UNAIR NEWS – Program studi Kedokteran Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam () 51动漫 (UNAIR) Banyuwangi menyelenggarakan Studium Generale bertopik Mountaineering And Wilderness Medicine: A Practitioner’s Perspective. Kegiatan itu berlangsung pada Kamis (15/5/2025) yang bertempat di Aula Mojo FIKKIA. Mahasiswa Kedokteran FIKKIA mendapatkan wawasan tentang aspek persiapan dan penanganan medis selama dan pasca perjalanan lingkungan alam liar dan pendakian.
Persiapkan Pendakian dengan Baik
Founder dokter pendaki, dr Reyner Vallant Tembelaka SpOT MKesKlin mengatakan kejadian kecelakaan pendakian di Gunung Indonesia masih sangat tinggi. Gunung Rinjani sebagai salah satu tujuan favorit pendakian terdapat 107 kecelakaan pendakian sepanjang empat tahun terakhir. Lebih besar dari catatan kecelakaan pendakian global yang seharusnya berada dalam angka satu per sepuluh ribu kecelakaan wilderness medical. Oleh karena itu, pendaki harus mempersiapkan diri. Di antaranya yaitu proteksi, lokasi, kemahiran, dan navigasi.
淜emampuan tersebut sangat penting dalam menunjang keperluan kesehatan. Kita harus paham lokasi fasilitas kesehatan terdekat. Mahir dalam menggunakan peralatan kesehatan darurat. antihistamin, diare. Dan cara pergi ke lokasi bila terjadi kondisi darurat, katanya.
Penghentian Perdarahan
Penanganan perdarahan yang berada jauh dari fasilitas kesehatan primer, pendaki perlu memahami tata cara penghentian darah. Kondisi luka terbuka segeralah amankan penderita dan tutuplah dengan bebat tekan luka. Bila terjadi luka tusukan, jangan mencabut benda tersebut karena dapat menimbulkan pendarahan menerus. Dalam menangani perdarahan yang cukup deras dan panjang dapat menggunakan teknik tourniquet darurat.
淛angan lupa lindungi diri dari kontaminasi darah. Bila tidak ada sarung tangan dapat menggunakan kantong plastik, tuturnya.
Penanganan Hipotermia
Hipotermia merupakan respons tubuh terhadap kondisi suhu yang menurun. Tak hanya dari suhu lingkungan, kondisi luka terbuka dapat memperparah kondisi tersebut. Penderita hipotermia derajat ringan (32-35掳C) memiliki gejala menggigil dengan laju nafas yang cepat. Dalam derajat sedang (28-32掳C), kondisi menggigil akan berkurang namun muncul kondisi bicara melantur. Sedangkan dalam derajat berat (<28掳C) akan membuat penurunan kesadaran. Segeralah lakukan CPR bila terjadi kondisi henti jantung.
淪ecara ilmiah, beberapa kejadian seperti orang kesurupan atau bahkan hingga membuka baju itu juga dapat menjadi ciri dari kondisi hipotermia tingkat sedang, jelasnya.
Penulis: Azhar Burhanuddin
Editor: Khefti Al Mawalia





