51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Terobosan Baru Terapi Cahaya yang Mampu Atasi Bakteri Infeksi Gigi

Sumber: Aesthetic Pondok Indah Dental Clinic
Sumber: Aesthetic Pondok Indah Dental Clinic

Kesehatan rongga mulut kembali menjadi sorotan setelah sebuah penelitian terbaru menemukan metode alternatif yang menjanjikan untuk mengatasi infeksi gigi dan mulut. Selama ini, penyakit seperti periodontitis dan infeksi saluran akar menjadi masalah umum yang dialami masyarakat. Periodontitis sendiri merupakan infeksi bakteri yang menyebabkan peradangan pada jaringan pendukung gigi, seperti gusi, ligamen, sementum, hingga tulang alveolar. Infeksi ini kerap disebabkan oleh bakteri patogen yang hidup di area subgingiva, terutama bakteri gram negatif, anaerob, atau mikroaerofilik.

Salah satu bakteri yang sering ditemukan adalah Aggregatibacter actinomycetemcomitans. Bakteri ini dapat hadir hingga 36 persen pada populasi normal, terutama pada plak gigi dan poket periodontal. Ketika sistem kekebalan tubuh melemah, bakteri tersebut berpotensi menyebabkan infeksi yang cukup serius. Selain itu, dalam saluran akar gigi juga sering ditemukan bakteri gram positif Enterococcus faecalis (E. faecalis). Bakteri berbentuk oval ini dikenal sangat kuat bertahan hidup, bahkan pada kondisi ekstrem seperti lingkungan dengan pH sangat basa dan kadar garam tinggi. Lebih mengkhawatirkan lagi, E. faecalis memiliki ketahanan tinggi terhadap beberapa antibiotik, termasuk tetrasiklin dan kalsium hidroksida, sehingga membuat infeksi gigi yang disebabkannya sulit ditangani.

Penggunaan antibiotik secara sistemik telah lama menjadi lini utama dalam pengobatan periodontitis dan berbagai infeksi gigi. Namun, meningkatnya kasus resistensi antimikroba membuat para peneliti mencari alternatif yang lebih aman dan efektif. Salah satu inovasi yang tengah dikembangkan adalah Photodynamic Inactivation (PDI), sebuah metode yang memanfaatkan cahaya untuk menonaktifkan mikroorganisme.

PDI bekerja melalui aktivasi photosensitizer (PS), yaitu molekul yang peka terhadap cahaya. Ketika terpapar cahaya dengan panjang gelombang tertentu, PS menghasilkan Reactive Oxygen Species (ROS)”zat aktif yang mampu melisiskan atau menghancurkan sel bakteri. Efektivitas metode ini sangat bergantung pada kecocokan antara spektrum cahaya yang digunakan dan karakteristik serapan PS.

Dalam penelitian ini, dua jenis PS eksogen digunakan, yaitu klorofil dari tanaman hijau dan kurkumin, pigmen kuning yang terdapat pada kunyit. Klorofil diketahui mampu menyerap cahaya pada rentang panjang gelombang 400“700 nm, sedangkan kurkumin memiliki spektrum serapan pada 375“475 nm serta dikenal memiliki sifat antitumor, antiinflamasi, antivirus, hingga antijamur.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyinaran laser dioda dengan densitas energi 1,59 J/cm² secara signifikan mampu mengurangi jumlah bakteri tanpa bantuan PS. Pada bakteri E. faecalis, penyinaran tanpa PS menghasilkan angka kematian 36,7 persen. Angka ini meningkat menjadi 69,30 persen dengan penambahan klorofil, dan melonjak hingga 89,42 persen ketika kurkumin digunakan sebagai PS. Hasil serupa ditemukan pada bakteri A. actinomycetemcomitans, yaitu 35,81 persen tanpa PS, 64,39 persen dengan klorofil, dan 89,82 persen dengan kurkumin.

Temuan ini menegaskan bahwa penggunaan PS, khususnya kurkumin, sangat meningkatkan keberhasilan metode Photodynamic Inactivation. Dengan efektivitas yang jauh lebih tinggi dibandingkan klorofil maupun penyinaran tanpa PS, kurkumin dinilai sebagai kandidat kuat untuk pengembangan terapi alternatif pengganti antibiotik.

Para peneliti berharap metode berbasis cahaya ini dapat menjadi solusi masa depan untuk mengatasi infeksi gigi dan mulut, terutama di era meningkatnya resistensi antibiotik. Dengan sifatnya yang aman, efektif, dan tidak menimbulkan resistensi, PDI berpotensi menjadi terobosan penting dalam dunia kesehatan gigi dan mulut.

Penulis : Suryani Dyah Astuti

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

AKSES CEPAT