Toxoplasma gondii merupakan parasit protozoa yang dapat meneyebabkan penyakit yang disebut toksoplasmosis. Toxoplasmosis menyerang semua hewan berdarah panas, mamalia dan burung. Penyakit ini bersifat zoonosis, artinya orang dapat terinfeksi baik melalui tertelannya ookista maupun makan daging yang kurang masak yang mengandung kista jaringan. Kucing dan bangsa Felidae merupakan inang definitif yang diketahui mengeluarkan oosit ke lingkungan. Tikus liar berfungsi sebagai reservoir penting dan inang perantara bagi kelangsungan hidup dan penyebaran T. gondii. Penelitian ini bertujuan untuk memperkirakan prevalensi toksoplasmosis pada tikus liar melalui deteksi molekuler sebagai indikator pencemaran lingkungan di Surabaya.
Seratus ekor tikus dikumpulkan dari tiga area (perumahan, permukiman padat, dan pasar tradisional) dan didistribusikan ke lima zona: Barat, Timur, Tengah, Utara, dan Selatan Surabaya. Otak dari tiuku-tikus tersebut diambil dan diekstraksi menggunakan kit isolasi DNA Geneaidâ„¢ (New Taipei City, Taiwan) dan dianalisis melalui metode loop-mediated isothermal amplification (LAMP). Semua species dan jenis kelamin tikus yang tertangkap mempunyai peluang terinfeksi demikian juga tikus tangkapan dari semua area. Hasil Secara Rinci dapat dibaca pada jurnal Veterinary World Tahun 2024, Volume 17 nomor 7 halaman 1575-1580 dengan judul Molecular detection of toxoplasmosis in wild rats using loop-mediated isothermal amplification assay
Hal ini mengindikasikan bahwa lingkungan di Kota Surabaya sudah terkontaminasi oleh ookista T.gondii yang dikeluarkan bersama feses kucing yang terinfeksi. Untuk menghindari penularan pada manusia maka, di lingkungan dihindarkan dari kucing liar. Kucing harus diberikan makanan yang matang. Memasah daging sampai matang dan air minum harus dimasak sampai mendidih.
Penulis: Prof. Dr. Lucia Tri Suwanti, drh., M.P.
Link:
Baca juga: Stabilitas dan Deposisi Mikropartikel Lipid Padat Quercetin di Paru-Paru Tikus





