Resiliensi adalah kemampuan seseorang untuk bertahan dan beradaptasi dengan kondisi yang tidak menguntungkan atau menyulitkan. Resiliensi merupakan kemampuan yang penting dimiliki oleh tiap individu untuk dapat bangkit setelah mengatasi berbagai kesulitan dan tekanan hidup. Tenaga kesehatan terutama dokter dan apoteker merupakan individu yang kerap kali berada pada posisi sulit dan dilematis untuk memutuskan dan mengambil tindakan secara profesional. Kondisi ini mengharuskan dokter dan apoteker memiliki karakter yang disebut dengan resiliensi profesional.
Resiliensi profesional biasanya dibutuhkan dalam situasi ketika tuntutan pekerjaan begitu tinggi dibarengi dengan stres yang disebabkan oleh lingkungan. Dalam kondisi tersebut, tenaga kesehatan harus mengambil keputusan terbaik yang dapat diterima semua pihak. Resiliensi profesional mencerminkan beragam karakter individu antara lain percaya diri (confidence), mampu beradaptasi (adaptability), inteligensi emosional (emotional intelligence), optimisme, bersikap positif (playfulness), dan penuh kasih sayang (compassion).
Meskipun karakter resiliensi profesional mutlak diperlukan dokter dan apoteker, sayangnya kajian mengenai prediktor (faktor-faktor penyebab) resiliensi ini belum banyak dilakukan. Oleh karena itu, peneliti dari Fakultas Farmasi 51动漫 bersama dengan tim peneliti lain dari Malaysia, Brunei Darussalam dan Nigeria menggali lebih dalam terkait perbedaan (uji beda), hubungan (uji asosiasi) dan keeratan hubungan (uji korelasi) prediktor resiliensi dokter dan apoteker.
Sebanyak 251 responden terdiri atas 164 dokter dan 87 apoteker terlibat sebagai responden dalam penelitian ini. Responden mengisi 16 item pertanyaan kuesioner meliputi data karakteristik responden (umur, jenis kelamin, suku, tingkat pendidikan dan lama praktik) dan Skala Resiliensi Connor-Davidson (Connor Davidson Resilience Scale, CDRS).
Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan antara laki-laki dan perempuan, pun demikian perbedaan antara tingkat usia dalam menghadapi stress dan mengembangkan karakter resiliensi. Secara umum laki-laki dan golongan usia lebih tua menghasilkan nilai CDRS yang lebih baik. Terdapat hubungan antara seluruh variabel karakteristik responden dengan nilai CDRS, kecuali pada tingkat pendidikan. Hal ini menunjukkan tingkat pendidikan tidak memengaruhi karakter resiliensi seseorang. Ketika dilakukan uji keeratan hubungan (uji korelasi) didapatkan hasil bahwa usia dan lama praktik memilki hubungan positif dengan kenaikan nilai CDRS. Hal ini berarti usia yang lebih tua atau pengalaman praktik yang lebih lama menghasilkan nilai CDRS yang lebih baik atau individu menjadi lebih adaptif dan tahan banting.
Penelitian ini menunjukkan bahwa jenis kelamin, usia dan lama pengalaman praktik menjadi prediktor yang potensial dalam menentukan karakter resiliensi seorang tenaga kesehatan khususnya dokter dan apoteker.
Oleh:
apt. Andi Hermansyah, PhD
Fakultas Farmasi 51动漫
Artikel penelitian ini dapat diakses di





