Infeksi luka pasca operasi masih menjadi tantangan besar dalam dunia medis. Peradangan berlebihan akibat infeksi dapat memicu nyeri, pembengkakan, bahkan risiko terjadinya ulkus kulit”terutama pada pasien dengan kondisi medis tertentu seperti diabetes atau gangguan imun. Mekanisme inflamasi tersebut melibatkan peningkatan oksida nitrat, pelepasan sitokin pro-inflamasi seperti IL-1β, serta radikal bebas yang memperparah kerusakan jaringan dan memperlambat proses penyembuhan. Perawatan luka yang tidak memadai dapat menyebabkan komplikasi seperti infeksi Staphylococcus aureus resisten methicillin (MRSA), peningkatan risiko medis, dan ulkus kulit. Resistensi antimikroba merupakan ancaman kesehatan global, dan prevalensi cedera di Indonesia telah meningkat.
Terapi fotobiomodulasi laser diode menjadi salah satu pendekatan medis non-invasif yang menjanjikan untuk mempercepat proses penyembuhan luka khususnya luka terbuka pasca operasi yang rentan terhadap infeksi. Dengan kemampuan merangsang regenerasi jaringan dan menurunkan peradangan, serta stimulasi proliferasi sel dan sintesis kolagen terapi ini membuka harapan baru dalam pengelolaan luka yang lebih cepat dan efisien. Terapi fotobiomodulasi menggunakan laser diode inframerah dekat (NIR)menunjukkan potensi signifikan. Terapi ini bekerja melalui paparan laser diode yang memiliki keistimewaan berkas yang monokromatis dan koheren padapanjang gelombang cahaya tertentu (biasanya antara 800“1000 nm) yang menembus jaringan hingga ke tingkat sel, terutama mitokondria. Stimulasi ini meningkatkan produksi adenosin trifosfat (ATP)”sumber energi utama sel”yang mempercepat proliferasi sel, perbaikan jaringan, serta sintesis kolagen, komponen penting dalam regenerasi kulit.
Tak hanya itu, terapi NIR juga membantu memperbaiki aliran darah lokal dan mengurangi inflamasi, menciptakan lingkungan mikro yang ideal bagi penyembuhan luka. Penelitian menunjukkan bahwa terapi ini secara signifikan menurunkan ukuran luka. Pada kelompok yang mendapat terapi NIR, terjadi penurunan panjang luka sebesar 35% dan penurunan lebar luka hingga 46%, dibandingkan dengan kelompok kontrol yang hanya menunjukkan penurunan panjang 30% dan lebar 26%. Lebih lanjut, analisis laboratorium menunjukkan adanya penurunan signifikan kadar sitokin pro-inflamasi IL-1β dan peningkatan TGF-β1, yang berperan dalam penyembuhan jaringan. Sementara ekspresi TNF-α tidak menunjukkan perbedaan bermakna, hasil ini tetap mendukung efektivitas terapi dalam mengendalikan proses inflamasi yang kompleks.
Penilaian klinis juga menunjukkan bahwa pasien yang menjalani terapi NIR mengalami pembentukan jaringan granulasi yang lebih baik, dengan kualitas luka yang menunjukkan penyembuhan optimal. Hal ini menandakan bahwa laser NIR tidak hanya mempercepat penutupan luka, tetapi juga memperbaiki struktur jaringan kulit secara fungsional dan estetis. Dengan prevalensi cedera dan luka di Indonesia yang meningkat, serta tantangan resistensi antimikroba seperti infeksi MRSA, pendekatan seperti terapi laser inframerah dapat menjadi solusi jangka panjang yang hemat biaya dan minim efek samping.
Penulis : Suryani Dyah Astuti dan Waode Erimelga
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:





