Diabetes mellitus merupakan permasalahan dunia yang melibatkan penderita muda, dewasa dan usia lanjut. Diabetes adalah penyakit metabolik kronis yang ditandai oleh keadaan kadar gula darah tinggi yang disebabkan oleh kekurangan produksi insulin, penurunan respon insulin, atau kombinasi kedua faktor tersebut. Jumlah penderita diabetes diseluruh dunia cenderung mengalami peningkatan. Keadaan kadar gula darah yang tinggi dan tidak diobati akan menyebabkan komplikasi pembuluh darah besar maupun kecil, termasuk didalam rongga mulut, dimana penderita akan mengalami komplikasi seperti gigi berlubang, kehilangan gigi, permasalahan periodontal atau gusi, kematian gigi, kegagalan perawatan endodontik, maupun keradangan apikal. Periodontitis apikalis merupakan keadaan inflamasi pada daerah di apikal gigi. Keradangan ini menyebabkan respon inflamasi, kerusakan dan resorpsi, selain itu juga mempengaruhi faktor pertahanan sistemik, dalam hal ini mempengaruhi produksi mediator-mediator pro-inflamasi. Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah mikroorganisme, yang sering ditemukan pada kasus-kasus periodontitis, lesi periapikal, maupun kegagalan perawatan saluran akar. Bakteri memproduksi endotoksin yang dapat memicu timbulnya inflamasi dan pelepasan mediator-mediator inflamasi.
Mediator inflamasi klasik yang dilihat pada penelitian ini yaitu tumor necrosis factor alpha (TNF-a) dan interleukin-1 beta (IL-1b). Kedua mediator inflamasi ini merupakan target yang penting dalam strategi perawatan yang efektif pada kerusakan jaringan periodontal dan periapikal. Kedua mediator ini dapat secara langsung menstimulasi osteoklastogenesis, produksi RANKL, dan bekerja sinergis dengan RANKL untuk menyebabkan resorpsi tulang. Pada penyakit diabetes mellitus, peningkatan TNF-a dan IL-1b pada sirkulasi darah dapat memperparah kontrol gula darah dan hal ini berkaitan dengan reaksi inflamasi endodontik.
Diabetes mellitus meningkatkan keparahan dan risiko inflamasi rongga mulut dan sebaliknya saling mempengaruhi secara timbal balik. Infeksi lokal didalam rongga mulut juga akan mempengaruhi kondisi sistemik. Pada proses periodontitis apikalis dan kerusakan tulang pada penderita diabetes mellitus, sel-sel PMN dan makrofag merupakan sel radang utama yang berperan penting dalam mengatur respon inflamasi dan kerusakan tulang. Penelitian menggunakan metode pembukaan saluran akar gigi untuk memapar bakteri rongga mulut kedalam saluran akar sehingga menghasilkan keradangan apikal atau periodontitis apikalis. Pada penelitian ini dievaluasi vaskularisasi atau pembentukan pembuluh darah dan perubahan ekspresi TNF-a serta IL-1b makrofag pada jaringan periodontal daerah apikal tikus diabetes setelah 14 dan 28 hari.
Prosedur penelitian telah mendapatkan persetujuan dari tim laik etik kesehatan dan penggunaan hewan coba Fakultas Kedokteran Gigi 51动漫. Hewan coba tikus dikelompokkan secara random kedalam empat kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari lima ekor tikus. Pemodelan diabetes mellitus menggunakan induksi obat streptozotocin sesuai dengan metode yang telah dipublikasikan dengan sedikit modifikasi pada dosis dan larutan glukosa yang diberikan. Konfirmasi diabetes mellitus didapatkan satu minggu setelah induksi streptozotocin dengan mengukur kadar gula darah dengan alat glucometer digital yang menunjukkan angka diatas atau sama dengan 300 mg/dl.
Kadar glukosa darah masing-masing hewan coba tikus diukur dan dicatat. Induksi periodontitis apikalis dilakukan dengan pembukaan ruang pulpa gigi dengan cara pengeburan. Setelah itu gigi dibiarkan terbuka selama 7 hari untuk menginduksi keadaan periodontitis apikalis. Sebelumnya, hewan coba dilakukan anestesi injeksi secara intraperitoneal menggunakan obat ketamin 40 mg/kg dan xylazine 5 mg/kg. Daerah gigi yang akan diinduksi dilakukan isolasi dan pengolesan antiseptik, kemudian gigi molar rahang bawah tikus dibur hingga mencapai ruang pulpa, jaringan pulpa diambil kemudian dilakukan preparasi dengan jarum endodontik, irigasi dilakukan dengan salin steril kemudian dikeringkan dengan paper point steril. Setelah tujuh hari, pada kelompok perlakuan diberikan sel punca mesenkimal dari tali pusat manusia kedalam saluran akar gigi yang telah diirigasi dan dibilas dengan salin steril mengikuti protokol standar perawatan endodontik regeneratif. Hewan coba dikorbankan setelah 14 dan 28 hari. Setelah itu spesimen diproses lebih lanjut untuk pemeriksaan histologi.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa pemberian sel punca mesenkimal dari tali pusat manusia dapat meningkatkan pembentukan pembuluh darah atau vaskularisasi di daerah apikal periodontal tikus diabetes mellitus, dan menurunkan inflamasi yang ditandai oleh penurunan ekspresi TNF-a dan IL-1b. Pengamatan pemberian sel punca mesenkimal tali pusat manusia pada hari ke 14 dan 28 menunjukkan perbedaan yang signifikan pada keadaan keradangan apikal gigi kondisi diabetes mellitus. Vaskularisasi apikal pada kondisi diabetes mellitus meningkat pada 14 dan 28 hari. Pemberian sel punca mesenkimal pada gigi tikus diabetes mellitus menyebabkan ekspresi TNF-a dan IL-1b makrofag menurun pada kedua waktu pengamatan tersebut. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pemahaman tentang potensi sel punca mesenkimal dari tali pusat manusia terhadap vaskularisasi dan keradangan periapikal dan untuk dasar penelitian lebih lanjut. Penelitian ini diharapkan dapat dipakai sebagai dasar pengembangan perawatan endodontik regeneratif dan regenerasi apikal gigi, terutama pada subyek dengan diabetes mellitus.
Penulis: Eric Priyo Prasetyo, Devi Eka Juniarti, Mefina Kuntjoro, Nike Hendrijantini, Aditya Arinta Putra, Wanda Oktaria, Zellita Fresticia Rosmaida Devi Hutapea, Evelyn Tjendronegoro.
Link:
Baca juga: Metabolit Sel Punca Mesenkim Adiposa Topikal mengatur ekspresi MMP-1, MMP-9, EGF, TGF-尾





