Sejatinya perusahaan selalu membutuhkan tambahan modal untuk menunjang aktivitas operasionalnya. Seftianne dan Handayani (2011) menjelaskan bahwa sumber pendanaan yang digunakan untuk membiayai aktivitas operasional perusahaan ditentukan oleh indikator penting yang disebut dengan struktur modal. Struktur modal adalah salah satu keputusan strategis yang diperoleh perusahaan untuk mendukung tujuan strategis mereka (tujuan pasar, tujuan inovasi, dan tujuan produktivitas), sedangkan melalui alokasi struktur modal yang efisien, tujuan strategis perusahaan dapat dicapai dan pada akhirnya mempengaruhi nilai atau kinerja perusahaan (Chua et al., 2020). Pendanaan perusahaan dapat menggunakan equity, debt, maupun gabungan dari keduanya sesuai dengan kebutuhan, sebab masing-masing keputusan sumber pendanaan tersebut memiliki konsekuensi dan karakteristik yang berbeda terhadap perusahaan (Barus et al., 2022).
Pesaing utama teori trade-off, dikenal sebagai teori “pecking-order” yang berpendapat bahwa perusahaan memilih pilihan berurutan atas sumber pendanaan, dimana mereka menahan diri dari pembiayaan eksternal jika mereka memiliki pembiayaan internal yang tersedia dan menahan diri dari pembiayaan ekuitas baru ketika mereka dapat masuk untuk pembiayaan utang baru. Dalam model pecking order, penawaran ekuitas biasanya dianggap sebagai pilihan terakhir yang sangat mahal. Teori ini didasarkan pada premis bahwa manajer menghindari penerbitan sekuritas, terutama ekuitas, ketika perusahaan undervalued dan bahkan jika saham perusahaan saat ini dinilai secara wajar, reaksi pasar terhadap pengumuman penawaran ekuitas baru diperkirakan akan menyebabkan harga saham perusahaan turun di bawah nilai wajar.
Penentuan keputusan pendanaan perusahaan tidak terlepas dari peran para eksekutif. Dua eksekutif puncak yang memainkan peran paling penting dalam pengambilan keputusan perusahaan adalah Chief Executive Officer (CEO) dan Chief Financial Officer (CFO). CEO adalah manajer senior yang bertanggung jawab untuk mengawasi kegiatan seluruh perusahaan. Sedangkan CFO adalah manajer senior yang bertanggung jawab untuk mengawasi kegiatan keuangan perusahaan. Selain itu, CEO sering membuat keputusan tentang investasi dan pembiayaan besar dalam perusahaan, yang memerlukan persetujuan dewan (Ganor, 2012). Dalam hal ini, CFO berkontribusi pada pertimbangan CEO yang dapat memengaruhi keputusan. Studi akademis melaporkan bahwa CFO sering mengumpulkan data yang diperlukan, melakukan analisis keuangan dan memberikan rekomendasi kepada CEO dalam membuat keputusan (Harymawan et al., 2020).
Dalam membuat keputusan para eksekutif puncak tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor seperti faktor yang dapat diamati secara langsung dan faktor yang tidak dapat diamati secara langsung. Faktor yang dapat diamati secara langsung disebut faktor demografi, sedangkan faktor yang tidak dapat diamati secara langsung disebut faktor psikologis. Upper echelon theory hadir dengan karakteristik demografi yang dapat diamati (seperti jenis kelamin, pendidikan, usia, dan kepemilikan) sebagai proxy untuk mewakili perbedaan psikologis (Wulandari et al., 2021). Studi sebelumnya mengungkapkan bahwa pendidikan eksekutif dapat memengaruhi berbagai keputusan strategis perusahaan. Misalnya, pengeluaran penelitian dan pengembangan (Barker & Mueller, 2002), belanja modal, pembayaran dividen (Bertrand & Schoar, 2003), pengungkapan informasi lingkungan (Lewis et al., 2014), keputusan akuisisi, pertumbuhan perusahaan (J. R. Graham et al., 2013), diversifikasi, sensitivitas arus kas investasi (Ben Mohamed et al., 2014), volatilitas pendapatan perusahaan (Zhou & Wang, 2014), aktivitas pengambilan risiko (Farag & Mallin, 2018), kinerja operasi jangka pendek (Bhagat et al., 2012), kinerja saat ini (Gottesman & Morey, 2010) dan kinerja masa depan (Wang et al., 2016).
Chakrabarty et al. (2017) menyatakan bahwa 渒urangnya perhatian terhadap CFO dalam literatur akademis akan sangat mengganggu ketika menyangkut keputusan keuangan perusahaan, yang merupakan area di mana CFO memiliki pengaruh yang substansial. Berkembangnya literatur tentang peran CFO menunjukkan bahwa di beberapa area, karakteristik CFO memegang peran penting dalam menjelaskan kebijakan dan kinerja perusahaan daripada CEO, seperti pada struktur modal perusahaan (Bertrand & Schoar, 2003; Frank & Goyal, 2011). Secara khusus, leverage utang dan proporsi utang jangka panjang terhadap total utang lebih tinggi di perusahaan dengan CFO yang terlalu percaya diri.
Berdasarkan survei yang dilakukan oleh J. Graham & Harvey (2002) tujuan utama CFO dalam menetapkan kebijakan utang bukanlah untuk meminimalkan biaya modal rata-rata tertimbang perusahaan, melainkan untuk mempertahankan “fleksibilitas keuangan”攖ujuan yang cenderung dikaitkan dengan mempertahankan peringkat kredit yang ditargetkan. Fleksibilitas keuangan mengarah pada tingkat kapasitas dan kecepatan perusahaan untuk dapat memobilisasi sumber daya keuangannya atau mengambil tindakan secara perventif reaktif, dan eksploitatif agar dapat memaksimalkan nilai perusahaan (Byoun, 2008). Konsisten dengan penekanan pada fleksibilitas, sebagian besar CFO juga menyatakan keengganan yang cukup besar untuk menerbitkan ekuitas biasa kecuali harga saham mereka berada pada tingkat “tinggi”, terutama karena kekhawatiran mereka tentang dilusi EPS (J. Graham & Harvey, 2002). Sehingga penggunaan utang jangka panjang menjadi alternative yang dipilih oleh CFO guna mempertahankan peringkat kredit perusahaan.
Penulis: Muhammad Madyan, Iman Harymawan, Adib Minanurohman, Wulan Rahmadani Setiawan
Jurnal:





