obesity: a systematic review. Bali Medical Journal 12(2): 1522-1527. DOI: 10.15562/bmj.v12i2.4170   

AKSES CEPAT