51动漫

51动漫 Official Website

Sustainability Committee dan Kinerja ESG di Perusahaan-Perusahaan Global

sumber: merdeka.com
Ilustrasi perusahaan global (Foto: merdeka.com)

Penelitian ini mengeksplorasi hubungan antara sustainability committee (SC) dan kinerja ESG (Environmental, Social, and Governance) di perusahaan-perusahaan global yang terdaftar dalam MSCI untuk tahun 2022 dan 2023, setelah kondisi pasca-pandemi COVID-19. Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah keberadaan SC berhubungan secara signifikan dengan ESG rating, ESG controversies, dan ESG materiality.

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kuantitatif, dengan data yang diambil dari 1860 perusahaan di seluruh dunia. Data yang digunakan diambil dari laporan tahunan, situs MSCI, World Bank, dan basis data Osiris. Penelitian ini juga memperkenalkan metode analisis Least Squares Dummy Variable (LSDV) untuk menguji pengaruh SC terhadap kinerja ESG, serta berbagai tes ketahanan (robustness tests), seperti Coarsened Exact Matching (CEM), Heckman two-stage regression, dan firm-level clustering untuk memastikan konsistensi hasil.

Dalam penelitian ini, SC diukur sebagai variabel dummy, dengan 1 menunjukkan perusahaan yang memiliki SC dan 0 untuk yang tidak. Peneliti mengukur kinerja ESG menggunakan tiga indikator utama dari MSCI, yaitu ESG rating, ESG controversies, dan ESG materiality. ESG rating mengukur kualitas keseluruhan kinerja ESG perusahaan, yang dinilai oleh lembaga rating seperti MSCI dengan rentang dari AAA (terbaik) hingga CCC (terburuk). ESG controversies mengacu pada insiden negatif yang melibatkan perusahaan terkait dengan isu lingkungan, sosial, atau tata kelola, sementara ESG materiality mengukur seberapa signifikan isu-isu ESG bagi keberlanjutan operasional dan kinerja perusahaan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberadaan SC memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap ESG rating dan materialitas ESG. Hal ini mendukung hipotesis pertama (H1) yang menyatakan bahwa SC dapat meningkatkan ESG rating perusahaan. Keberadaan SC di perusahaan membawa peningkatan dalam pengelolaan isu-isu keberlanjutan dan menghasilkan pengungkapan yang lebih baik terkait dengan keberlanjutan, yang pada akhirnya dapat meningkatkan ESG rating.

Selain itu, penelitian ini menunjukkan bahwa SC memainkan peran penting dalam memprioritaskan isu-isu ESG yang material, atau yang memiliki dampak besar terhadap operasional dan pemangku kepentingan perusahaan. SC berperan dalam memastikan perusahaan menangani isu-isu ESG yang paling relevan, yang pada gilirannya dapat meningkatkan ESG materiality. Namun, hasil yang berbeda ditemukan pada pengaruh SC terhadap ESG controversies. Penelitian ini menemukan bahwa SC tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap pengurangan kontroversi ESG (H2 ditolak).

Hal ini menunjukkan bahwa meskipun SC ada, peran mereka dalam mengendalikan atau mengurangi insiden yang mencemarkan nama baik perusahaan terkait ESG masih terbatas. Ini mungkin disebabkan oleh bias dalam metode penilaian MSCI yang digunakan untuk mengukur kontroversi ESG, yang bergantung pada sumber media yang terbatas dan kebijakan editorial yang tidak sepenuhnya mencerminkan seluruh dinamika yang mempengaruhi reputasi perusahaan.

Analisis tambahan mengungkapkan bahwa pengaruh SC terhadap ESG rating dan materialitas ESG lebih kuat pada perusahaan yang menguntungkan dan di negara-negara maju. Ini mengindikasikan bahwa perusahaan dengan keuangan yang stabil memiliki lebih banyak sumber daya untuk mengalokasikan ke kebijakan keberlanjutan, yang dapat dimanfaatkan SC untuk meningkatkan kinerja ESG mereka. Di negara-negara maju, di mana regulasi ESG lebih ketat dan kesadaran tentang keberlanjutan lebih tinggi, keberadaan SC sangat penting dalam memenuhi regulasi dan meningkatkan reputasi perusahaan terkait keberlanjutan.

Sebaliknya, perusahaan di negara berkembang cenderung menghadapi kendala dalam mengalokasikan sumber daya untuk inisiatif ESG, sehingga pengaruh SC terhadap kinerja ESG di negara berkembang lebih terbatas. Penelitian ini juga menemukan bahwa struktur dewan perusahaan tidak mempengaruhi pengaruh SC terhadap kinerja ESG. Apakah perusahaan memiliki sistem dewan satu tingkat, dua tingkat, atau hibrida, SC tetap memiliki pengaruh yang serupa dalam meningkatkan ESG rating dan materialitas ESG. Meskipun demikian, perusahaan dengan struktur dewan dua tingkat, yang memisahkan fungsi pengawasan dan manajerial, mungkin memiliki lebih banyak ruang bagi SC untuk beroperasi secara independen, namun tidak ada perbedaan signifikan dalam hasil yang ditemukan.

Penelitian ini memberikan implikasi penting bagi teori tata kelola perusahaan dan teori pemangku kepentingan (stakeholder theory). Teori pemangku kepentingan menyatakan bahwa perusahaan harus bertanggung jawab tidak hanya kepada pemegang saham, tetapi juga kepada pemangku kepentingan lainnya, termasuk karyawan, pelanggan, dan masyarakat. SC berfungsi sebagai mekanisme tata kelola yang menyaring dan mengintegrasikan harapan pemangku kepentingan ke dalam kebijakan dan strategi perusahaan terkait keberlanjutan.

Melalui SC, perusahaan dapat lebih efektif mengelola risiko-risiko ESG dan memastikan bahwa inisiatif ESG sesuai dengan harapan stakeholders. Penelitian ini juga menyarankan bahwa perusahaan harus beralih dari hanya mengandalkan pengungkapan ESG menuju evaluasi kinerja berbasis hasil, yang lebih terukur dan dievaluasi oleh pihak ketiga yang independen, seperti MSCI.

Penulis: Siti Nur Aini, Iman Harymawan, Doddy Setiawan, Desi Adhariani

Informasi lebih lanjut bisa diakses melalui link berikut:

AKSES CEPAT