Complicated Intraabdominal Infection (cIAI) adalah infeksi organ di dalam perut yang meluas. Penyakit ini menjadi masalah serius karena menimbulkan morbiditas dan mortalitas bagi pasien. Pada studi epidemiologi, infeksi pada organ intraabdomen merupakan salah satu penyebab utama dari keseluruhan kasus infeksi sistemik. Infeksi intraabdomen menyeluruh merupakan suatu tantangan dalam bidang pembedahan. Angka mortalitas sepsis intraabdomen di negara maju dilaporkan hanya sebesar 3.6% sedangkan di negara berkembang dapat mencapai 41.7%. Data epidemiologi cIAI di RS Dr Soetomo Surabaya menyatakan selama selama periode tahun 2020-2021, terdapat 193 kasus cIAI dengan etiologi terbanyak adalah perforasi apendiks (32.64%), disusul perforasi gastroduodenal (24.87%) dan perforasi intestinal (25.91%).
Secara garis umum, terdapat banyak sekali faktor yang dapat mempengaruhi luaran pasien dengan kondisi infeksi organ intraabdomen. Aspek yang berpengaruh dapat berasal dari segi pasien dan segi operatif. Dari aspek pasien, variabel seperti jenis kelamin, usia, penyebab infeksi intraabdomen menyeluruh, penyakit komorbid, status gizi, dan status imunitas merupakan hal-hal yang harus diperhitungkan. Sedangkan dari segi operatif, durasi operasi dan time-to-treatment from onset merupakan hal yang dapat berpengaruh secara langsung dengan kondisi akhir pasien. Faktor-faktor tersebut dapat berjalan secara bersamaan dan tentunya berpotensi untuk lebih meningkatkan risiko mortalitas pada pasien dengan infeksi intraabdomen menyeluruh.
Tingginya angka kejadian infeksi intraabdomen menyeluruh menggelitik salah satu dosen dan peneliti dari Departemen Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran 51动漫 yang diwakili oleh dr. Edwin Danardono, SpB-KBD serta dr. Gigih Laksamana Nugraha yang merupakan peserta pendidikan dokter Spesialis Bedah untuk meneliti lebih jauh mengenai faktor yang berpengaruh secara signifikan terhadap luaran/ outcome pasien. Hasil penelitian tersebut berhasil dipublikasi di salah satu jurnal internasional bereputasi terindeks SCOPUS, yaitu Medical Journal of Malaysia. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa dari faktor pasien, usia diatas 65 tahun, adanya penyakit komorbid/ penyerta, dan syok sepsis saat admisi di rumah sakit berhubungan secara langsung dengan tingkat kematian pasien. Sedangkan dari faktor operatif, time-to-treatment selama lebih dari 3 hari dapat meningkatkan risiko mortalitas pada pasien. Selain variabel-variabel di atas, hasil penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa sistem skor dengan menggunakan skor SOFA. Sistem skor SOFA (Sequential Organ Failure Assessment) merupakan sistem skor yang dipakai oleh konsensus Third International Consensus Definition for Sepsis and Septic Shock (Sepsis-3) untuk melakukan diagnosis pasien sepsis. Komponen skor dihitung berdasar penilaian gagal fungsi organ respirasi, sistem koagulasi, sistem liver-bilier, kardiovaskuler, sistem saraf pusat dan sistem urinasi. Data dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa skor SOFA lebih dari 2 poin didapatkan berhubungan dengan meningkatkatnya angka mortalitas pada pasien.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu klinisi yang menangani pasien dengan infeksi intraabdomen menyeluruhdalam memperkirakan tingkat kegawatan dan menilai gambaran outcome yang dapat terjadi pada pasien. Variabel-variabel tersebut merupakan parameter yang mudah dan murah untuk digunakan dalam setting praktik kedokteran sehari-hari. Terlebih lagi, fakta bahwa kondisi infeksi intraabdomen menyeluruh merupakan suatu keadaan yang berpotensi mengancam jiwa mendorong klinisi untuk dapat menggunakan parameter prognostik yang dapat meningkatkan kewaspadaan klinisi saat berhadapan dengan kasus tersebut.
Penulis: dr. Edwin Danardono, SpB-KBD dan dr. Gigih Laksamana Nugraha
Link Jurnal: Nugraha GL, Danardono E. A retrospective study of factors affecting mortality in patients with complicated intra-abdominal infection. Med J Malaysia. 2022 Sep;77(5):612-618. PMID: 36169075.





