Pandemi COVID-19 menimbulkan kesakitan dan kematian yang sangat banyak. Kelompok yang paling menderita adalah kaum lansia, kelompok dengan kelemahan sistem imunitas, serta orang dengan komorbid. Penderita kanker adalah salah satu dari kelompok tersebut karena buruknya sistem imun terutama ketika penyakit belum teratasi. Selama pandemi, para dokter dan ahli berusaha mencari indikator yang bisa dihubungkan dengan kematian. Indikator tersebut dapat berupa gejala, tanda, maupun hasil pemeriksaan tambahan. Salah satu yang menjadi perhatian dan yang diteliti kali ini adalah eosinofil yang biasanya menjadi bagian dari pemeriksaan darah lengkap. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan hitung eosinofil dengan kematian pada anak yang menderita kanker dan penyakit COVID-19 bersamaan.
Penelitian dilakukan secara potong lintang dengan menggunakan data dari dokumen medik pada 1 Januari hingga 31 Desember 2021. Anak yang diteliti adalah yang dirawat di RSUD Dr. Soetomo Surabaya pada rentang usia 0 hingga sebelum 18 tahun yang COVID-19. Anak dengan data pemeriksaan darah yang tidak lengkap dikeluarkan dari penelitian ini.
Selama periode penelitian diperoleh 152 subyek dengan kelompok usia terbesar adalah 10 tahun ke atas (33%). Sebanyak delapan puluh delapan di antaranya adalah laki-laki. Ada 63 subyek yang mempunyai keganasan berbagai jenis, terutama leukemia akut. Dari seluruh subyek, ada seperlima yang mengalami pneumonia, yang berbeda dari beberapapenelitian lain dalam literatur. Data eosinofil menunjukkan perbedaan bermakna pada subyek yang mempunyai keganasan dan tidak, termasuk dalam hubungan dengan kematian. Semakin rendah kadar eosinofil, anak cenderung semakin parah dan semakin besar risiko mengalami kematian.
Sedikitnya ada 3 penelitian lain yang telah dipublikasi dengan hasil yang mirip. Hal ini menunjukkan peran penting eosinofil sebagai salah satu petandadalam hubungan dengan kematian pada pasien anak dengan COVID-19.
Peran eosinofil pada penyakit infeksi tidak sepenuhnya dipahami. Eosinofil biasanya mampu mengenali virus dan bertindak sebagai sel yang menyajikan mahluk kecil berbahaya kepada sel-sel sistem imun tubuh untuk kemudian dihancurkan. Masuknya virus ke dalam saluran pernapasan akan mengaktifkan eosinofil, menaikkan kemampuan degranulasi atau menghancurkan virus atau bakteri, dan mengatur sel-sel penyaji virus atau bakteri di atas. Sekalipun demikian hasil otopsi pada penderita COVID-19 yang meninggal tidak menemukan jejak eosinofil pada jaringan paru. Eosinofil yang meningkat lazim dijumpai opada kasus alergi dan rekasi terhadap obat. Pada keganasan, eosinofil biasanya juga ditemukan.
Sebagai kesimpulan, kadar eosinofil berhubungan dengan tingkat keparahan dan kematian pada anak dengan keganasan yang terkena COVID-19. Hal ini memberi pesan untuk juga melihat kadar eosinofil jika menerima penderita COVID-19 dengan komorbid keganasan.
Penulis: U.R. Ichromy, A. Cahyadi, D. Husada





