51动漫

51动漫 Official Website

UNAIR Perkuat Kemampuan Komunikasi Praktik Veteriner bagi Mahasiswa FKH

Dr Arni Diana Fitri DRH MSi, Asisten Direktur Medis RSHP SKHB IPB University saat menjelaskan materi dalam kegiatan Legislative Class A
Dr Arni Diana Fitri DRH MSi, Asisten Direktur Medis RSHP SKHB IPB University saat menjelaskan materi dalam kegiatan Legislative Class A (Foto: Dok. Pribadi/Tangkapan layar Zoom Meeting)

UNAIR NEWS (FKH) 51动漫 (UNAIR) melalui Badan Legislatif Mahasiswa (BLM) FKH UNAIR menyelenggarakan Legislative Class A bertajuk Komunikasi Veteriner dengan Klien dan Kolega Sebagai Dokter Hewan Praktisi. Kegiatan berlangsung pada Minggu (26/10/2025) secara daring melalui Zoom Meeting dengan menghadirkan Asisten Direktur Medis RSHP SKHB IPB University, Dr Arni Diana Fitri DRH MSi, sebagai narasumber utama.

Hadir memberikan sambutan, Dr Kadek Rachmawati MKes Drh selaku pembina BLM FKH UNAIR. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya kemampuan komunikasi dalam profesi dokter hewan. Menurutnya, kompetensi tersebut akan berkaitan pada praktik sehari-hari, terlebih ketika dokter hewan harus berhadapan langsung dengan pemilik hewan maupun rekan sejawat. 

淪etelah saudara menyelesaikan studi, nantinya akan ada tes OSCE (Objective Structured Clinical Examination) yang meminta saudara untuk bisa melakukan komunikasi baik kepada klien standar maupun kolega. Jadi kemampuan komunikasi merupakan kompetensi penting untuk seseorang menjadi dokter hewan, ujarnya.

Dalam pemaparannya, Dr Arni menjelaskan teori komunikasi sebagai proses pertukaran informasi yang menimbulkan pemahaman dua arah. Dalam praktik veteriner, proses tersebut bukan sekadar kemampuan berbicara. Tetapi juga bagaimana dokter hewan menyampaikan ide, keputusan, dan tindakan medis secara runtut serta mudah dipahami oleh klien maupun kolega.

Menurutnya, komunikasi yang efektif penting karena nantinya dokter hewan akan berhadapan dengan berbagai karakter pemilik hewan. Mulai dari pemilik yang mudah panik, tidak peduli, hingga yang memiliki segudang pertanyaan. Setiap klien membutuhkan pola penyampaian berbeda, sehingga dokter harus mampu menyesuaikan bahasa, intonasi, serta cara menjelaskan kasus.

淜omunikasi itu ingin memengaruhi orang yang kita ajak bicara supaya mereka paham dan mau melakukan apa yang kita inginkan. Kita harus tahu dulu siapa orang yang kita ajak berkomunikasi. Tidak semua klien mengerti bahasa medis, jadi jelaskan dengan bahasa yang mereka pahami, jelasnya.

Lebih lanjut, Dr Arni menguraikan tiga prinsip dasar yang dapat menjadi pegangan dokter hewan. Pertama, menetapkan tujuan komunikasi sejak awal. Apakah ingin menjelaskan diagnosis, meminta persetujuan tindakan, atau memberikan edukasi. Kedua, menyampaikan informasi secara langsung ke inti persoalan tanpa bertele-tele agar pembicaraan lebih efisien. Dan ketiga, menyusun penjelasan dengan struktur yang sesuai kebutuhan pendengar.

淜alau narasumber atau dosen biasanya menjelaskan latar belakang panjang dulu. Tapi kalau klien ingin dengar poinnya dulu, apa yang akan dilakukan pada hewannya, baru alasan dan penjelasan lainnya, imbuhnya.

Tak hanya itu, Dr Arni juga memperkenalkan prinsip 7C sebagai pedoman komunikasi profesional di bidang kesehatan hewan, yakni clear, concise, concrete, correct, coherence, complete, dan courteous. Prinsip ini membantu dokter menyampaikan informasi dengan lebih mudah dipahami sekaligus tetap sopan. 淜alau bisa jangan bertele-tele, jadi langsung pada intinya, tapi tetap harus enak didengar, ujarnya.

Pada akhir, Dr Arni menekankan bahwa kejelasan dan konsistensi penjelasan sangat berpengaruh terhadap kepercayaan klien. Setiap tindakan bahkan injeksi sekalipun perlu dijelaskan terlebih dahulu agar pemilik hewan tidak salah paham. 淒ari komunikasi yang runtut, lengkap, dan empatik, dokter hewan bisa membangun hubungan yang kuat dengan klien sekaligus memastikan keselamatan pasien hewan di setiap proses layanan, pungkasnya.

Penulis: Fania Tiara Berliana M

Editor: Yulia Rohmawati

AKSES CEPAT