51动漫

51动漫 Official Website

Uji Coba Vaksin Oral Rabies Strain Spbn Gasgas pada Anjing Liar di Provinsi Bali

Foto by Pixabay

Rabies di Indonesia pertamakali dideteksi pada kerbau di tahun 1884. Sepuluh tahun kemudian, tepatnya di tahun 1994 kasus Rabies pertamakali dilaporkan kejadiannya pada manusia. Hingga saat ini Rabies telah tersebar di 26 dari 38 provinsi yang ada. Provinsi Bali baru terdeteksi kasus Rabies pada tahun 2008 dan hingga kini menjadi daerah endemik terinfeksi.

Problem utama melonjaknya kasus Rabies di Bali adalah populasi anjing liar, anjing tidak berpemilik dan anjing yang diliarkan oleh pemiliknya, yang tidak diketahui dengan pasti jumlahnya. Sementara akibat Covid-19 vaksinasi Rabies pada anjing menjadi terbengkalai karena pemerintah lebih fokus pada upaya penanggulangan terhadap pandemi. Dengan demikian cakupan vaksinasi Rabies yang seharusnya mencapai 70% dari total populasi anjing menjadi tidak tercapai. Selama ini vaksinasi Rabies pada anjing dilakukan melalui suntikan dengan menggunakan vaksin inaktif. Kesulitan yang dialami petugas saat melaksanakan vaksinasi pada anjing liar adalah proses penangkapan. Tidak jarang target vaksinasi menjadi tidak tercapai dan kasus Rabies pada manusia terus meningkat seperti saat ini.

Vaksin oral Rabies strain SPBN GASGAS merupakan vaksin generasi ketiga (turunan strain SAD L16) yang dimodifikasi secara rekayasa genetik. Virus Rabies strain SPBN GASGAS tidak lagi memiliki pseudogene, juga mengalami penggantian tiga nukleotida dengan merubah asam amino pada posisi ke-194 dan 333 dari gen glikoprotein. Virus Rabies yang mengalami perubahan struktur genetik (penghilangan pseudogene, penyambungan gen glikoprotein dan penggantian asama mino) ini selanjutnya tidak lagi bersifat virulen pada hewan, tetapi justru dapat menimbulkan kekebalan. Untuk mempermudah pemberian pada anjing, vaksin dikemas dalam sachet dan dimasukkan ke dalam umpan dengan rasa telor. Umpan dengan rasa telor ini ternyata paling disukai oleh anjing dibanding dengan rasa lainnya. Vaksin Rabies strain SPBN GASGAS ini juga telah digunakan secara luas di negara Eropa, untuk vaksinasi pada satwa liar dan anjing dengan berbagai kondisi.

Uji coba vaksinasi oral Rabies di Bali ini dimaksudkan untuk mempermudah pelaksanaan vaksinasi. Petugas nantinya tidak perlu lagi melakukan penangkapan terhadap anjing liar tetapi cukup memberikan vaksin yang sudah dikemas dalam umpan dengan cara melemparnya di depan anjing atau meletakkan umpan pada tempat yang sering dilalui anjing. Apabila anjing memakan umpan, maka virus Rabies di dalam vaksin akan masuk ke dalam tubuh melalui mukosa mulut dan selanjutnya akan terbentuk kekebalan tubuh berupa antibodi. Uji coba dilakukan di Desa Nongan, Kabupaten Karangasem mewakili daerah pedesaan (rural 谩reas) dan Desa Banyunig, Kabipaten Buleleng mewakili daerah perkotaan (urban 谩reas). Masing-masing daerah diwakili oleh sebanyak 50 ekor anjing liar yang diberikan vaksin oral (SPBN GASGAS) melalui umpan, 25 ekor anjing diberikan vaksin oral (SPBN GASGAS) secara langsung ke dalam mulut, 25 ekor anjing diinjeksi dengan vaksin inaktif (RABISIN) secara subkutan, dan 10 ekor anjing tanpa divaksin sebagai kontrol. Sampel berupa serum anjing dikoleksi antara hari ke-27 sampai ke-32 pascavaksinasi dan diperiksa dengan uji

ELISA. Total serum yang diuji sebanyk 202 sampel (102 sampel dari Karangasem dan 100 sampel dari Buleleng).

Hasil pengujian menunjukkan, sebanyak 90,5% serum anjing kelompok perlakuan terdeteksi adanya antibodi anti-Rabies (seropositive), sedangkan kelompok kontrol tidak terdeteksi adanya antibodi (seronegative). Rincaian data menunjukkan antibodi terdeteksi pada serum anjing dari kelompok vaksin oral dalam umpan sebanyak 88,9%, kelompok vaksin oral langsung ke mulut sebanyak 94,1%, kelompok injeksi 90,9% dan kelompok kontrol 0%. Sementara itu respons positif (蝉别谤辞肠辞苍惫别谤蝉颈贸苍) anjing dari daerah Karangasem sebanyak 89,7% dan dari Buleleng sebanyak 92,3%.

Sebagai kesimpulan dari hasil uji coba ini adalah 1) penggunaan vaksin oral Rabies strain SPBN GASGAS sangat cocok diimplementasikan di lapangan sebagai strategi vaksinasi masal pada anjing liar, 2) mempermudah pelaksanaan vaksinasi Rabies pada anjing liar, 3) mempercepat pembebasan Bali dari endemis Rabies, 4) mempercepat capaian kekebalan alamiah pada anjing liar (herd immunity), dan 5) efektif dapat menekan biaya vaksinasi.

Disarikan oleh: Prof. Dr. Suwarno, drh., M.Si.

Judul artikel scopus: Immunogenicity of Oral Rabies Vaccine Strain SPBN GASGAS in local Dogs in Bali, Indonesia. Viruses 2023, 15, 1405.

Sumber:

AKSES CEPAT