Tuberkulosis (TB) dan COVID-19 merupakan dua penyakit saluran napas yang menjadi perhatian khusus secara epidemiologis. Tuberkulosis adalah salah satu penyakit tertua yang tercatat dalam sejarah umat manusia sejak ribuan tahun yang lalu. Hal ini berbeda dengan COVID-19 yang muncul pada akhir tahun 2019. Tuberkulosis masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang signifikan di dunia dan kejadiannya telah diperburuk oleh pandemi COVID-19. Pandemi COVID-19 berdampak pada berbagai langkah managemen TB, mulai dari keterlambatan diagnosis, misdiagnosis karena adanya ko-infeksi sampai dengan peralihan sumber daya layanan kesehatan. Tinjauan literatur kami bertujuan untuk mengeksplorasi dampak faktor-faktor yang berkontribusi terhadap patogenisitas kedua penyakit.
Kedua patogen dapat menyebabkan respons imun inflamasi yang tidak seimbang, dan jika digabungkan, disregulasi respons imun menunjukkan peningkatan risiko keparahan kedua penyakit tersebut. Interaksi antara TB dan COVID-19 meningkatkan risiko yang signifikan bagi pasien. Pasien TB mempunyai risiko 2x lipat menderita severe COVID19. Pada sebagian besar kasus, pengobatan TB tidak berbeda pada orang dengan atau tanpa infeksi COVID-19. Pasien TB dan mereka yang berisiko TB harus divaksinasi COVID-19 jika mereka bebas demam dan gejala lainnya.
Faktor risiko yang sama pada COVID-19 dan TB antara lain umur, membutuhkan kontak erat, merokok dan komorbid. Penularan secara droplet dan target organ utama adalah paru. Perbedaan terletak pada jalur pengaktifan sistem imun. Monosit-makrofag dan sel T diaktifkan dengan jalur yang spesifik, sehingga COVID-19 mempunyai onset akut dan TB cenderung kronis. Makrofag adalah imunitas selular utama pada TB. SARS-CoV-2 menginfeksi sel inang melalui ACE2/TMPRSS2. Monosit dan makrofag mempunyai ACE2 yang rendah atau tidak sama sekali, menunjukkan adanya mekanisme alternatif bagi SARS-CoV-2 untuk masuk ke dalam makrofag. Pada SARS-CoV-2, aktivasi makrofag berkaitan dengan ‘macrophage activation syndrome’ (MAS), yang dikaitkan dengan komplikasi antara lain ARDS, dan disseminated intravascular coagulation syndrome (DICS).
IL-10 meningkat pada badai sitokin. Seperti diketahui, IL-10 menekan pematangan fagosom pada TB. Bukti klinis menunjukkan bahwa COVID-19 dapat menyebabkan reaktivasi TB melalui disfungsi sel T serta produksi sitokin proinflamasi yang tidak terkontrol. Sel T memainkan peran penting dalam pembersihan virus. Kelelahan sel T telah diamati pada beberapa jenis kanker serta infeksi kronis seperti TB.
Meskipun COVID-19 dan TB menyebar melalui kontak erat, sebenarnya cara penularannya berbeda. Mycobacterium tuberculosis dalam droplet nuclei tetap ada mengambang sebagai partikel di udara selama beberapa jam setelah pasien TB batuk, bersin, berteriak atau bernyanyi, dan orang yang menghirup partikel tersebut dapat tertular.
Batuk, bersin, dan berbicara dapat menularkan COVID-19, virus mengkontaminasi benda dan permukaan disekitar pasien, dan kontak dapat tertular COVID-19 jika menyentuhnya lalu menyentuh mata, hidung, atau mulutnya. Mencuci tangan, selain tindakan pemakaian masker, juga penting dalam pengendalian COVID-19. Pemahaman yang benar menentukan perbedaan dalam upaya pengendalian infeksi dan mitigasi kedua penyakit.
Penulis: Dr. Manik Retno Wahyunitisari, dr., M.Kes





