NAFLD (Nonalcoholic fatty liver disease) adalah kondisi penumpukan lemak berlebihan pada sel hati yang berkaitan dengan gangguan metabolik, dengan prevalensi global 20“30%. Sarkopenia, yaitu penurunan massa dan kekuatan otot, sering terjadi pada pasien NAFLD dan berdampak pada penurunan fungsi fisik serta progresi penyakit. Kedua kondisi ini memiliki mekanisme patofisiologi serupa, seperti inflamasi sistemik dan ketidakseimbangan hormon, serta dipengaruhi faktor risiko seperti usia, IMT (Indeks Massa Tubuh), status gizi, aktivitas fisik, dan kelelahan.
Kriteria AWGS (Asian Working Group for Sarcopenia) 2019 digunakan untuk menilai sarkopenia melalui evaluasi kekuatan otot, massa otot, dan performa fisik. Karena meningkatnya kasus NAFLD, memahami komplikasi seperti sarkopenia menjadi penting untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Studi ini bertujuan mengetahui prevalensi sarkopenia pada penderita NAFLD serta menilai faktor-faktor risiko potensial, termasuk usia, jenis kelamin, IMT, massa otot, kekuatan otot tanpa lemak, pola makan, dan tingkat aktivitas fisik.
Penelitian potong lintang ini melibatkan 218 pasien dewasa yang mengunjungi poli gastroenterologi di rumah sakit PSG, Coimbatore, India, antara Januari“Juni 2024. Peserta dipilih berdasarkan hasil AST (Aspartate Transaminase) dan ALT (Alanine Transaminase) yang abnormal, menjalani ultrasonografi abdomen untuk diagnosis NAFLD, serta memenuhi kriteria konsumsi alkohol minimal, sementara mereka dengan penyakit hati lain atau komorbid berat dikeluarkan. Data sosial-demografis dikumpulkan melalui wawancara, sedangkan pengukuran kesehatan mencakup antropometri, kekuatan genggaman tangan, analisis komposisi tubuh dengan BIA (Bioimpedance analysis), pemeriksaan biokimia darah, serta penilaian asupan nutrisi menggunakan recall 24 jam. Kapasitas fungsional dinilai melalui tes berjalan 6 menit, sementara tingkat kelelahan diukur menggunakan Fatigue Assessment Scale. Risiko sarkopenia ditentukan berdasarkan rekomendasi AWGS dengan melihat massa otot, kekuatan otot, dan performa fisik. Analisis statistik dilakukan menggunakan SPSS 27.0, meliputi statistik deskriptif, uji Chi-square untuk hubungan antar-variabel, dan regresi logistik multinomial untuk melihat asosiasi antara sarkopenia dan faktor-faktor terkait.
Hasil penelitian terkait hubungan faktor risiko relatif dengan sarkopenia menunjukkan bahwa laki-laki dan orang dengan berat badan berlebih memiliki risiko lebih tinggi terkena sarkopenia. Risiko kondisi ini juga meningkat ketika massa otot, kekuatan otot, dan kemampuan fisik menurun, serta dipengaruhi oleh faktor seperti kelelahan dan perubahan nilai darah (NLR atau Neutrophil-To-Lymphocyte Ratio). Secara keseluruhan, penurunan kualitas otot dan fungsi fisik menjadi faktor utama penyebab sarkopenia, sehingga latihan fisik, kecukupan protein, dan gaya hidup sehat penting untuk pencegahan.
Penulis: Amira Farah Rasyidah, S.Gz, Dietisien dan Farapti, dr., M.Gizi
Informasi lebih lengkap dari penelitian dapat diakses pada:
Afshan, K., Dhandapani, S., Kuppusamy, B., Swaminathan, M., & Farapti, F. (2025) Nutritional Status and Sarcopenia in Patients with Non-Alcoholic Fatty Liver Disease at a Private Hospital in Coimbatore, India: Status Gizi dan Sarkopenia pada Pasien Penyakit Hati Berlemak Non-Alkohol di sebuah Rumah Sakit Swasta di Coimbatore, India. Amerta Nutrition, 9(3), 451“459.





