51动漫

51动漫 Official Website

Subkultur Perempuan Penggemar Drama Korea: Kesenangan, Kreativitas dan Persaudaraan

Subkultur Perempuan Penggemar Drama Korea: Kesenangan, Kreativitas dan Persaudaraan
Sumber: Tribunnews

Masuknya gelombang Korea atau dalam bahasa Korea disebut Hallyu ke Indonesia sejak awal tahun 2000an ditambah dengan penggunaan internet yang telah melekat pada kehidupan masyarakat berdampak pada tumbuhnya subkultur penggemar K-Drama di Media Sosial. Penelitian ini berfokus pada female fandom online K-Drama yang dibentuk oleh ibu rumah tangga urban di wilayah Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana media sosial sebagai ruang yang digunakan untuk membentuk female fandom online, menganalisis penggunaan teknologi digital dalam praktik kepenggemaran dan menganalisis identitas yang terbentuk dalam female fandom online yang dibangun oleh ibu rumah tangga urban.

Ibu rumah tangga urban membentuk female fandom online K-Drama didasari pada minat, hasrat mencari informasi dan berbagi informasi sebagai penggemar K-Drama. Female fandom online Drama Mama dan Mamak Ngedrakor menjadi 淪pace untuk release stress dari tuntutan perempuan dengan multi peran serta menjadi ruang bagi anggotanya bebas dari stigma penggemar K-Drama yang agresif dan mengutamakan rasa emosial yang berlebihan pada idolanya, bebas dari label yang melekat sebagai ibu rumah tangga, Di sisi lain identitas sebagai perempuan urban yang berpendidikan dibangun dengan mempertahankan nilai dan aturan bersama yang berlaku dalam subkultur. Identitas dikembangkan dalam konteks kelompok dengan menawarkan berbagai jenis sumber daya, sistem nilai dan kebutuhan kelompok untuk membangun dan menegaskan identitas. Secara bersamaan praktik-praktik kepenggemaran yang mereka lakukan termasuk pemberdayaan melalui aktifitas kolaboratif membentuk identitas subkultur ibu berdaya penggemar K-Drama. Posisi Media digital digunakan sebagai kebutuhan ibu rumah tangga urban untuk membangun subkultur secara online, mempertahankan keberadaan mereka dalam subkultur penggemar K-Drama dan kelangsungan hidup subkultur itu sendiri. Internet dianggap sebagai 渏antung yang menjalankan kehidupan female fandom online Drama Mama dan Mamak Ngedrakor. Selain itu media sosial beserta fitur-fitur yang ditawarkan oleh media digital ditambah dengan keterampilan ibu rumah tangga urban dalam mengakses, menggunakan fitur-fitur tersebut menjadi pendukung dalam praktik kepenggemaran dan pemberdayaan dalam subkultur yang mereka bangun. Dari hasil penelitian dapat dikatakan bahwa posisi media digital digunakan sebagai kebutuhan ibu rumah tangga urban untuk membangun subkultur secara online, mempertahankan keberadaan mereka dalam subkultur penggemar K-Drama dan kelangsungan hidup subkultur itu sendiri. Temuan ini menguatkan apa yang dinyatakan oleh Thornton, (1995: 246) bahwa budaya anak muda selalu berada 渄i dalam dan tergantung kepada media. Media berperan penting dalam pembangunan makna dan subkultur temuan penelitian ini juga menguatkan apa yang dinyatakan oleh Bury (2005:174-177) bahwa proses perkembangan teknologi informasi dan teknologi menjadi pondasi dibangunnya 渟pace di dunia siber dan komunitas online khusus perempuan. Selain itu juga menguatkan apa yang telah dinyatakan Booth (2017:20) dalam teori digital Fandom bahwa penggemar mempengaruhi dan dipengaruhi oleh teknologi bukan hanya sebagai alat tapi sebagai kebutuhan. Penggemar menggunakan teknologi digital bukan hanya untuk membuat, merubah, memburu, tapi juga untuk berbagi dan membuat pengalaman bersama dan hidup dalam komunitas. Dengan basis teknologi digital female fandom online Drama Mama dan Mamak Ngedrakor dibangun dan mereka hidup bersama didalamnya. sebagai perempuan yang berkarier dan sebagai perempuan berhijab. Dalam 渞uang lain ini rasa kepenggemaran mereka divalidasi melalui interaksi, penerimaan dan rasa solidaritas sebagai sesama ibu rumah tangga penggemar K-Drama.

Selain sebagai ruang resistensi, female fandom online Drama Mama dan Mamak Ngedrakor menjadi ruang untuk berdaya dengan modal subkultur yang mereka miliki melalui berbagai rubric grup, webinar dan produksi konten edukatif. Temuan penelitian ini juga menguatkan teori modal subkultural yang dinyatakan oleh Thornton (1995 :28) yang dipahami sebagai pengetahuan dan komoditas kultural yang diperoleh oleh anggota subbudaya. Hal ini meningkatkan status mereka dan membantu membedakan diri mereka dari anggota kelompok lain. Temuan penelitian ini juga menambahkan proposisi baru pada apa yang dinyatakan oleh Thornton (1995:154) bahwa perbedaan budaya anak muda tidak selalu merupakan perlawanan, karena berkaitan dengan 渢aste atau selera. Female fandom online Drama Mama dan Mamak Ngedrakor pada awalnya didasari minat yang sama dan sebagai ruang untuk menikmati praktik kepenggemaran K-Drama namun pada perjalanannya kemudian berlanjut menjadi sebuah kekuatan untuk berdaya bagi para anggota subkultur serta orang lain di luar subkultur. Melalui interaksi, kreatifitas, aksi kolaboratif dan pemberdayaan berbasis teknologi digital yang dilakukan ibu rumah tangga urban penggemar K-Drama terbangun identitas kelompok Female Fandom Online ibu berdaya penggemar K- Drama. Drama Mama dan Mamak Ngedrakor membentuk identitas sebagai emak-emak penggemar K-Drama dengan menciptakan dan menggunakan bahasa emak-emak dalam subkultur mereka, merefleksikan topik K-Drama dengan peran sehari-hari sebagai ibu rumah tangga. Di sisi lain identitas sebagai perempuan urban yang berpendidikan dibangun dengan mempertahankan nilai dan aturan bersama yang berlaku dalam subkultur. Identitas dikembangkan dalam konteks kelompok dengan menawarkan berbagai jenis sumber daya, sistem nilai dan kebutuhan kelompok untuk membangun dan menegaskan identitas. Secara bersamaan praktik-praktik kepenggemaran yang mereka lakukan termasuk pemberdayaan melalui aktifitas kolaboratif membentuk identitas subkultur ibu berdaya penggemar K-Drama. Posisi Media digital digunakan sebagai kebutuhan ibu rumah tangga urban untuk membangun subkultur secara online, mempertahankan keberadaan mereka dalam subkultur penggemar K-Drama dan kelangsungan hidup subkultur itu sendiri. Internet dianggap sebagai 渏antung yang menjalankan kehidupan female fandom online Drama Mama dan Mamak Ngedrakor. Selain itu media sosial beserta fitur-fitur yang ditawarkan oleh media digital ditambah dengan keterampilan ibu rumah tangga urban dalam mengakses, menggunakan fitur-fitur tersebut menjadi pendukung dalam praktik kepenggemaran dan pemberdayaan dalam subkultur yang mereka bangun. Dari hasil penelitian dapat dikatakan bahwa posisi media digital digunakan sebagai kebutuhan ibu rumah tangga urban untuk membangun subkultur secara online, mempertahankan keberadaan mereka dalam subkultur penggemar K-Drama dan kelangsungan hidup subkultur itu sendiri. Temuan ini menguatkan apa yang dinyatakan oleh Thornton, (1995: 246) bahwa budaya anak muda selalu berada 渄i dalam dan tergantung kepada media. Media berperan penting dalam pembangunan makna dan subkultur temuanpenelitian ini juga menguatkan apa yang dinyatakan oleh Bury (2005:174-177) bahwa proses perkembangan teknologi informasi dan teknologi menjadi pondasi dibangunnya 渟pace di dunia siber dan komunitas online khusus perempuan. Selain itu juga menguatkan apa yang telah dinyatakan Booth (2017:20) dalam teori digital Fandom bahwa penggemar mempengaruhi dan dipengaruhi oleh teknologi bukan hanya sebagai alat tapi sebagai kebutuhan. Penggemar menggunakan teknologi digital bukan hanya untuk membuat, merubah, memburu, tapi juga untuk berbagi dan membuat pengalaman bersama dan hidup dalam komunitas. Dengan basis teknologi digital female fandom online Drama Mama dan Mamak Ngedrakor dibangun dan mereka hidup bersama

Penulis: Novaria Maulina, IGAK Satrya Wibawa, Yuyun Wahyu Izzati Surya, S.Sos., MA.,PhD

Link :

AKSES CEPAT