Rotavirus A (RVA) adalah penyebab utama gastroenteritis akut akibat virus (AGE) pada bayi dan anak-anak di seluruh dunia yang mengifeksi 128.500 anak di bawah usia 5 tahun pada tahun 2016. Di Asia Tenggara, diare terkait RVA menyumbang 40,8% kasus antara tahun 2008 dan 2018, dan merupakan penyebab utama kematian di antara anak-anak di bawah usia 5 tahun. Di Indonesia pada tahun 2016-2018 dengan prevalensi sekitar 31,7%-55,4%, dan RVA merupakan penyebab utama gastroenteritis akut pada pasien rawat inap di rumah sakit anak dan rumah sakit umum. Vaksin RVA pertama kali disetujui di Amerika Serikat pada tahun 2006. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) saat ini merekomendasikan penggunaan empat vaksin RVA oral: Rotarix (GlaxoSmithKline Biologicals, Rixenstart, Belgia), RotaTeq (Merck Sharp & Dohme LLC, Rahway, NJ), RotaSiil (Serum Institute of India, Pune, India), dan Rotavac (Bharat Biotech, Telangana, India). Uji klinis dan penggunaan vaksin-vaksin ini di dunia nyata telah memvalidasi keamanan dan kemanjuran semua vaksin RVA. Namun, efektivitasnya lebih rendah di negara berkembang dibandingkan di negara maju. Di negara-negara berpenghasilan rendah yang tidak memiliki program vaksinasi RVA dari pemerintah, diare yang disebabkan oleh infeksi RV memiliki konsekuensi yang serius, yang berkontribusi terhadap keragaman genotipe RVA. Di Indonesia, dua vaksin RVA, Rotarix dan RotaTeq, telah tersedia secara komersial sejak tahun 2013.
Keberadaan reassortant antar-genotipe menyoroti keragaman yang luas di dalam RVA. Selain itu, temuan terbaru tentang strain reassortant antar-genotipe ini menggarisbawahi penyebaran strain RVA langka yang sedang berlangsung di seluruh Asia dan wilayah lain. Meskipun strain RVA reassortant telah dideskripsikan dalam banyak penelitian, namun hanya muncul secara sporadis hingga munculnya reassortant G1P [8] -DS-1-like yang dilaporkan di Jepang pada tahun 2014. Kami sebelumnya melaporkan G3 RVA yang mirip kuda sebagai strain yang dominan di antara anak-anak di Indonesia pada tahun 2015-2016. Namun, dari Juli 2017 hingga 2018, strain RVA yang dominan sepenuhnya digantikan oleh genotipe G1 dan G3 khas manusia, yang menunjukkan perubahan dinamis pada genotipe RVA dari G3 mirip kuda menjadi G1 dan G3 khas manusia.
Penemuan strain RVA G9P[4] yang tidak biasa baru-baru ini menekankan penyebaran RVA yang sedang berlangsung di Asia dan wilayah lainnya. Secara khusus, strain mirip G9P[4]-DS-1, yang telah dilaporkan di beberapa negara di luar Asia Tenggara sejak tahun 2011, pertama kali terdeteksi di Indonesia pada tahun 2018. Pada tahun 2022, sebagian besar kasus positif RVA (24 dari 26) diidentifikasi sebagai G9P[4], dengan 2 sisanya sebagai G9P[6]. Strain mirip G9P[4]/P[6] DS-1 di Indonesia, yang ditemukan antara tahun 2018 dan 2022, menunjukkan variasi genetik dari strain yang dilaporkan di negara lain antara tahun 2011 dan 2015, terutama pada gen NSP4 (yang memiliki genotipe E2, bukan genotipe E6). Galur-galur ini memiliki nenek moyang yang sama pada gen VP7 dan VP4 dengan galur yang sebelumnya dilaporkan mirip G9P[4] DS-1, tetapi menunjukkan sedikit perbedaan genetik pada gen lainnya. Hasil ini menunjukkan bahwa terdapat beberapa kejadian intra-reassortant antara galur G9P [4] asli dan galur RVA mirip DS-1 yang hidup berdampingan di Indonesia dan tempat lain. Pemantauan dinamika genotipe RVA secara terus menerus sangat penting dilakukan mengingat galur G9P[4] muncul sebagai genotipe dominan di Sidoarjo, Jawa Timur, Indonesia pada tahun 2021.
Penulis: Zayyin Dinana, Drh., M.Si
Informasi detil dari penelitian ini dapat dilihat pada artikel jurnal scopus, berjudul : Unusual G9P[4] Rotavirus Emerged After the Dynamic Changes in Rotavirus Genotypes From Equine怢ike G3 to Typical Human G1/G3 in Indonesia
Baca juga: Risiko Tuberkulosis Aktif pada Anak dengan Kontak Rumah Tangga Dewasa yang Terinfeksi TB





