Kolestasis merupakan penyebab penting morbiditas dan mortalitas pada bayi dan anak. Kolestasis didefinisikan sebagai penurunan aliran empedu karena kegagalan sekresi oleh sel hati atau sumbatan aliran empedu ke saluran empedu di dalam atau di luar hati. Gejala kolestasis adalah penyakit kuning, tinja pucat, urin gelap, hati membesar, dan kadang-kadang splenomegali.
Kejadian kolestasis pada masa bayi berhubungan dengan kelainan kongenital atau infeksi virus. Bayi kolestasis dengan infeksi virus CMV akan menerima pengobatan antivirus atau imunomodulator. Bayi penderita kolestasis yang tidak mendapatkan penanganan yang tepat, biasanya kondisinya akan semakin parah dan menyebabkan kematian. Berdasarkan hal tersebut, diagnosis cepat infeksi virus CMV akan berguna untuk menurunkan angka kematian akibat kolestasis.
Diagnosis kolestasis dilakukan berdasarkan pemeriksaan kadar bilirubin terkonjugasi. Ketidakmampuan untuk mendeteksi dan memantau perkembangan kerusakan hati akan mengganggu pengelolaan penyakit kolestasis. Akumulasi asam empedu berdampak pada hepatotoksisitas sehingga menjadi penyebab yang mendasari terjadinya kelainan pada hati. Jika kondisi kolestasis tidak terdeteksi secara dini atau tidak mendapat terapi yang tepat, akan menyebabkan kelainan serius yang berujung pada kematian.
Pada bayi yang terinfeksi virus CMV, virus diekskresikan ke dalam urin. Urin merupakan cairan tubuh yang mudah didapat dan non-invasif pada bayi baru lahir sehingga bisa digunakan sebagai sampel yang mudah didapatkan untuk deteksi virus CMV pada bayi kolestasis.
Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi keberadaan virus CMV dalam urin dengan teknik PCR pada bayi dengan kolestasis.
Hasil pemeriksaaan deteksi virus CMV di urin bayi dengan kolestasis menunjukkan bahwa virus CMV ditemukan sangat tinggi yaitu sekitar 87,2% dari bayi kolestasis. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa virus CMV juga ditemukan tinggi sekitar 74% pada sampel darah dari bayi dengan kolestasis. Hal ini menunjukkan bahwa infeksi virus CMV adalah infeksi paling umum yang menyebabkan kolestasis pada bayi, seperti dilaporkan dalam penelitian lain yang menunjukkan infeksi CMV dapat berperan dalam patogenesis dan perkembangan atresia bilier ekstrahepatik. Berdasarkan data tersebut, sekitar 87,2% bayi dengan kolestasis dapat diberikan terapi antiviral dengan tambahan imunomodulator untuk mempercepat penyembuhan dari kondisi kuning dan untuk mengurangi risiko kematian.
Hal ini menunjukkan bahwa untuk mendeteksi infeksi virus CMV dapat dilakukan dengan teknik PCR dari sampel urin yang mudah didapat dan tidak menimbulkan traumatis pada bayi. Berdasarkan hasil penelitian ini, kami simpulkan bahwa sebagian besar bayi dengan kondisi kolestasis menunjukkan terinfeksi virus CMV sehingga bisa dilakukan penanganan terapi yang tepat dan akurat.
Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pasien yang telah berpartisipasi dalam penelitian ini dan kepada Pemerintah Republik Indonesia, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi khususnya Fakultas Kedokteran 51动漫 yang telah memberikan dukungan dana pada pelaksanaan penelitian ini.
Penulis: Gondo Mastutik
Link Jurnal:





