51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Syndecan-1 sebagai Biomarker Prediktif Cedera Paru pada Pasien Pneumonia dengan Ventilasi Mekanik: Studi Potong Lintang

Ilustrasi infeksi pneumonia (Gambar: Generated image)

1. Latar Belakang

Pneumonia merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas global. Komplikasi berat seperti Acute Lung Injury (ALI) dan Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) sering terjadi, terutama pada pasien yang memerlukan ventilasi mekanik. Namun, ventilasi mekanik juga dapat memperparah cedera paru (Ventilator-Induced Lung Injury/VILI).
 Penelitian ini berfokus pada Syndecan-1 (SDC-1)”komponen glycocalyx sel epitel alveolus”yang dapat terlepas ke sirkulasi saat terjadi kerusakan paru dan berpotensi menjadi biomarker prediktif tingkat keparahan cedera paru.

2. Tujuan Penelitian

Menilai potensi kadar SDC-1 dalam cairan bronchoalveolar lavage (BAL) sebagai biomarker yang memprediksi tingkat keparahan cedera paru pada pasien pneumonia dengan ventilasi mekanik di ICU.

3. Metodologi

  • Desain: Observasional analitik potong lintang

  • Lokasi: ICU RSUD dr. Soetomo, Surabaya (Sept“Des 2023)

  • Sampel: 30 pasien pneumonia dengan ventilasi mekanik, memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi

  • Prosedur: Pengambilan sampel BAL dalam 72 jam pertama, analisis kadar SDC-1 menggunakan metode ELISA

  • Penilaian Keparahan: Berdasarkan Lung Injury Score (LIS) yang mencakup oksigenasi, PEEP, radiologi, dan kepatuhan paru.

4. Hasil Utama

  • Sebagian besar pasien adalah laki-laki (56,7%), dengan rata-rata usia 50,8 tahun.

  • Kadar SDC-1 tinggi (mean 5,61 ng/mL) ditemukan pada pasien dengan LIS >2,5 (cedera berat), sementara kadar rendah (mean 0,59 ng/mL) pada LIS ≤2,5.

  • Analisis ROC curve (AUC = 1,000) menunjukkan kemampuan sempurna SDC-1 dalam membedakan tingkat keparahan cedera paru, dengan cut-off 1,15 ng/mL (100% sensitivitas dan spesifisitas).

  • Terdapat korelasi signifikan antara kadar SDC-1 dan LIS (p < 0,001) serta rasio PaOâ‚‚/FiOâ‚‚ (p = 0,005).

  • Tidak ada korelasi signifikan antara kadar SDC-1 dan temuan radiologis (p = 0,059).

5. Pembahasan

  • Peningkatan SDC-1 mencerminkan kerusakan endotel dan epitel alveolar akibat respon inflamasi.

  • SDC-1 berperan dalam remodeling jaringan dan fibrosis paru melalui mekanisme extracellular vesicle-mediated epithelial reprogramming.

  • Hubungan antara SDC-1 tinggi dan hipoksemia menegaskan perannya sebagai indikator disfungsi alveolar dan gangguan pertukaran gas.

  • Hasil mendukung penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa degradasi glycocalyx dan pelepasan SDC-1 berkaitan dengan keparahan kondisi seperti COVID-19 dan ARDS.

6. Kesimpulan

Kadar SDC-1 yang tinggi di BALF berhubungan kuat dengan tingkat keparahan cedera paru dan hipoksemia pada pasien pneumonia dengan ventilasi mekanik.
 Nilai ambang >1,15 ng/mL memberikan akurasi diagnostik sempurna (100% sensitivitas dan spesifisitas).
 SDC-1 direkomendasikan sebagai biomarker non-invasif potensial untuk memantau progresivitas cedera paru dan memandu terapi klinis pada pasien kritis.

7. Ucapan Terima Kasih

Penulis berterima kasih kepada Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian Masyarakat Kemendikbudristek RI, serta Departemen Pulmonologi FK 51¶¯Âþ dan RSUD dr. Soetomo atas dukungan penelitian.

Penulis: Isnin Anang Marhana, dr., Sp.P(K), FCCP

AKSES CEPAT