51动漫

51动漫 Official Website

Sorbitol Dehydrogenase dan Enzim Hati Lainnya Sebelum dan Setelah Lima Hari Terapi Remdesivir pada Pasien Covid-19

Antivirus remdesivir berpotensi menyebabkan kerusakan hati akibat obat pada pasien Covid-19 seperti terlihat pada peningkatan alanine aminotransferase (ALT) dan aspartate aminotransferase (AST). Sorbitol dehydrogenase (SDH) merupakan enzim sitoplasma hati dan dapat meningkat pada kerusakan hati akut, sehingga diusulkan sebagai biomarker alternatif pada kerusakan hati. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan kadar SDH serum dan enzim hati lainnya sebelum dan sesudah 5 hari terapi remdesivir pada pasien Covid-19. Sampel yang termasuk dalam penelitian ini dipilih secara berurutan melalui vena. Sampel darah vena diambil dua kali dari setiap pasien dari 34 pasien Covid-19 dengan real-time polimerase positif, yaitu pada hari pertama masuk sebelum mendapat terapi remdesivir dan setelah hari kelima terapi remdesivir. Sampel darah vena selanjutnya diolah untuk mendapatkan serum yang akan digunakan untuk mengukur kadar SDH menggunakan metode sandwich Enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) dan enzim hati dengan Alinity-c analizer. Median SDH serum sebelum dan sesudah terapi 5 hari masing-masing adalah 0,75 U/L (SD=1,88) dan 0,85 U/L (SD=1,32).

Remdesivir adalah produk monofosforamidate, yaitu antivirus berspektrum luas yang digunakan sebagai terapi untuk Covid-19 yang disebabkan oleh virus corona-2 akut yang parah (SARS Cov-2) yang akan diubah menjadi bentuk aktifnya, remdesivir trifosfat. Remdesivir trifosfat adalah analog nukleotida yang bersaing dengan ATP dan mengganggu aktivitas RdRp virus, menghentikan replikasi RNA virus.Remdesivir sebagai analog nukleotida diduga menyebabkan kerusakan hepatosit, yang dapat memicu cedera mitokondria dengan menghambat DNA dan RNA polimerase inang. Mekanisme lain yang diduga menyebabkan kerusakan hepatosit akibat remdesivir adalah metabolisme Remdesivir terutama terjadi di hati (80%). Remdesivir dapat menghambat kerja CYP3A4 (keluarga sitokrom P450) yang berfungsi sebagai enzim biotransformasi obat sehingga menyebabkan proses eliminasi metabolit aktif remdesivir menurun. Mekanisme rentan lainnya adalah interaksi remdesivir dengan gen penghambat P-glikoprotein (P-gp).

Interaksi obat yang terjadi dapat menghambat kerja P-gp yang mengakibatkan penghabisan remdesivir. Beberapa penelitian menjelaskan efek samping yang sering ditemukan pada penggunaan remdesivir, peningkatan alanine aminotransferase (ALT) dan aspartate aminotransferase (AST) dengan kejadian sekitar 6-23% yang mengindikasikan potensi terjadinya Drug Induceed Liver Injury

Peningkatan sementara transaminase dan/atau enzim hati lainnya dapat terjadi pada pasien Covid-19 pada kisaran 10,5-53,1%. Peningkatan kadar ALT dan AST menunjukkan kerusakan hepatoseluler, sedangkan kadar bilirubin serum menunjukkan kapasitas sekresi hati. Pada Covid-19 juga dapat ditemukan cedera sel kolangiosit, terutama ditandai dengan proliferasi saluran empedu, obstruksi saluran empedu dengan peningkatan kadar GGT dan ALP Biomamarker kerusakan hati yang umum adalah AST dan ALT, namun parameter ini tidak spesifik. Kadar SDH dalam serum normal biasanya sangat rendah tetapi meningkat pada episode akut kerusakan hepatosit sehingga SDH dapat menjadi indikator spesifik kerusakan hepatosit

Nilai kadar SDH pada manusia adalah <3 U/L Selain itu, hingga saat ini belum ada penelitian yang menilai kadar SDH sebagai biomarker kerusakan hati pada pemberian antivirus khususnya remdesivir

Penulis:              

Artikel ini dapat di akses di https://www.jmchemsci.com/article_172158.html

AKSES CEPAT