Akses terhadap layanan kesehatan ibu hamil masih menjadi tantangan besar di wilayah kepulauan Indonesia. Jarak yang jauh, kondisi geografis sulit, hingga keterbatasan transportasi membuat banyak ibu melahirkan tanpa dukungan fasilitas kesehatan. Di tengah kondisi tersebut, maternity waiting homes atau rumah tunggu kelahiran hadir sebagai salah satu upaya pemerintah untuk menjembatani kesenjangan akses layanan persalinan.
Sebuah penelitian terbaru yang menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia 2023 menyoroti betapa pentingnya peran rumah tunggu kelahiran, khususnya di Provinsi Maluku攕alah satu wilayah dengan karakter kepulauan yang sangat menantang. Studi ini melibatkan 1.372 perempuan yang melahirkan dalam lima tahun terakhir, menilai pemanfaatan rumah tunggu serta faktor-faktor yang memengaruhi persalinan di fasilitas kesehatan.
Hasilnya cukup mencolok: hanya 6,8% perempuan yang memanfaatkan rumah tunggu kelahiran. Namun dampaknya sangat signifikan. Perempuan yang menggunakan rumah tunggu memiliki kemungkinan 2,7 kali lebih besar untuk melahirkan di fasilitas kesehatan dibandingkan mereka yang tidak memanfaatkannya.
Angka ini memberikan pesan kuat: rumah tunggu kelahiran bukan hanya fasilitas tambahan, tetapi instrumen penting yang dapat menyelamatkan nyawa ibu dan bayi. Tinggal sementara di lokasi yang dekat dengan rumah sakit atau puskesmas membuat ibu hamil, terutama yang tinggal jauh dari pusat layanan, mendapatkan akses cepat saat tiba waktu persalinan.
Penelitian ini juga menunjukkan adanya ketimpangan yang perlu segera diatasi. Perempuan yang tinggal di perkotaan hampir dua kali lebih mungkin melahirkan di fasilitas kesehatan dibanding yang tinggal di desa. Artinya, ibu hamil di wilayah pelosok masih menghadapi hambatan besar terkait jarak, biaya, maupun minimnya fasilitas.
Selain itu, berbagai karakteristik ibu juga memengaruhi keputusan untuk melahirkan di fasilitas kesehatan, seperti usia, tingkat pendidikan, status pekerjaan, ekonomi, kepemilikan asuransi, hingga jumlah anak. Misalnya, ibu dengan pendidikan lebih tinggi atau yang memiliki asuransi kesehatan terbukti lebih memilih persalinan di fasilitas kesehatan. Sementara ibu dengan banyak anak cenderung merasa 渂erpengalaman sehingga lebih memilih melahirkan di rumah, padahal risiko komplikasi justru meningkat.
Temuan lain yang tak kalah penting adalah bahwa kualitas rumah tunggu berpengaruh besar terhadap pemanfaatannya. Fasilitas yang nyaman, aman, bersih, tersedia makanan, serta tenaga kesehatan yang ramah dapat meningkatkan minat ibu untuk tinggal sementara menjelang persalinan.
Penelitian ini menjadi sangat penting untuk dibaca tidak hanya oleh akademisi, tetapi juga pemerintah daerah, tenaga kesehatan, dan masyarakat umum. Ia memberikan bukti kuat bahwa investasi pada rumah tunggu kelahiran bisa menjadi strategi efektif untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi, terutama di daerah kepulauan dan terpencil.
Rekomendasinya jelas: pemerintah perlu memperbanyak pembangunan rumah tunggu, memastikan fasilitasnya layak, serta meningkatkan edukasi kepada ibu hamil tentang manfaat tinggal di rumah tunggu jelang persalinan. Kolaborasi dengan organisasi non-pemerintah juga dapat mempercepat pemerataan akses layanan bagi daerah paling sulit dijangkau.
Pada akhirnya, penelitian ini mengingatkan kita bahwa keselamatan ibu dan bayi bukan hanya soal ketersediaan rumah sakit, tetapi juga soal bagaimana menjembatani jarak antara ibu hamil dan fasilitas kesehatan. Rumah tunggu kelahiran adalah salah satu jembatan yang terbukti efektif dan layak diperjuangkan keberadaannya.
Penulis : Ratna Dwi Wulandari, Fakultas Kesehatan Masyarakat
Artikel : Wulandari RD, Laksono AD, Astuti Y. The effect of maternity waiting homes utilization on institutional delivery in the islands area: evidence from Indonesia. Rural and Remote Health 2025; 24: 9796. https://doi.org/10.22605/RRH9796
Tautan artikel :





