51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Anak Sering Batuk, Waspada Tuberkulosis!

Tuberkulosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Berdasarkan data dari WHO tahun 2020, 10 juta orang mengidap tuberkulosis dan 1,2 juta orang meninggal setiap tahunnya. Indonesia menjadi salah satu negara dengan kasus TB tertinggi di dunia dengan perkiraan kasus TB sebanyak 845.000 kasus dengan tingkat kematian mencapai 11,59%. Berdasarkan hasil statistik Profil Kesehatan Kota Surabaya tahun 2019, presentase penemuan kasus TB pada anak sebesar 10,08%. Infeksi TB lebih sering menyerang anak-anak pada usia 0-14 tahun dibandingkan dengan remaja dan dewasa. Balita menjadi kelompok rentan terinfeksi TB dikarenakan sistem kekebalan tubuh yang lebih lemah jika dibandingkan kelompok usia lainnya.

Terdapat tiga faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya TB pada anak, yaitu faktor predisposisi yang meliputi status gizi anak, riwayat pemberian vaksin BCG, dan pengetahuan orang tua. Status gizi yang tidak memadai berpengaruh terhadap kekebalan tubuh anak. Hal ini disebabkan karena produksi antibodi dan limfosit membutuhkan protein dan karbohidrat. Seorang anak yang mengalami malnutrisi berisiko 18,5 kali lebih tinggi terinfeksi TB. Kekebalan tubuh balita dapat diperoleh salah satunya dari ASI. Balita yang tidak mendapatkan ASI eksklusif berisiko 2,25 kali lebih besar terkena TB daripada yang mendapatkan ASI eksklusif. Riwayat pemberian ASI eksklusif berdampak pada status gizi anak yang mempengaruhi sistem imun anak terhadap infeksi penyakit termasuk tuberkulosis.

Faktor pendukung yang meliputi keadaan sosial ekonomi, lingkungan rumah, dan ketersediaan fasilitas kesehatan. Kondisi rumah dan lingkungan yang tidak memenuhi syarat dapat menjadi fakotr risiko sumber penularan berbagai jenis penyakit, khususnya penyakit berbasis lingkungan. Kondisi sanitasi yang tidak memenuhi syarat kesehatan dapat menjadi penyebab penyakit infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) dan TB. Selain itu suhu ruangan rumah yang tidak memenuhi syarat juga dapat menjadi faktor risiko terjadinya penularan TB. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1077/Menkes/Per/V/2011, suhu ruangan di ruang keluarga harus berkisar antara 18°C – 30°C. Bakteri Mycobacterium tuberculosis dapat tumbuh dengan optimum pada suhu 25°C – 40°C dan berkembang biak

dengan optimum pada suhu 31°C – 37°C. Suhu udara berhubungan erat dengan kelembaban udara. Kelembaban udara yang tidak memenuhi syarat, yaitu <40% atau >60% juga berpeluang 7,6 kali menjadi faktor risiko TB. Kondisi kelembaban yang tidak memenuhi syarat dapat membuat bakteri Mycobacterium tuberculosis rentan tumbuh lebih mudah di lingkungan yang memiliki kelembaban yang tinggi.

Faktor pendorong yang meliputi kebiasaan merokok, konsumsi minuman beralkohol, umur, jenis kelamin, dan kontak langsung dengan penderita TB. Kontak yang dimaksud adalah tinggal serumah, beraktivitas bersama, atau menghabiskan waktu dalam satu ruangan dengan penderita TBC. Mycobacterium tuberculosis mudah menyebar melalui udara sehingga peluang seseorang terpapar bakteri TB di dalam lingkungan rumah pasien BTA positif lebih besar dan peluang anak terinfeksi juga lebih besar. Tingkat penularan TB di dalam keluarga relatif tinggi. Rata-rata seorang pasien TB dapat menulari dua sampai tiga orang di dalam rumah. Semakin banyak penderita TB di dalam satu rumah, maka frekuensi dan intensitas kontak dengan bakteri Mycobacterium tuberculosis akan semakin besar.

Penulis: Alifa Salsabila Azzahrain, Anisa Nur Afifah, Laura Navika Yamani

Jurnal: DETECTION OF TUBERCULOSIS IN TODDLERS AND ITS RISK FACTOR AT EAST PERAK HEALTH CENTER SURABAYA

AKSES CEPAT