Sparganosis, penyakit yang menjadi ancaman dalam lingkup kesehatan masyarakat yang serius di seluruh dunia. Namun, penelitian tentang prevalensi penyakit ini pada ular masih sangat terbatas, terutama di Indonesia. Sebuah studi terbaru mengungkapkan fakta mengejutkan tentang infeksi spargana pada ular kobra Jawa (Naja sputatrix) yang ditangkap di alam liar di Banyuwangi, Jawa Timur. Apa Itu Sparganosis? Sparganosis adalah penyakit parasitik yang disebabkan oleh larva cacing pita Spirometra, yang dikenal sebagai plerocercoid atau spargana. Infeksi pada manusia biasanya terjadi melalui konsumsi daging hewan yang terkontaminasi, termasuk ular. Larva ini dapat hidup di berbagai jaringan tubuh manusia, menyebabkan beragam gejala klinis yang bergantung pada lokasi infeksi. Misalnya, ketika larva bermigrasi di bawah kulit, mereka dapat menyebabkan benjolan yang menyakitkan. Jika larva menyerang organ dalam seperti otak atau mata, kondisi ini dapat memicu gangguan serius seperti kebutaan atau radang pada otak. Penyakit ini tergolong jarang terjadi, namun meningkatnya konsumsi daging hewan liar, seperti ular, telah memperbesar risiko infeksi. Kurangnya kesadaran masyarakat tentang cara penularan penyakit ini juga turut memperburuk situasi.
Penelitian yang dilakukan di Banyuwangi, Jawa Timur, ini bertujuan untuk menyelidiki prevalensi infeksi plerocercoid pada ular kobra Jawa liar. Sebanyak 70 ular kobra Jawa dibeli dari pedagang lokal untuk dianalisis menggunakan metode identifikasi morfologi dan molekuler. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 70 ular yang diperiksa, 60% di antaranya terinfeksi spargana. Sebanyak 231 plerocercoid ditemukan, dengan distribusi 184 larva (79,65%) di jaringan otot dan 47 larva (20,34%) di jaringan subkutan. Larva ini memiliki karakteristik fisik yang khas. Secara makroskopis, plerocercoid ini berukuran panjang 2-14 cm dan lebar 2-8 mm, dengan bentuk seperti pita yang tipis dan berwarna putih. Pemeriksaan mikroskopis menunjukkan sisi anterior berbentuk seperti mulut. Analisis molekuler dilakukan dengan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) menggunakan gen cox1 mitokondria untuk konfirmasi genus Hasilnya, lima sampel plerocercoid menunjukkan band positif pada 467 bp dan diidentifikasi positif sebagai genus Spirometra. Penemuan ini menjadi laporan pertama tentang keberadaan Spirometra pada ular kobra Jawa, yang merupakan spesies endemik Indonesia.
Penemuan ini memunculkan kekhawatiran serius terkait potensi penularan sparganosis pada manusia di Indonesia. Di Banyuwangi, ular kobra Jawa hasil tangkapan liar sering dikirim ke berbagai kota besar untuk dikonsumsi sebagai makanan, baik dalam bentuk sate ular maupun minuman tradisional yang menggunakan campuran darah ular. Konsumsi daging ular yang terinfeksi tanpa pengolahan yang tepat dapat menjadi jalur penularan utama bagi manusia. Infeksi manusia oleh Spirometra dapat menyebabkan gejala yang bervariasi tergantung pada lokasi larva parasit. Gejala umum termasuk pembengkakan, nyeri, dan iritasi pada kulit. Namun, jika larva bermigrasi ke jaringan lain seperti otak atau mata, konsekuensinya bisa jauh lebih parah. Dalam kasus yang jarang, sparganosis dapat menyebabkan ensefalitis atau meningitis, yang merupakan kondisi dengan potensi sangat fatal. Selain itu, kondisi psikologis pasien juga bisa terdampak karena gejala kronis yang menimbulkan rasa tidak nyaman dan kecemasan. Selain dari konsumsi daging ular secara langsung, manusia juga dapat terinfeksi melalui penggunaan air yang terkontaminasi larva Spirometra, seperti saat minum, mandi, atau mencuci luka. Oleh karena itu, risiko penyebaran penyakit ini tidak terbatas pada konsumsi daging ular saja.
Untuk mengurangi risiko penularan sparganosis, beberapa langkah pencegahan dapat dilakukan. Pertama, masyarakat perlu diberi pemahaman tentang risiko konsumsi daging ular yang tidak dimasak dengan benar. Edukasi publik sangat penting, terutama di daerah-daerah di mana konsumsi daging ular merupakan tradisi. Memasak dengan suhu tinggi dapat membunuh larva Spirometra dan mencegah proses penularan. Selain itu, penting untuk menghindari minum atau menggunakan air yang tidak bersih, terutama di daerah pedalaman yang memiliki akses terbatas ke air bersih. Pemerintah dan lembaga kesehatan juga perlu meningkatkan pengawasan terhadap peredaran dan konsumsi daging ular di wilayah-wilayah rawan. Regulasi yang lebih ketat terhadap penjualan hewan liar untuk konsumsi dapat membantu mengurangi risiko penularan zoonosis seperti sparganosis. Studi tambahan diperlukan untuk memahami lebih dalam tentang prevalensi dan penyebaran sparganosis pada hewan liar lainnya di Indonesia, termasuk spesies yang mungkin menjadi perantara penularan.
Studi ini merupakan laporan pertama tentang keberadaan Spirometra pada ular kobra Jawa, spesies ular endemik Indonesia. Temuan ini menjadi peringatan penting bagi masyarakat dan otoritas kesehatan untuk lebih waspada terhadap ancaman kesehatan yang sebelumnya kurang diperhatikan. Selain menjadi ancaman kesehatan masyarakat, sparganosis juga menunjukkan betapa eratnya hubungan antara manusia dan ekosistem tempat mereka hidup. Konsumsi ular liar tidak hanya meningkatkan risiko penyakit, tetapi juga berdampak pada kelestarian spesies ular itu sendiri. Oleh karena itu, penelitian seperti ini tidak hanya relevan dari perspektif medis, tetapi juga dari sudut pandang konservasi. Sparganosis mungkin masih dianggap sebagai penyakit yang diabaikan, tetapi dengan meningkatnya konsumsi daging hewan liar, risiko penyebaran penyakit ini semakin nyata. Hasil penelitian ini juga menjadi dasar penting untuk pengembangan kebijakan kesehatan masyarakat yang lebih baik, terutama dalam hal pengendalian zoonosis di Indonesia.
Penemuan infeksi sparganosis pada ular kobra Jawa di Banyuwangi menunjukkan bahwa ancaman kesehatan dari penyakit ini tidak bisa diabaikan. Konsumsi daging ular liar yang terinfeksi dapat menjadi jalur penularan utama bagi manusia, sehingga diperlukan upaya bersama untuk meningkatkan kesadaran, pengawasan, dan penelitian lebih lanjut. Dengan langkah pencegahan yang tepat, kita dapat melindungi masyarakat dari ancaman tersembunyi ini dan menjaga kesehatan publik secara lebih baik. Melalui kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan lembaga penelitian, kita dapat mengurangi risiko infeksi sparganosis dan memastikan bahwa tradisi lokal tidak lagi menjadi ancaman bagi kesehatan. Dengan demikian, tidak hanya kesehatan masyarakat yang terlindungi, tetapi juga keanekaragaman hayati Indonesia yang kaya tetap terjaga untuk generasi mendatang.
淩esearch on animal biomedical and conservation must go on!
Penulis: Aditya Yudhana, drh., M.Si.; Sumber:
Yudhana A, Kartikasari AM, Edila R, Praja RN, Hamonangan JM, Wardhana AH, Mufasirin, Koesdarto S. 2024. Molecular detection of zoonotic Spirometra (Cestoda: Diphyllobothriidae) in Javan-spitting cobra (Naja sputatrix) snakes in Indonesia. Biodiversitas 25: 4853-4859.





