51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

TANTANGAN YANG TERABAIKAN DARI HIPERTENSI PERIOPERATIF: MENGUNGKAP PATOFISIOLOGI DAN MENDEFINISIKAN ULANG STRATEGI PENATALAKSANAAN

Hipertensi perioperatif merupakan tantangan yang sering diabaikan, namun hal ini memiliki dampak yang signifikan terhadap hasil pembedahan. Kondisi ini terjadi pada tahap praoperasi, intraoperatif, atau pascaoperasi dan menyerang 25% pasien jantung non-bedah dan hingga 80% pasien bedah jantung. Tekanan darah yang tidak stabil meningkatkan risiko komplikasi serius, seperti infark miokard, stroke, gagal ginjal, perdarahan, serta peningkatan lama rawat inap dan biaya pengobatan.

Patofisiologi, hipertensi perioperatif disebabkan oleh rangsangan simpatis akibat nyeri, stres, intubasi, perubahan cairan, penghentian obat antihipertensi, serta aktivasi RAAS dan disfungsi endotel. Variabilitas tekanan darah telah terbukti meningkatkan kejadian MI, AKI, delirium, dan perdarahan. Bahkan puncak SBP pasca operasi130 mmHg pada pasien bedah saraf dikaitkan dengan risiko perdarahan intrakranial yang sangat tinggi.

Faktor prediktifnya antara lain hipertensi yang tidak terkontrol, usia lanjut, obesitas, diabetes, penyakit ginjal kronis, jenis pembedahan berisiko tinggi (jantung, pembuluh darah, perut besar), durasi pembedahan yang lama, stres emosional, dan penghentian beta-blocker atau inhibitor RAAS. Kelebihan cairan, ketidakseimbangan elektrolit, dan nyeri pasca operasi juga berperan.

Penanganan hipertensi perioperatif memerlukan pendekatan yang menyeluruh. Sebelum operasi, pemeriksaan yang tepat melalui pengukuran di luar lingkungan klinis sangat penting untuk membedakan hipertensi yang disebabkan oleh tenaga medis. Tindakan operasi yang terjadwal sebaiknya ditunda jika tekanan sistolik ≥180 mmHg atau tekanan diastolik ≥110 mmHg. Penggunaan beta-blocker secara terus-menerus harus dipertahankan, sementara inhibitor RAAS umumnya dihentikan 48 jam sebelum prosedur pembedahan karena peningkatan risiko hipotensi selama operasi. CCB dan clonidine dianjurkan untuk tetap dilanjutkan.

Selama fase intraoperatif, fokus utamanya adalah menjaga SBP/MAP dalam kisaran 80“110% dari nilai normal. Obat-obatan seperti nicardipine, nitrogliserin, clevidipine, atau nitroprusside digunakan untuk mengontrol kenaikan tekanan darah yang tiba-tiba. Pengoptimalan kedalaman anestesi, pengurangan rasa sakit, dan manajemen cairan sangat krusial. Setelah operasi, obat antihipertensi, terutama beta-blocker, harus segera dilanjutkan. Inhibitor RAAS bisa diberikan kembali dalam 48 jam jika kondisi stabil. Perhatian ekstra diperlukan untuk penggunaan antihipertensi PRN yang dapat menyebabkan pengobatan berlebih dan hipotensi.

Kurangnya pedoman standar khusus untuk perioperatif mengakibatkan variasi dalam praktik dan berisiko menghasilkan hasil yang tidak optimal. Ada kebutuhan mendesak untuk pedoman berbasis bukti yang lebih terstandardisasi.

Link :

Penulis: Rendra Mahardhika Putra, dr., Sp.J.P.

AKSES CEPAT