Dalam beberapa tahun terakhir, usaha milik komunitas atau community-based enterprises (CBEs) semakin dikenal sebagai cara efektif untuk membangun kemandirian ekonomi di tingkat lokal. Di Indonesia, bentuk paling nyata dari CBE adalah Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Namun, di balik banyak kisah sukses, tak sedikit pula yang gagal bertahan. Apa yang membedakan BUMDes yang berhasil dari yang terpuruk?
Melalui riset mendalam terhadap lima BUMDes unggulan di berbagai provinsi, kami menemukan bahwa kunci keberhasilan bukan hanya pada ide bisnisnya, melainkan pada bagaimana model bisnisnya dirancang agar sesuai dengan nilai, kebutuhan, dan karakter masyarakat setempat. Penelitian kami memperkenalkan konsep Community-Based Business Model (CBBM), yakni model bisnis yang dirancang secara khusus untuk usaha milik komunitas. Berbeda dengan model bisnis konvensional yang berorientasi murni pada profit, CBBM menggabungkan tiga dimensi nilai: ekonomi, sosial, dan lingkungan. Dalam CBBM, nilai ekonomi memang penting, tetapi tidak boleh mengorbankan nilai sosial dan budaya. Dengan begitu, keuntungan finansial dibangun seiring dengan peningkatan kapasitas dan kesejahteraan masyarakat.
Empat Pilar Keberhasilan
Dari hasil penelitian, kmi menemukan empat pilar utama yang membentuk CBBM yang sukses: (i) Penciptaan Nilai (Value Creation). CBEs yang berhasil memanfaatkan sumber daya lokal攕eperti alam, tradisi, dan kearifan budaya攗ntuk menciptakan produk dan jasa yang unik. Partisipasi aktif warga menjadi kunci, karena mereka bukan sekadar pekerja, tetapi juga pencipta nilai; (ii) Proposisi Nilai (Value Proposition). Usaha komunitas yang unggul selalu menempatkan masyarakat lokal sebagai prioritas utama. Harga, produk, dan layanan disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan warga, bahkan sering diberi potongan khusus bagi anggota komunitas; (iii) Penangkapan Nilai (Value Capture). Keuntungan tidak hanya dinikmati pengelola, tetapi juga dibagikan kembali kepada warga melalui program sosial, pelatihan, dan pembangunan fasilitas desa; dan (iv) Arsitektur Organisasi (Value Architecture). Struktur organisasi yang fleksibel攎enggabungkan sistem formal dan informal攎embuat BUMDes lebih adaptif. Semangat gotong royong dan kepercayaan sosial menjadi fondasi utama.
Dari Ide ke Aksi
Kami juga memetakan tahapan pembentukan CBBM, mulai dari menetapkan visi bersama, menggagas ide bisnis, melakukan uji coba (experimentation), hingga tahap perluasan (scaling up). Setiap tahap menghadirkan tantangan tersendiri攄ari keterbatasan sumber daya hingga menjaga semangat kebersamaan saat bisnis mulai tumbuh besar. Temuan penting dari penelitian ini adalah bahwa kegagalan banyak BUMDes bukan karena kurangnya ide atau dana, tetapi karena desain model bisnis yang tidak selaras dengan konteks sosial dan budaya desa. Dengan menata ulang model bisnis berbasis komunitas攜ang menempatkan masyarakat sebagai aktor utama, bukan sekadar penerima manfaat攗saha desa dapat bertransformasi menjadi motor pembangunan berkelanjutan.
Sumber: Sabaruddin L. O., Supratiwi, W. and Linsley P. (2025). From failure to success: rethinking business model design for community-based enterprises. Journal of Enterprising Communities: People and Places in the Global Economy, Vol. ahead-of-print.
Penulis: Oleh: La Ode Sabaruddin, Wiwik Supratiwi, dan Philip Linsley





