Virus Nipah merupakan paramyxovirus zoonosis yang sangat patogen dengan tingkat kematian yang tinggi. Wabah pertama pada manusia terjadi di Malaysia sekitar tahun 1998 hingga 1999, dimana 250 orang terinfeksi dan 100 meninggal. Wabah selanjutnya terjadi di Bangladesh (2001“2015), India (2001, 2007, 2018, dan 2019), dan negara-negara lain.
Hewan mirip kelelawar yang termasuk dalam genus Pteropus diketahui sebagai reservoir alami untuk virus ini, tetapi babi (Sus scrofa) juga diduga kuat menjadi perantara sebelum menginfeksi pada manusia. Babi yang terinfeksi di Malaysia ditemukan tidak menunjukkan gejala, dan kontak dekat dengan manusia dinyatakan sebagai jalur transmisi utama. Praktik konsumsi nira kurma segar di berbagai negara Asia merupakan modus penularan zoonosis dari kelelawar ke manusia. Selain itu, penularannya dari manusia ke manusia diketahui terjadi melalui cairan tubuh atau melalui kontak dekat antara yang terinfeksi dan anggota keluarga.
Belum ada obat atau vaksin khusus untuk virus Nipah, yang merupakan Paramyxovirus baru yang menginfeksi babi dan manusia. Sel B dapat langsung mengenali epitop pada antigen tanpa bantuan sel T, pematangan kemudian terjadi dan antibodi dihasilkan yang dapat mengikat patogen untuk proses netralisasi. Keuntungan dari vaksin berbasis sel B adalah antibodi IgM dapat diproduksi dan mengalami peralihan isotipe untuk menetralkan virus. Oleh karena itu, studi kandidat vaksin ini merupakan pertama untuk manusia dapat dirancang berdasarkan jalur sel-B.
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menyelidiki pemetaan epitop sel B dari glikoprotein virus nipah dan pendekatan vaksinologi terbalik digunakan untuk membuat kandidat vaksin adalah berbasis peptida. Untuk menghasilkan epitop sel B, isolat virus nipah diekstrak dari GenBank NCBI (The National Center for Biotechnology Information) menggunakan server web IEDB; pemodelan peptida dilakukan menggunakan PEP-FOLD3; docking dilakukan menggunakan PatchDock dan FireDock; dan kloning silico dirancang menggunakan SnapGene. Berbagai peptida berhasil diidentifikasi dari glikoprotein lampiran NiV berdasarkan prediksi epitop sel B, prediksi alergenisitas, prediksi kesamaan, dan prediksi toksisitas. Desain kloning in silico dari plasma pET juga dikembangkan. Urutan peptida œRFENTTSDKGKIPSKVIKSYYGTMDIKKINEGLLD (peptida 1G) diprediksi menjadi kandidat potensial untuk vaksin virus nipah ini karena memiliki beberapa karakteristik vaksin yang baik. Ini meningkatkan respon imun sel B melalui aktivasi, diferensiasi menjadi sel plasma, pembentukan sel memori, dan dapat meningkatkan titer antibodi IgM/IgG untuk netralisasi virus. Namun, hasil penelitian ini harus diverifikasi lebih lanjut melalui analisis in vivo dan in vitro.
Penulis: Teguh Hari Sucipto, Viol Dhea Kharisma, dkk.
Judul Artikel: Molecular Simulation of B-Cell Epitope Mapping from Nipah Virus Attachment Protein to Construct Peptide-Based Vaccine Candidate: A Reverse Vaccinology Approach
Informasi detail tentang artikel ilmiah ini dapat dilihat di:





